Showing posts with label Kupas Tuntas Malaikat. Show all posts
Showing posts with label Kupas Tuntas Malaikat. Show all posts

3/22/2008

Ketakutan Para Malaikat

Diriwayatkan bahwa para malaikat yang menyangga 'Arsy, ada yang matanya menangis seperti aliran sungai. Jika malaikat itu menengadahkan kepalanya, maka dia berkata, "Maha Suci Engkau, tidak ada yang layak ditakuti kecuali menurut hak ketakutan kepada-Mu". Allah berfirman: "Tetapi orang-orang yang bersumpah atas nama-Ku justru berbuat dusta, dan mereka tidak mengetahui hal ini".

Allah berfirman, yang artinya:

"Mereka takut kepada Rabb mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)". (An Nahl: 50)

Nabi shallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang urat-urat leher mereka gemetar karena takut kepada-Nya."

Dari Jabir rodhiallahu 'Anhu, dia berkata, "Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pada malam aku melakukan isra', aku melihat Jibril seperti geriba yang basah kuyup karena takut kepada Allah."

Diriwayatkan bahwa Jibril 'alaihissalam mendatangi Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam sambil menangis. Beliau bertanya "Apa yang membuat engkau menangis?" Jibril 'alaihissalam menjawab, "Mataku tidak pernah berhenti menangis semenjak Allah menciptakan neraka Jahannam, karena aku takut akan mendurhakai-Nya, lalu Dia akan melemparkan aku kedalamnya".

Dari Yazid Ar-Ruqasyi, dia berkata, "Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang berada disekitar 'Arsy. Mata mereka menangis layaknya sungai hingga hari kiamat tiba. Mereka bergetar seakan diguncang angin karena takut kepada Allah." Allah berfirman "Wahai para malaikat-Ku apa yang membuat kalian takut sementara kalian ada disisi-Ku", para malaikat menjawab "Ya Rabbi, andaikata penghuni bumi melihat kemuliaan dan keagungan Engkau seperti yang kami lihat ini tentu mereka tidak sanggup makan dan minum, tidak sanggup tidur, lalu mereka keluar ke tengah padang pasir untuk menguak di sana seperti sapi yang menguak.

Muhammad bin Al-Munkadir berkata "Tatkala neraka diciptakan maka jantung para malaikat lepas dari tempatnya. Lalu tatkala Adam diciptakan jantung mereka pun kembali ke tempatnya semula".

Kisah Islam.com


2/10/2008

Perihal pertanyaan kubur oleh malaikat

Setiap manusia setelah mati akan ditanya oleh malaikat tentang siapa Rabb, Dien dan Rasul yang diutus. Orang mukmin akan diteguhkan ketika menjawab pertanyaan tersebut, adapun orang kafir tidak mampu untuk menjawabnya dengan benar.

Allah berfirman [artinya]:

‘’Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan berbuat apa yang Dia kehendaki’’ (Ibrahim: 27)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Al-Barra bin ‘Azib radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘’Apabila seorang muslim ditanya di dalam kubur, maka dia bersaksi babwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Itulah maksud firman Allah, Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat’’ (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini pun diriwayatkan oleh Muslim dan sejumlah kelompok orang yang menerima dari hadits Syu'bah juga.

