4/27/2009

Sebuah catatan atas perkataan ngawur dari Hasyim Muzadi dan Gus Sholah tentang Fenomena Ponari

Sebuah catatan atas perkataan ngawur dari Hasyim Muzadi dan Gus Sholah tentang Fenomena Ponari

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty

Fenomena Ponari benar-benar membuat gempar bangsa ini, tak pelak semua elemenpun memperlihatkan reaksinya, orang yang tidak perduli atau melalaikan agamanya orang yang paling pertama terseret ke kelamnya kesyirikan di fenomena Ponari, sebagian para pebisnis dan ahli dunia orang yang terdepan meraup keuntungan di fenomena Ponari walaupun aqidah ummat menjadi taruhan dan elemen yang lainya dari bangsa inipun berkomentar sesuai dengan latar belakang kehidupan dan pendidikan masing-masing tak ketinggalan seorang yang ditokohkan Hasyim Muzadi dan Gus Sholeh pun berkomentar dengan komentar ngawur tentang fenomena Ponari, tulisan sederhana ini sebuah nasehat dan upaya membendung dampak dari perkataan mereka berdua dan perkataan yang semisal mereka, karena tidak menutup kemungkinan ada yang mengambil perkataan mereka berdua atau yang semisal dengan perkataan mereka, dan menyakini sebagai kebenaran dan mengamalkannya.

Pertama : Perkataan Hasyim Muzadi dan Gus Sholah sesuatu yang tidak aneh jika keluar dari lisan mereka
Pengetahuan tentang latar belakang kehidupan dan pendidikan mereka berdua, berupa pengetahuan sejauh mana mereka berdua mengetahui tentang permasalahan aqidah yang benar, pengetahuan tentang makna Laa Ilaha Illallah serta makna tauhid dan syirik maka tidaklah terlalu aneh kalau keluar komentar seperti itu dari mereka. Berdasarkan hal diatas dan apa yang keluar dari lisan mereka tentang fenomena Ponari maka saya tidak ragu untuk mengatakan hal ini di latarbelakangi dari ketidaktahuan mereka tentang makna tauhid dan Laa Ilaha Ilallah dengan benar yang berakibat kurang mengetahui hakekat dari perbuatan syirik, karena ketidaktahuan mereka tentang makna tauhid yang benar berimbas kepada pemahaman yang kurang tentang hakikat dari kesyirikan. Bagi mereka atau yang semisal mereka, tauhid hanyalah tauhid Rububiyah, yaitu menyakini Allah menciptakan langit dan bumi, hanya Allahlah yang menyembuhkan dan lain – lain dari makna tauhid Rububiyah, maka bagi mereka syirik hanyalah syirik dalam Rububiyah, syirik bagi mereka hanyalah jika menyakini ada pencipata selain Allah atau keyakinan Ponari dan batunyalah yang dapat menyembuhkan selain Allah. Jelas keyakinan ini keyakinan syirik, tapi syirik tidak terbatas pada syirik Rububiyah semata ada juga syirik pada Uluhiyah bahkan ini yang banyak terjadi.

Kedua : Hasyim Muzadi dan Gus Sholah antara pemahaman yang benar tentang tauhid dan syirik
Penting bagi saya untuk menjelaskan pengertian dan makna serta hakekat dari tauhid dan syirik dengan pemahaman yang benar, untuk memudahkan melajutkan pembahasan selanjutnya.

Pengertian Tauhid :
Secara Bahasa : Berasal dari kata (wahada - yuwahidu tauhidan, ja’ala syai’i wahidan) maknanya menjadikan sesuatu menjadi satu (Taisirul ‘Azizul Hamid, Syaikh Sulaiman Alu Syaikh)
Secara Syar’i : Mentauhidkan Allah dengan apa-apa yang menjadikan kekhususan bagi Allah, didalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya dan Asma wa Sifat-Nya ( Qaulul Mufid Syarh Kitabut Tauhid , Syaikh Ibnu Utsaimin : 11 dan Syarh Kasyfu Subhat, Syaikh Ibnu Utsaimin : 21 )

Pembagian Tauhid :
Para ulama Ahlus Sunnah membagi tauhid menjadi tiga. Berkata Syaikh Ibnu Baaz Rahimahullah : ” Bahwa Tauhid yang dengannya Allah mengutus Rasul dan menurunkan dengannya kitab dibagi menjadi 3 macam, menurut penelitian nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah dan menurut kenyataan orang-orang yang dibebani syariat….yang pertama tauhid rububiyah, yang kedua tauhid ibadah dan dinamakan juga tauhid uluhiyyah dan yang ketiga tauhid asma’ wa sifat “ (Ta’liq Aqidah Thahawiyah, Syaikh Ibnu baaz dengan diringkas . hal : 45)
Tauhid Rububiyah adalah : ” Mentauhidkan Allah di dalam perbuatannya yaitu mengilmui dan meyakini bahwa Allah esa dalam penciptaan, memberi rejeki dan pengaturan” ( Silahkan lihat ta’liq Aqidah Thahawiyah, Syaikh Ibnu baaz dan Qoulu Mufied fi adilatit tauhid serta Jamiul Farid Syarah kitabut tauhid )
Dalilnya firman Allah ta’ala, “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2) “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)
Macam yang pertama ini diakui dan diyakini oleh orang-oang Musyrik zaman dahulu dan tidak menyebabkan masuknya ke dalam Islam. Dalilnya adalah firman Allah, “ Katakanlah: ” Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31)
Sangat jelas sekali ayat ini menjelaskan orang musyrik zaman dahulu mengakui bahwa Allah sebagai penciptanya tapi tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Sedikit sekali orang yang mengingkari Tauhid Rububiyah ini sebagaimana berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al-Wushoby : ” Tidak ada yang mengingkari macam tauhid ini seorangpun kecuali fir’aun, Namrud dan Dahriyah pada zaman dahulu, komunis pada zaman sekarang. Dan keingkarannya terhitung kafir mulhid (Qoulu Mufied fi adilatit tauhid hal : 79)

Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah di dalam perbuatan hamba, yaitu dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata tidak ada sekutu baginya dengan seluruh macam-macam ibadah seperti cinta, khouf (takut), roja’, tawakkal , doa dan selainnya dari macam-macam ibadah (Lihat Qoulu Mufied fi adilatit tauhid dan jamiul Farid Syarah kitabut tauhid)
Sebagimana firman Allah, “Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)
Tauhid uluhiyah inilah yang diingkari oleh orang musyrik zaman dahulu, dalilnya adalah sebagaimana firman Allah ketika nabi berkata kepada kaumnya : ”ucapankanlah kalian ‘Laa ilaha illallah’ Supaya kalian beruntung, mereka berkata, ” Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi sesembahan yang satu saja, sesungguhnya ini benar-benar sesuatu hal yang sangat mengherankan “ (QS. Shaad : 5)

Tauhid asma wa sifat yaitu beriman dengan apa-apa yang Allah sifatkan untuk dirinya di dalam kitabnya dan apa yang Allah disifati dengannya oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dari nama-namaNya yang husna dan sifatnya yang ulya. Menetapkan sebagaimana adanya, tanpa takhrif (menyelewengkan makna dari sifat Allah ke makna yang batil), tanpa ta’til * meniadakan makna yang benar) tanpa takyif (menanyakan bagaimana hakikat sifat Allah) tanpa tamsil (menyamakan sifat Allah dengan makhluknya )
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. As-Syura’ : 11)

Pengertian Syirik : Menyamakan selain Allah dengan Allah didalam hal - hal yang merupakan kekhususan bagi Allah. (Tanbihaat Al Mutahatimaat Al Ma’rifat ‘ala Kulli Muslimin wa Muslimat, Ibrahim Bin Syaikh Sholih Al – Qar’awi Darus Shamiy, hal : 37 )

Syirik dibagi dua :
Pertama : Syirik Akbar (besar) yaitu yang mengeluarkan pelakunya dari islam dan mengekalkan pelakunya didalam neraka jika mati belum bertaubat darinya.
Kedua : Syirik Asghor (kecil) yaitu yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islam tetapi mengurangi tauhid dan sarana yang dapat menjerumuskan kesyirik Akbar. (Aqidah Tauhid, Syaikh Sholeh Al Fauzan : 77, dengan diringkas )

Syirik bisa terjadi dalam Rububiyah, uluhiyah dan Asma Wa Sifat
Pertama : Syirik dalam Rububiyah : Yang demikian ini seperti keyakinan seseorang ada selain Allah sebagai pencipta, atau pemberi rezeki atau menghidupkan dan mematikan dan yang selainnya dari sifat Rububiyah Allah