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Barra bin Azib, dia berkata, ‘’Kami mengantarkan jenazah salah seorang dari kaum Anshar bersama Rasulullah. Kami tiba ke suatu kubur yang belum ditutup lahat. Maka Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam duduk dan kami pun duduk di sekitarnya. Seolah-olah di atas kepala kaini ada burung sedang di kakinya ada kayu yang hendak dijatuhkan ke bumi. Beliau menengadahkan kepalanya lalu bersabda, 'Mintalah perlindungan kepada Allah dari azab kubur.' Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Kemudian beliau melanjutkan, 'Apabila seorang hamba yang beriman meninggalkan dunia dan menghadap akhirat, maka turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang berwajah putih seperti matahari. Mereka membawa kain kafan dan membawa beberapa selimut dari surga. Mereka duduk di dekat hamba itu dengan mengarahkan pandangan. Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk di dekat kepala hamba seraya berkata, 'Hai nafsu yang baik, keluarlah untuk menuju maghfirah dan keridhaan dari Allah.' Maka nafsu pun keluar mengalir seperti mengalirnya tetesan air dari minuman. Malaikat maut mengambilnya. Tatkala ia mengambilnya, maka para malaikat lain tidak membiarkan nafsu itu berada di tangan malaikat maut sekejap mata pun sehingga mereka mengambilnya lalu meletakkan di dalam kafan dan selimut tersebut. Dari nafsu (ruh) itu keluar semerbak wangi yang lebih harum daripada kesturi yang ada di permukaan bumi. Para malaikat membawanya naik. Tidaklah mereka melintasi suatu kelompok malaikat melainkan mereka berkata, Bau harum apakah itu?' Para malaikat pembawa ruh menjawab, 'Ia adalah bau ruh si fulan bin fulan.' Mereka memanggilnya dengan nama terbaik yang dahulu digunakan di dunia. Akhirnya, sampailah mereka di langit dunia. Mereka meminta dibukakan untuk ruh itu. Lalu dibukakanlah untuknya serta disambutlah oleh setiap malaikat penghuni langit lalu diantarkanlah hingga ke langit berikutnya, hingga sampai di langit ketujuh.’’

Maka Allah Ta'ala berfirman [artinya], ‘’Tuliskanlah catatan hamba-Ku di dalam surga yang tinggi dan kembalikanlah dia ke bumi karena dari bumilah Aku menciptakan mereka dan ke bumilah Aku mengembalikan mereka serta dari bumilah Aku mengeluarkan mereka pada kali yang kedua. Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, Kemudian ruh itu dikembalikan ke jasadnya. Ia didatangi oleh dua malaikat lalu mendudukkannya. Kedua malaikat berkata kepadanya, 'Siapakah Tuhanmu?' Dia menjawab, 'Tuhanku adalah Allah.' Kedua malaikat itu bertanya, 'Apa agamamu?' Dia menjawab,'Agamaku Islam.' Kedua malaikat bertanya,'Siapakah prang yang diutus kepadamu?' Dia menjawab,'Orang itu adalah Rasulullah.' Kedua malaikat bertanya,'Apa pengetahuanmu?' Dia menjawab,'Aku membaca kitab Allah, maka aku mengimani dan membenarkannya.' Tiba-tiba ada seorang penyeru dari langit, 'Benarlah hamba-Ku. Maka hamparkanlah untuknya.sebagian dari hamparan surga dan kenakanlah kepadanya sebagian pakaian surga serta bukakanlah baginya sebuah pintu dari surga.’’

Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘’Maka didatangkanlah kepadanya ruh dan kebaikannya. Allah melapangkan kuburan itu baginya seluas mata memandang. Kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki berwajah tampan, berpakaian bagus, dan berbau harum, lalu bertanya, 'Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.' Mayat orang mukmin berkata, 'Siapakah kamu? Wajahmu merupakan wajah yang datang untuk membawa kebaikan.' Orang itu menjawab, 'Aku adalah amal salehmu.' Mayat orang mukmin berkata, 'Ya Tuhanku, segerakanlah kiamat agar aku dapat kembali kepada keluargaku dan hartaku’’.

Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘’Sedangkan apabila seorang hamba yang kafir meninggalkan dunia dan menuju akhirat, maka turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang berwajah hitam. Mereka membawa tenunan kasar dan duduk di dekatnya sambil mengawasinya. Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata, 'Hai ruh yang buruk, keluarlah untuk menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah.' Nabi bersabda, 'Maka ruh meninggalkan jasadnya. Malaikat maut mencabut ruh seperti menarik tusuk besi dari daging basah. Malaikat maut mencabutnya. Setelah dia mencabutnya, dia tidak membiarkan di tangannya sekejap pun sehingga ruh itu disimpan di dalam tenunan kasar. Maka keluarlah darinya bau yang lebih busuk dari bangkai terbau yang ada muka bumi. Para malaikat membawanya naik. Tidaklah mereka melintasi suatu kelompok malaikat melainkan mereka berkata, Bau busuk apakah ini?' Mereka menjawab, 'Ini bau busuk si fulan bin fulan.' Mereka memanggilnya dengan nama terburuk yang dahulu digunakan di muka bumi. Mereka sampai di langit dunia seraya meminta dibukakan pintu untuknya. Namun pintu itu tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam membaca ayat [artinya], 'Tidak dibukakan baginya pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga hingga unta masuk ke dalam lubang jarum.' Maka Allah Ta'ala berfirman [artinya], 'Tuliskanlah baginya tempat di dasar bumi yang terendah.' Kemudian malaikat melemparkan ruh itu dengan keji. Lalu Rasulullah membaca ayat [artinya], 'Adapun orang yang menyekutukan Allah, maka dia seolah-olah jatuh dari langit, lalu disambar burung atau dia dihempaskan oleh angin ke tempat yang jauh.'

Kemudian ruh itu kembali ke jasadnya. Lalu datanglah dua malaikat seraya mendudukkannya dan berkata, 'Siapakah Tuhanmu?' Dia menjawab, 'A... e... aku tidak tahu.' Kedua malaikat itu bertanya, 'Apa agamamu?' Dia menjawab, 'A... e... aku tidak tahu.' Kedua malaikat bertanya,'Siapakah orang yang diutus kepadamu?' Dia menjawab, 'A... e... aku tidak tahu.' Tiba-tiba ada seorang penyeru dari langit, 'Hamba-Ku berbohong. Maka hamparkanlah untuknya sebagian dari hamparan neraka dan bukakanlah baginya sebuah pintu dari pintu neraka. Lalu datanglah kepadanya panas dan racun api neraka. Allah menyempitkan kuburan itu baginya hingga tulang rusuknya berceceran. Kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki berwajah buruk, berpakaian buruk, dan berbau busuk, lalu berkata, 'Bergembiralah dengan apa yang menyedihkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.' Mayat orang kafir berkata, 'Siapakah kamu? Wajahmu merupakan wajah yang datang untuk membawa keburukan.' Orang itu menjawab, 'Aku adalah amal burukmu.' Mayat orang kafir berkata, 'Ya Tuhanku, janganlah Engkau menyegerakan kiamat.' Hadits ini pun diriwayatkan dari Abu Daud dari hadits al-Amasy, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah dari hadits al-Manhal bin Amr.

Imam Abd bin Humaid rahimahullah ta'ala meriwayatkan di dalam musnadnya dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, 'Apabila seorang hamba diletakkan di dalam kuburnya, ditinggalkan oleb para sababatnya dan dia dapat mendengar suara sandal mereka, maka datanglah dua malaikat lalu mendudukkannya seraya bertanya, 'Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?' Nabi bersabda, Jika mayat itu orang mukmin, maka dia menjawab, 'Aku bersaksi babwa dia adalah hamba dan Rasul Allah.'Dikatakan kepada hamba itu, 'Lihatlah tempatmu di neraka dan Allah telah menggantinya dengan tempat di surga.' Kemudian Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, Lalu orang itu melibat kedua tempat itu. '

Qatadah menceritakan: telah diceritakan kepada kami bahwa Allah akan melapangkan kuburan bagi seorang mukmin seluas 70 hasta dan memenuhinya dengan kelembutan hingga hari kiamat. Hadits itu pun diriwayatkan oleh Muslim dari Abd bin Humaid dan dikemukakan oleh an-Nasa'i dari hadits Yunus. bin Muhammad al-Mu'dib.