Kedua : Syirik pada Uluhiyah : Yang demikian itu seperti seseorang memalingkan ibadah kepada selain Allah siapapun orangnya, seperti menyembelih, nadzar, doa sumpah dan selainnya

Ketiga : Syirik pada Asma Wa Sifat yang demikian itu seperti seseorang mengsifati sebagian dari makhluq Allah dengan sebagian sifat yang merupakan kekhususan bagi Allah Ta’ala seperti ilmu ghoib (mensifati selain Allah mengetahui ilmu ghoib-penj) dan selainnya dari sifat yang khusus bagi Rabb kita Subhanah ( Qaulul Mufid Fi ‘Adilatit Tauhid, Syaikh Muhammad Al-Whusoby : 95 )

Syirik bisa terjadi pada keyakinan, ucapan dan perbuatan
Perlu diketahui bahwasannya syirik bisa terjadi pada keyakinan semata tanpa dibarengi dengan ucapan atau perbuatan, begitu juga bisa terjadi pada ucapan semata tanpa dibarengi dengan keyakinan atau perbuatan, begitu juga bisa terjadi pada perbuatan semata tanpa dibarengi dengan ucapan atau keyakinan.

Pertama : Syirik terjadi pada keyakinan
Berkata Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : ” Barangsiapa yang beranggapan boleh beribadah bersama Allah dan beribadah kepada yang lainnya dari malaikat atau nabi atau pohon atau jin atau yang lainnya maka dia telah kafir, apabila dia ucapkan dengan lisannya maka dia telah kafir dengan ucapan dan sekaligus keyakinanya dan apabila dia melakukan hal itu maka dia telah kafir dengan perkataan, perbuatan dan keyakinan sekaligus. Semoga Allah menyelamatkan kita dari hal itu ( Al Qawadihu Fil Aqidah syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz, Wasailu Salamatu Minha : 18 )

Kedua : Syirik dalam ucapan
Seperti doa kepada selain Allah, sebagaimana dalam sebuah hadist Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasululloh shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ” Doa adalah ibadah.” (HR. Bukhari di dalam adabul mufrod dishahihkan Syaikh Muqbil di Shahihul musnad mima laysa fi shohihain)
Berkata Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : ” Adapun berdoa kepada orang mati, atau yang tidak hadir dihadapannya yang tidak mendengar ucapanmu, atau berdoa kepada patung, atau jin atau pohon dan yang selainnya maka ini perbuatan syirik orang musrik ” (Syarh Al-Ushulus Tsalasah : 14 )

Ketiga : Syirik dalam perbuatan
Seperti Menyembelih hewan dalam rangka taqaruban ( mendekatkan diri ) untuk selain Alloh, seperti untuk jin.
Sebagaimana Allah berfirman, ” Katakanlah (Muhammad) sesungguhnya Sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Rabb semesta alam” (QS. Al-An’am : 162)
Yang dimaksud dengan ‘nusuki’ di sini adalah sembelihan
Berkata Syaikh Sholih Al-Fauzan : ” Diambil faedah dari ayat ini bahwa Sholat dan sembelihan termasuk ibadah” dan beliau berkata juga : “Menyembelih untuk selain Allah syirik besar dikarenakan menyembelih digandengkan dengan sholat dimana barangsiapa yang sholat untuk selain Allah maka dia telah berbuat syirik, demikian juga barangsiapa yang meyembelih untuk selain Allah maka dia telah berbuat syirik ( Mulakhos Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Al-Fauzan : 95 )
Allah ta’ala berfirman : ” Laksanakanlah sholat karena Rabbmu dan berkurbanlah ” (QS. Al-Kautsar : 2)
Berkata Syaikh Ibnu Baaz Rahimahulloh : ” Dan ini menunjukkan menyembelih dan sholat adalah ibadah, dikarenakan keduanya diperintahkan, barangsiapa yang menyembelih untuk selain Allah maka dia telah berbuat syirik, sebagaimana kalau sholat diperuntukkan untuk selain Alloh. Maka barangsiapa yang menyembelih untuk berhala, Jin dan selain mereka maka dia telah berbuat syirik” . ( Syarh Kitabit Tauhid, Hal : 68 ) Pemahaman tentang makna tauhid dan hakikat syirik perkara yang sangat penting, jadi pahamilah dengan baik dan benar. Dengan memahami pembahasan diatas sedikit banyak Insya Allah kita dapat melihat kengawuran perkataan Gus Sholeh, Hasyim Muzadi dan semisal mereka.

Ketiga : Penjelasan ngawur dan sesatnya perkataan Gus Sholeh dan Hasyim Muzadi

Perkataan Gus Sholeh dan Hasyim Muzadi
INILAH.COM, Jombang - Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, KH Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah mengiaskan fenomena dukun cilik Ponari, dengan seseorang yang sedang melakukan ritual ziarah kubur.
“Untuk menjawab pertanyaan, apakah berobat ke tempat Ponari itu musyrik atau tidak, kita bisa melihat niatan orang yang berziarah kubur,” katanya di Jombang, Jawa Timur, Minggu (22/2).
Ia menjelaskan, kalau seseorang berobat ke tempat Ponari dan meyakini bahwa batu yang dibawa bocah berusia sembilan tahun itu bisa menyembuhkan segala jenis penyakit, sudah pasti orang tersebut telah melakukan perbuatan syirik.
“Akan tetapi kalau seseorang menganggap bahwa batu Ponari itu hanya sebagai wasilah (perantara), sedang yang menyembuhkan penyakit adalah Allah, maka sama sekali tidak ada perbuatan menyekutukan Allah,” kata cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU),
Perbuatan itu sama halnya dengan orang berziarah kubur. “Kalau orang berziarah kubur lalu berdoa dan meminta kepada ahli kubur, jelas dia berbuat kemusyrikan,” imbuh Gus Sholah.
Oleh sebab itu, metode pengobatan yang dilakukan dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang itu, tidak bisa begitu saja dinilai syirik karena mengandung unsur-unsur takhayul begitu saja.
“Harus arif dalam menilai pengobatan yang dilakukan Ponari. Tidak bisa melihat dari satu sudut pandang saja,” kata adik kandung mantan Presiden Abdurrahmah Wahid itu.
Fenomena Ponari itu, lanjut Gus Sholah, bukan merupakan ancaman serius terhadap syariat Islam sehingga tidak seharusnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa syirik.
“Demikian pula terhadap masyarakat Jombang yang dikenal religius karena banyaknya pondok pesantren, sama sekali tidak terusik dengan fenomena Ponari itu,”
Justru dia menyarankan masyarakat Desa Balongsari untuk bergotong-royong dalam menertibkan antrean pasien agar tragedi yang menewaskan empat orang pasien akibat terinjak-injak ribuan pasien lainnya, tidak terulang. [*/dil]

Jombang (GP-Ansor): Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, mengatakan : ” Praktek Ponari tidak perlu ditutup yang perlu dilakukan itu penertiban antrean pasien agar tidak terjadi korban ” Menurut Hasyim Muzadi; ” syirik dan tidaknya pengobatan yang di lakukan dukun cilik Ponari tergantung niat masing-masing “. katanya usai menghadiri wisuda sarjana di Unversitas Darul Ulum Jombang, Minggu (22/2/2009).

Penjelasan Perkataan ngawur mereka
Perkataan Gus Sholah : “Untuk menjawab pertanyaan, apakah berobat ke tempat Ponari itu musyrik atau tidak, kita bisa melihat niatan orang yang berziarah kubur,”

Perkataan Hasyim Muzadi : “Syirik tidaknya pengobatan yang dilakukan dukun cilik Ponari tergantung pada niat masing – masing pasien “

Maka kita katakan :
Pak Hasyim dan Pak Gus, syirik itu tidak hanya pada niat dan hati seseorang, syirik itu bisa terjadi dihati atau pada niat seseorang, seperti keyakinan seseorang yang menyembuhkan pasien Ponari adalah Ponari itu sendiri bukan Allah, adapun contoh pada niat seperti sholat dalam rangka pamer atau supaya di puji calon mertua atau beribadah kepada Allah dalam rangka riya, begitu juga syirik bisa terjadi pada ucapan seperti bersumpah dengan nama selain Allah, begitu juga syirik bisa terjadi pada perbuatan seperti menyembelih untuk selain Allah. Mari kita simak perkataan seorang Mufti kerajaan Saudi dahulu Berkata Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : ” Barangsiapa yang beranggapan boleh beribadah bersama Allah dan beribadah kepada yang lainnya dari malaikat atau nabi atau pohon atau jin atau yang lainnya maka dia telah kafir, apabila dia ucapkan dengan lisannya maka dia telah kafir dengan ucapan dan sekaligus keyakinanya dan apabila dia melakukan hal itu maka dia telah kafir dengan perkataan, perbuatan dan keyakinan sekaligus. Semoga Allah menyelamatkan kita dari hal itu ( Al Qawadihu Fil Aqidah, Wasailu Salamatu Minha : 18 ).