Jarir menwayatkan dari Abi Hurairah, dari Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda, Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya mayat masih dapat mendengar suara sandalmu tatkala kamu meninggalkannya. Jika dia orang yang beriman, maka shalat berada di dekat kepalanya, zakat di sebelah kananya, shaum di sebelah kirinya, dan aneka amal kebaikan seperti sedekah, silaturahmi, kemakrufan, dan ihsan kepada manusia berada di dekat kedua kakinya. Kemudian didatangkan malaikat dari arah kepalanya, maka shalat berkata, 'Tidak ada jalan dari arahku.' Kemudian didatangkan malaikat dari arah kanannya, maka zakat berkata, 'Tidak ada jalan dari arahku.' Kemudian didatangkan malaikat dari arah kirinya, maka shaum berkata, 'Tidak ada jalan dari arahku.' Kemudian didatangkan malaikat dari arah kakinya, maka aneka amal kebaikan berkata, 'Tidak ada jalan dari arahku.' Kernudian dikatakan kepada mayat, 'Duduklah.' Mayat pun duduk. Saat itu, matahari tampak olehnya sudah menjelang terbenam. Mayat itu ditanya, 'Jawablah hat-hal yang hendak kami tanyakan kepadamu.' Mayat berkata,'Beri aku waktu untuk shalat.' Malaikat berkata, 'Kamu akan mengerjakannya nanti. Sekarang jawab dulu hal-hal yang akan kami tanyakan kepadamu.' Mayat bertanya, 'Masalah apakah yang hendak kau tanyakan?' Maka dikatakan, 'Bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang ada di tengah-tengahmu dahulu, apa pendapatmu dan apa kesaksianmu terhadapnya?' Mayat berkata, 'Maksudmu Muhammad?' Malaikat berkata,'Benar.' Mayat berkata, 'Aku bersaksi bahwa dia merupakan rasul Allah. Sesungguhnva dia datang kepada kami dengan membawa aneka penjelasan dari sisi Allah, maka kami membenarkannya.' Maka dikatakan kepada mayat, 'Di atas pandangan itulah kamu hidup, mati, dan dibangkitkan. Insya Allah.' Kemudian dilapangkanlah kuburannya seluas 70 hasta dan diterangi. Dibukakan baginya sebuah pintu menuju surga, lalu dikatakan, 'Lihatlah apa yang dijanjikan oleh Allah untukmu di surga.' Maka semakin bertambahlah keinginan dan kegembiraannya. Kemudian jiwanya ditempatkan dalam tubuh yang baik, yaitu berupa burung hijau yang bergantung di pohon surga. Kemudian jasad dikembalikan kepada asal ciptaannya, yaitu tanah. Itulah yang dimaksud oleh firman Allah Ta'ala [artinya], ''Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat''. Hadits itu pun diriwayatkan oleh Ibnu Hibban.

Sehubungan dengan ayat ini al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa, sesungguhnya jika seorang mukmin meninggal, maka para malaikat mengunjunginya, memberinya salam, dan menghiburnya dengan surga serta diceritakan pula ihwalnya seperti telah dikemukakan dalam hadits di atas. Kemudian Ibnu Abbas berkata bahwa, adapun terhadap mayat orang kafir, maka malaikat turun sambil memukulkan sayapnya. Allah berfirman [artinya], ''Mereka memukul wajah dan bagian belakang mereka ketika mati''. Apabila dia masuk ke dalam kubur, maka didudukkan, lalu ditanya, 'Siapakah Tuhanmu?' Maka dia tidak ingat apa-apa dan dibuat lupa oleh Allah akan hal itu. Jika ditanya, 'Siapakah rasul yang diutus kepadamu?' Maka dia tidak memperoleh jawaban dan tak ingat apa pun. Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah mengerjakan apa yang Dia kehendaki’‘

Diambil dari Ringkasan Tafsir Ibnu Katsier, Syaikh Muhammad Ar-Rifa'i

1/31/2008

Iman Pada malaikat

Malaikat adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allah dari cahaya, senantiasa menyembah Allah, tidak pernah mendurhakai perintah Allah serta senantiasa melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Keimanan kepada malakat mengandung 4 unsur, yaitu:

Pertama: Mengimani adanya mereka.