Maka jika perbuatan tersebut termasuk perbutan kesyirikan tidak menjadi halal dengan niat seseorang, sebagaimana maksiat tidak menjadi halal dengan niat seseorang yang melakukan maksiat. Apakah bapak akan mengatakan kepada seseorang yang maling kerumah bapak misalnya, apa niat kamu maling kerumah saya, maka simaling menjawab untuk membantu ibu saya yang sakit tidak punya biaya untuk berobat, lalu bapak mengatakan oh….tidak apa-apa karena kamu niatnya baik ketika maling dirumah saya…..!!!! …besok maling lagi yach…. kerumah saya atau kerumah yang lain…!!!!, tapi jangan sampai ketahuan yach …!!! Apakah bapak akan mengatakan, kepada simaling perbuatannya tergantung niatnya, karena niatnya untuk berbuat baik dan membantu kedua orang tuanya, maka perbuatan maling jadi halal….!!!! Jelas sekali perkataan bapak sangat ngawur dengan mengatakan orang yang berobat kePonari tergantung niatnya. Sebagaimana ngawurnya jika bapak mengatakan seperti perkataan kepada maling pada contoh diatas, bahkan perkataan bapak tentang hukum berobat kepada Ponari lebih sangat ngawur dan bahayanya.

Berkata Gus Sholah : ” kalau seseorang berobat ke tempat Ponari dan meyakini bahwa batu yang dibawa bocah berusia sembilan tahun itu bisa menyembuhkan segala jenis penyakit, sudah pasti orang tersebut telah melakukan perbuatan syirik “

Maka kita katakan :
Kalau menyakini batu yang menyembuhkan penyakit para pasien Ponari, benar ini merupakan kesyirikan bahkan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : ” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An - Nisa : 48 )
Allah Ta’ala juga telah berfirman dalam ayat lain : ” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 )
Kenapa hal ini merupakan termasuk syirik…?? karena menyadarkan sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah kepada selain Allah, karena yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )
Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )

Berkata Gus Sholah ” Akan tetapi kalau seseorang menganggap bahwa batu Ponari itu hanya sebagai wasilah (perantara), sedang yang menyembuhkan penyakit adalah Allah, maka sama sekali tidak ada perbuatan menyekutukan Allah,”

Maka Kita katakan :
Wahai pak Gus Sholah, semoga Allah memberi hidayah dan pemahaman agama yang benar kepada kita semua. Kalau meyakini Ponari dan batunya yang menyembuhkan penyakit para pasiennya itu merupakan perbuatan syirik akbar (yang besar) yang mengeluarkan pelakunya kedalam islam, sebagaimana pada penjelasan diatas dan pada artikel saya tentang Ponari. Lalu kalau hanya menganggap batu ponari sebagai sebab kesembuhan penyakit para pasiennya sedangkan dia menyakini yang menyembuhkan hanyalah Allah semata maka yang seperti ini merupakan kesyirikan dengan kesyirikan yang kecil tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islam, tapi merupakan dosa yang sangat besar. Kenapa bisa dihukumi sebagai syirik kecil ? maka kita katakan, jika seseorang menyakini Ponari adalah sebab kesembuhan penyakit pasiennya dan dia menyakini Allah yang menyembuhkannya maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab, Ponari bukanlah sebab kesembuhan berbagai penyakit pasiennya
· Bukankah Ponari tidak mengetahui Tibun Nabawi (pengobatan Nabi), seperti bekam, minum habbatu sauda dan lain-lain
· Bukankah Ponari bukan seorang dokter
· Bukankah Ponari tidak memiliki sedikitpun dari ilmu kedokteran
· Bukankah Ponari tidak memiliki ilmu pengobatan tradisional, seperti jamu-jamuan, atau refeleksi
· Sudah begitu dengan tidak mengetahui dan mempunyai kemampuan apa-apa dari pengobatan nabawi, kedokteran dan tradisional lalu mengaku atau orang mengklaim Ponari dan batunya bisa mengobati berbagai penyakit, dari penyakit dalam sampai penyakit luar bahkan penyakit stress dan gila ….!!!
· Ditambah cara pengobatan Ponari terkadang ketika melakukan pengobatan dibarengi sambil bermain dengan teman sebayanya kemudian tangannya digerakkan oleh orang lain untuk menyelupkan batu kedalam air.

Karena alasan inilah tidak ada keterkaitan sama sekali Ponari sebagai sebab kesembuhan penyakit pasiennya, maka yang berkeyakinan Ponari sebagai sebab kesembuhan para pasiennya merupakan bentuk mengambil sebab apa yang Allah tidak jadikan sebagai sebab. Dan ini merupakan kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman : “ Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu Nya dalam menetapkan hukumnya “ ( Qs. Al Kahfi : 26 )
Hukum Allah dibagi dua :
Hukum Syariyah : Yaitu berupa perintah dan larangan Allah
dan hukum kauniyah : Yaitu apa yang Allah taqdirkan, termasuk diantaranya sebab dan akibat. Maka jika menetapkan sebab yang tidak Allah tetapkan sebagai sebab maka ini termasuk syirik.

Syaikh Yahya, salah seorang ulama yaman pernah ditanya : Ya Syaikh berkaitan dengan, soal kemarin (tentang Ponari dan batunya), apa hukum jika seseorang menyakinii Ponari sebagai sebab kesembuhan penyakinya, apakah termasuk syirik karena menjadikan sebab apa yang bukan sebab, karena Ponari bukan seorang dokter dan tidak mempunyai ilmu tentang kesehatan. Syaikh Menjawab : menjadikan apa yang bukan sebab sebagi sebab merupakan kesyirikan dan sarana mengatarkan kepada syirik (dinukil secara makna)..

Atau jika seseorang menyakini batu Ponari adalah sebab kesembuhan penyakit pasiennya dan dia menyakini Allah yang menyembuhkannya maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab. Tidak terbukti secara syar’i bahwa batu tersebut sebab kesembuhan begitu juga tidak terbukti secara penelitian, sudah begitu mengklaim Ponari dan batunya dapat menyembuhkan semua penyakit (Silahkan lihat lebih lanjut penjelasan menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab merupakan kesyirikan disyarh kitab Tauhid para ulama, diantaranya syaikh Muhammad Bin Shaleh Al-Utsaimin di kitab Qalaul Mufidnya, hal : 107)

Berbeda jika bapak mengatakan : ” Akan tetapi kalau seseorang menganggap bahwa Komix itu hanya sebagai sebab kesembuhan penyakit batuk, sedang yang menyembuhkan penyakit adalah Allah, maka sama sekali tidak ada perbuatan menyekutukan Allah,”
maka kalau seperti ini yang bapak katakan, maka ucapan ini benar, karena komix terbukti secara penelitian dokter sebagai obat bagi penyakit batuk.

Berkata Gus Sholeh : “Kalau orang berziarah kubur lalu berdoa dan meminta kepada ahli kubur, jelas dia berbuat kemusyrikan”

Maka kita katakan :
Benar kalau berdoa meminta kepada orang mati, merupakan perbuatan syirik di lakukan dengan lisan, karena doa ibadah jika dipalingkan kepada selain Allah merupakan perbuatan syirik yang besar yang mengeluarkan pelakunya kedalam islam, Adapun diantara dalilnya adalah sebuah hadist Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ” Doa adalah ibadah.” (HR. Bukhari di dalam adabul mufrod dishahihkan Syaikh Muqbil di Shahihul musnad mima laysa fi shohihain)
Berkata Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahulloh : ” Adapun berdoa kepada orang mati, atau yang tidak hadir dihadapannya yang tidak mendengar ucapanmu, atau berdoa kepada patung, atau jin atau pohon dan yang selainnya maka ini perbuatan syirik orang musrik ” (Syarh Al-Ushulus Tsalasah, Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz : 14 ),
Jika yang dinginkan dari perkataan diatas adalah jika ziarah kubur dengan niat dalam rangka beribadah kepada Allah disisi kuburan maka hal ini pun tidak disyariatkan dalam islam bahkan perkara yang yang diada-adakan didalam agama dan setiap perkara baru yang diada-adakan didalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafa Ar - Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, berpegang teguhlah atasnya dan gigitlah dengan gigi geraham (ungkapan untuk benar-benar berpegang teguh -penj), berhati-hatilah kalian dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” ( HR. Imam Ahmad dan Muslim dari Aisyah Radiyalahu ‘Anha ) Berkata salah seorang Ulama kibar (besar) saudi Arabia, Syaikh Sholeh Al Fauzan Hafidzahullah tentang hadist diatas: ( perkara baru adalah bid’ah ) ” kalimat ini umum, untuk setiap perkara yang baru didalam agama maka itu adalah bid’ah dan tidak ada disana perkara yang baru didalam agama yang baik atau bid’ah didalam agama yang baik, sebagaimana perkataan orang-orang sesat ” ( Syarh Lumatul ‘I’tiqad : 61 ). Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, tentang sebuah gereja dengan gambar-gambar yang ada didalamnya yang dilihatnya di negeri Habsyah. Maka bersabdalah Beliau : ” Mereka itu apabila ada seorang shaleh - atau hamba yang shaleh meninggal-, membangun diatas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat didalam tempat itu gambar-gambar. Nah mereka itulah sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah” ( HR. Bukhari dan Muslim ) Berkata Syaikh Shaleh Al-Faudzan : ” Didalam hadist ini mengandung penjelasan yang sangat gamblang, dilarangnya beribadah kepada Allah disisi kuburan orang shaleh dan menjadikan sebagai masjid dikarenakan perbuatan yang demikian itu sebagian dari perbuatan orang-orang nasrani dan orang yang melakukan perbuatan tersebut termasuk sejelek-jelek makhluk. ( Mulakhos Syarh Kitab Tauhid : 169 )
Berkata Gus Sholah : “Harus arif dalam menilai pengobatan yang dilakukan Ponari. Tidak bisa melihat dari satu sudut pandang saja,”