Yaitu kepercayaan yang pasti tentang keberadaan para malaikat. Tidak seperti yang dipahami oleh sebagian orang bahwa malaikat adalah hanya sebuah ‘kata’ yang bermakna konotasi yang berarti kebaikan atau semacamnya. Allah Ta’ala telah menyatakan keberadaan mereka dalam firman-Nya yang artinya: “Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 26-27)

Kedua: Mengimani nama-nama malaikat yang telah kita ketahui, sedangkan malaikat yang tidak diketahui namanya wajib kita imani secara global.

Di antara dalil yang menunjukkan banyaknya bilangan malaikat dan tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah Ta’ala adalah sebuah hadits shahih yang berkaitan dengan baitul makmur. Di dalam hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya baitul makmur berada di langit yang ketujuh setentang dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada 70 ribu malaikat yang shalat di dalamnya kemudian apabila mereka telah keluar maka tidak akan kembali lagi.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ketiga: Mengimani sifat-sifat malaikat yang kita ketahui.

Seperti misalnya sifat Jibril, dimana Nabi mengabarkan bahwa beliau shallallahu’alaihi wa sallam pernah melihat Jibril dalam sifat yang asli, yang ternyata mempunyai enam ratus sayap yang dapat menutupi cakrawala (HR. Bukhari). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, ia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya yang mempunyai enam ratus sayap, setiap sayap menutup ufuk, dari sayapnya berjatuhan berbagai warna, mutiara dan permata yang hanya Allah sajalah yang mengetahui keindahannya.” (Ibnu Katsir berkata dalam Bidayah Wan Nihayah bahwa sanad hadits ini bagus dan kuat, sedangkan Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata dalam Al-Musnad bahwa sanad hadits ini shahih)

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa malaikat memiliki sayap dengan berbagai warna. Hal ini menunjukkan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla dan memberitahukan bentuk Jibril ‘alaihissalaam yang mempunyai enam ratus sayap, setiap sayap menutup ufuk. Kita tidak perlu mempersoalkan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat melihat enam ratus sayap dan bagaimana pula cara beliau menghitungnya? Padahal satu sayap saja dapat menutupi ufuk? Kita jawab: ”Selagi hadits tersebut shahih dan para ulama menshahihkan sanadnya maka kita tidak membahas mengenai kaifiyat (bagaimananya), karena Allah Maha Kuasa untuk memperlihatkan kepada Nabi-Nya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hal-hal yang tidak dapat dibayangkan dan dicerna oleh akal fikiran.”

Allah ta’ala menceritakan bahwa sayap yang dimiliki malaikat memiliki jumlah bilangan yang berbeda-beda. “Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Faathir: 1)

Sifat malaikat yang lain adalah terkadang malaikat itu –dengan kekuasaan Allah- bisa berubah bentuk menjadi manusia, sebagaimana yang terjadi pada Jibril saat Allah mengutusnya kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam untuk mengajarkan pada manusia apa itu Islam, Iman dan Ihsan. Demikian juga dengan para malaikat yang diutus oleh Allah kepada Ibrahim dan Luth ‘alaihimassalaam, mereka semua datang dalam bentuk manusia. Para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa mentaati apa yang diperintahkan oleh Allah dan tidak pernah mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keempat, mengimani dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka
Kita mengimani dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka yang mereka tunaikan berdasarkan perintah Allah Ta’ala, seperti bertasbih (mensucikan Allah) dan beribadah kepada-Nya tanpa kenal lelah dan tanpa pernah berhenti. Di antara para malaikat, ada yang memiliki tugas khusus, misalnya:

1. Jibril ‘alaihissalaam yang ditugasi menyampaikan wahyu dari Allah kepada para Rasul-Nya ‘alaihimussalaam.
2. Mikail yang ditugasi menurunkan hujan dan menyebarkannya.
3. Israfil yang ditugasi meniup sangkakala.
4. Malaikat Maut yang ditugasi mencabut nyawa. Dalam beberapa atsar ada disebutkan bahwa malaikat maut bernama Izrail, namun atsar tersebut tidak shahih. Nama yang benar adalah Malaikat Maut sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah ta’ala yang artinya: “Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu.” (QS. As-Sajdah: 11)
5. Yang ditugasi menjaga amal perbuatan hamba dan mencatatnya, perbuatan yang baik maupun yang buruk, mereka adalah para malaikat pencatat yang mulia. Adapun penamaan malaikat Raqib dan ‘Atid juga tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka kita menamakan malaikat sesuai dengan apa yang telah Allah namakan bagi mereka.
6. Yang ditugasi menjaga hamba pada waktu bermukim atau bepergian, waktu tidur atau ketika jaga dan pada semua keadaannya, mereka adalah Al-Mu’aqqibat.
7. Para malaikat penjaga surga. Ridwan merupakan pemimpin para malaikat di surga (apabila hadits tentang hal itu memang sah, ed).
8. Sembilan belas malaikat yang merupakan pemimpin para malaikat penjaga neraka dan pemukanya adalah malaikat Malik.
9. Para malaikat yang diserahi untuk mengatur janin di dalam rahim. Jika seorang hamba telah sempurna empat bulan di dalam perut ibunya, maka Allah ta’ala mengutus seorang malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya dan sengsara atau bahagianya.
10. Para malaikat yang diserahi untuk menanyai mayit ketika telah diletakkan di dalam kuburnya. Ketika itu, dua malaikat mendatanginya untuk menanyakan kepadanya tentang Rabb-nya, agamanya dan nabinya.

Kesalahan-Kesalahan

Terdapat kesalahan-kesalahan yang merusak keimanan kepada malaikat. Bahkan bisa jadi kesalahan itu membawa kepada kekufuran – na’udzu billahi min dzalik -. Oleh karena itulah, kita berlindung kepada Allah agar tidak terjatuh dalam kesalahan tersebut. Beberapa kesalahan yang ada adalah:

1. Mengatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Sungguh inilah yang juga dikatakan kaum musyrikin. Maha Suci Allah dari anggapan ini. Hal ini terdapat dalam firman-Nya, yang artinya, ”Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri apa yang mereka sukai.” (QS. An-Nahl [16]: 57)
2. Beribadah kepada para malaikat. Padahal jika mereka mau merenungi ayat-ayat Al-Qur’an, akan jelas ditemukan bahwa para malaikat itu sendiri hanya menyembah kepada Allah semata. Walaupun mereka diberi berbagai kelebihan oleh Allah, mereka tetaplah makhluk Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud.” (QS. Al A’raaf [7]: 206)
3. Menamakan para malaikat dengan nama-nama yang tidak ditetapkan oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an dan tidak disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti misalnya menamakan malaikat maut dengan nama Izroil, malaikat pencatat amal dengan Roqib dan ’Atid.
4. Mengatakan bahwa malaikat-malaikat adalah pembantu Allah. Maha Suci Allah dari perkataan seperti ini. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan para malaikat tersebut. Dan segala makhluk yang diciptakan Allah adalah membutuhkan Allah. Malaikat-malaikat tersebut pun melaksanakan tugas-tugasnya karena diperintah oleh Allah dan diberi kemampuan untuk melaksanakannya. Kesalahan anggapan ini adalah termasuk dari kesalahan pemahaman karena menyamakan Allah dengan mahluk, dalam hal ini adalah menyamakan Allah dengan kondisi para raja yang membutuhkan pembantu-pembantu untuk melaksanakan pekerjaannya. Dan ini termasuk dalam hakikat kesyirikan. –na’udzubillah mindzalik-.