Maka Kita katakan
Benar kita harus arif, arif yang sesuai dengan tuntunan syariat islam, bukan menurut perasaan dan akal seseorang. Kearifan dalam fenomena ponari adalah dengan menjelaskan kepada ummat akan haramnya berobat kePonari karena dapat menjerumuskan kepada kesyirikan, arif dalam fenomena Ponari adalah dengan menutup praktek pengobatannya selama-lamanya, arif dalam fenomena Ponari dengan menasehati Ponari dan keluarganya bahwa apa yang dilakukan selama ini dari praktek pengobatan ponari bertentangan dengan syariat islam, arif dalam fenomena Ponari dengan menjelaskan kesalahan ucapan bapak ( Gus Sholeh ) dan pak Hasyim serta yang semisal ucapan ini kepada ummat, arif dalam fenomena Ponari dengan mencabut ucapan bapak dan mengumumkan kepublik kesalahannya …!!! Jika memang pak Gus menginginkan kearifan dalam melihat fenomena ini.
Berkata Gus Sholah : Fenomena Ponari itu, lanjut Gus Sholeh, bukan merupakan ancaman serius terhadap syariat Islam sehingga tidak seharusnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa syirik.

Maka Kita katakan
Terlepas dari fatwa MUI. bukan ancaman serius bagaimana Pak…..???!!!!, Syariat islam yang paling agung adalah tauhid dan lawannya adalah syirik, syirik akbar (yang besar) dapat menghilangkan tauhid seseorang yang artinya seseorang menjadi kafir jika seseorang melakukan perbuatan syirik akbar, syirik dosa besar yang paling besar, dosa yang tidak diampuni dan pelakunya kekal di neraka jika mati belum bertaubat.
“ Sesungguhnya perbuatan syirik (menyekutukan Allah) adalah kedzaliman yang sangat besar “ ( Qs. Luqman : 13 ) dalam ayat lain Allah juga berfirman : Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : ” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An - Nisa : 48 )

Berkata Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah : “ Didalam ayat ini terdapat penjelasan besarnya bahaya syirik, dikarenakan seseorang apabila mati dalam kaeadaan berbuat syirik maka tidak akan diampuni baginya bahkan dia kekal didalam neraka, berbeda dengan dosa lainnya yaitu dibawah kehendak Allah, jika Allah berkehendak mengadzabnya sesuai dengan kadar dosanya kemudian masuk surga, dan jika Allah berkehedak maka Allah akan mengampuniannya (tidak mengadzabnya). Adapun dosa syirik maka sungguh Allah Ta’ala telah berfirman : ” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 )
(Syarh Kitab Tauhid Syaikh Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz : 37)

Praktek pengobatan Ponari, praktek yang menjerumuskan kepada kesyirikan, dan kesyirikan merupakan ancaman yang paling besar terhadap agama seseorang. Maka ucapan bapak merupakan ancaman serius bagi syariat islam yang mulia ini.
Berkata Gus Sholah : “Demikian pula terhadap masyarakat Jombang yang dikenal religius karena banyaknya pondok pesantren, sama sekali tidak terusik dengan fenomena Ponari itu,”

Maka kita katakan
Kebenaran dan kesalahan tidak dinilai dengan diam atau tidak terusiknya masyarakat jombang, sesuatu itu dikatakan haq (benar) dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadist) dan sesuatu itu dikatakan salah dengan Al - Qur’an dan As-Sunnah (hadist), ini yang pertama.

Yang kedua, apakah masyarakat jombang yang konon banyak pondok pesantrennya paham tentang makna tauhid dengan pemahaman yang benar wahai pak Gus, apakah mereka paham hakekat kesyirikan …? Jawablah wahai pak Gus, maka dengan arif saya mengatakan, diamnya mereka atau tidak terusiknya mereka menjadi salah satu alasan saya untuk mengatakan sebagian besar dari mereka tidak paham tauhid dengan pemahaman yang benar, dan tidak memahami hakekat dari kesyirikkan, ini adalah reliata. Apakah masyarakat yang seperti ini dijadikan patokan dan standar kebenaran….??!! Jawablah wahai pak Gus…..
Berkata Gus Sholah : Justru dia menyarankan masyarakat Desa Balongsari untuk bergotong-royong dalam menertibkan antrean pasien agar tragedi yang menewaskan empat orang pasien akibat terinjak-injak ribuan pasien lainnya, tidak terulang

Berkata Hasyim Muzadi : Praktek pengobatan Ponari tidak perlu ditutup yang perlu di lakukan penertiban antrean pasien agar tidak terjadi korban.

Maka kita katakan :
Wahai pak Gus dan pak Hasyim, ingatlah setiap perkataan dan perbuatan kita akan di mintai pertanggung jawaban diakherat kelak, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : ” Tidak ada sesuatu kata yang diucapkannya melainkan ada disisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)”. ( Qs. Qaaf : 18 )
” Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah , niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (Qs. Az-Zalzalah : 8)” bagaimana kalau ada yang mengambil ucapan bapak dan menyakini sebagai kebenaran serta mengamalkan, - Naudzubillah -, sesat dan menyesatkan. Dan terbukti banyak yang mengambil ucapan bapak. Saya bawakan sebuah hadist untuk menjadi peringatan bagi kita semua, Rasulullah Shalallahu “Alaihi wassalam bersabda : ” Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu itu langsung di cabut dari dada-dada manusia, akan tetapi di cabutnya ilmu itu dengan di wafatkan para ulama maka apabila para ulama sudah tidak tersisa lagi maka manusia menjadikan tokoh-tokoh orang bodoh kemudian mereka ditanya dan mereka berfatwa dengan tanpa ilmu, maka sungguh mereka itu sesat dan menyesatkan “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Bin Amr Bin Ash Radiyalallahu ‘Anhu)
Apakah kesyirikan mau dilestarikan, sehingga tidak perlu ditutup, kalau tempat perjudian saja harus ditutup maka praktek pengobatan ponari lebih berhak untuk ditutup, besar mana dosa judi dengan kesyrikan, jawab wahai pak Hasyim dan pak Gus, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Maukah kalian ku beri tahu dosa yang paling besar ? maka kami katakan : tentu wahai Rasulullah, Rasulullah bersabda ” Berbuat syirik kepada Allah……” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah)
Perkataan bapak merupakan perkataan menganjurkan saling tolong menolong dalam perbuatan dosa, karena praktek pengobatan Ponari sebuah kemaksiatan. Bukankah Allah berfirman : “ Dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan ” ( Qs. Al Maidah : 2 )

Wahai Pak Gus dan Pak Hasyim dan yang berpendapat dengan pendapat semisal mereka berdua, maka wajib bagi kalian untuk bertaubat kepada Allah dan menarik ucapan kalian serta memberi tahu kepada publik tentang kesalahannya. Karena ucapan bapak sangat berbahaya sekali yang dapat menjerumuskan seseorang kedalam kerusakkan aqidah. Dan wajib bagi pemerintah untuk menutup praktek pengobatan Ponari selama-lamanya.

Sumber: http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2009/03/28/sebuah-catatan-atas-perkataan-ngawur-dari-hasyim-muzadi/



Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Setelah membaca artikel, diharapkan kepada para pembaca untuk menuliskan kesan/komentarnya. Terimakasih...