Buah Keimanan Kepada Malaikat

Beriman kepada para malaikat memiliki pengaruh yang agung dalam kehidupan setiap mukmin, di antaranya dapat kita sebutkan:

1. Mengetahui keagungan, kekuatan serta kesempurnaan kekuasaan-Nya. Sebab keagungan (sesuatu) yang diciptakan (makhluk) menunjukkan keagungan yang menciptakan (al-Khaliq). Dengan demikian akan menambah pengagungan dan pemuliaan seorang mukmin kepada Allah, di mana Allah menciptakan para malaikat dari cahaya dan diberiNya sayap-sayap.
2. Senantiasa istiqomah (meneguhkan pendirian) dalam menaati Allah ta’ala. Karena barangsiapa beriman bahwa para malaikat itu mencatat semua amal perbuatannya, maka ini menjadikannya semakin takut kepada Allah, sehingga ia tidak akan berbuat maksiat kepada-Nya, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.
3. Bersabar dalam menaati Allah serta merasakan ketenangan dan kedamaian. Karena sebagai seorang mukmin ia yakin bahwa bersamanya dalam alam yang luas ini ada ribuan malaikat yang menaati Allah dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya.
4. Bersyukur kepada Allah atas perlindungan-Nya kepada anak Adam, dimana ia menjadikan sebagian dari para malaikat sebagai penjaga mereka.
5. Waspada bahwa dunia ini adalah fana dan tidak kekal, yakni ketika ia ingat Malaikat Maut yang suatu ketika akan diperintahkan untuk mencabut nyawanya. Karena itu, ia akan semakin rajin mempersiapkan diri menghadapi hari Akhir dengan beriman dan beramal shalih.

Demikianlah sedikit ilmu yang dapat kami sampaikan kepada saudariku. Semoga antunna sekalian menemukan jawaban atas pertanyaan tentang malaikat yang selama ini mungkin menjadi ganjalan dalam benak antunna. Semoga setelah membaca dan merenungkan tentang hakikat malaikat, iman kita menjadi bertambah dan supaya lebih tertanam dalam hati kita, bahwa manusia tidak akan dibiarkan saja tanpa pertanggungjawaban, karena ada malaikat yang selalu mencatat amal perbuatan kita yang kelak kita akan ditanyai tentangnya… Wallahu a’lam.

Maraji’:

1. Pelajaran Tauhid untuk Tingkat Lanjutan. Darul Haq.
2. Syarah Ushul Atsalatsah. Syaikh Fauzan. (terjemahan)
3. Syarh Tsalatsatul Ushul. Syaikh Muhammad ibn Sholih Al ’Utsaimin.
4. Penjelasan kitab Kasyfu Syubhat oleh Ustadz Marwan (catatan kajian)





1/04/2008

Para Malaikat Dalam Perang Al Ahzab

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan (al-Ahzab:9). Al-Allamah bin Katsir berkata, "Allah SWT berfirman memberitahukan nikmat, keutamaan, dan kebaikan-Nya yang telah dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dalam menghadapi dan mengalahkan musuh-musuhnya pada saat mereka terkepung.

Hal itu terjadi pada tahun Khandaq, bulan Syawal tahun kelima Hijriah dalam pendapat yang sahih dan masyur."Musa bin Aqabah dan lain-lainnya berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun keempat Hijriah.

Adapun yang menjadi menjadi sebab pengepungan tersebut adalah bahwa seorang pemuka Yahudi banin Nadhir yang telah diusir Rasulullah saw. dari kota Madinah ke Khaibar, di dalamnya termasuk Salam bin Abi al-Haqiq, Salam bin Masykam dan Khanah ibnar Rabi', keluar menuju kota Mekah. Mereka berkumpul dengan para pemuka Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah saw. dan menjanjikan kemenangan serta bantuan dari kelompok mereka sendiri. Kaum Quraisy menyetujui usulan mereka dan bersama-sama keluar untuk mengajak kaum Ghathfan bergabung.

Mereka juga menyepakati usulan tersebut. Setelah itu, kaum Quraisy keluar bersama para sekutunya dibawah pimpinan Abu Sufyan Shakhar bin Harb, dan kaum Ghathfan dibawah pimpinan Uyainah bin Hushun bin Badar dengan kekuatan sebesar sepuluh ribu orang.Begitu Rasulullah saw. mendengar bergeraknya mereka untuk melakukan penyerangan, beliau segera memerintahkan kaum muslimin untuk menggali khandaq (lubang) di sekitar kota Madinah yang berhadapan ke timur kota. Hal itu beliau lakukan atas saran Salmah al-Farisi r.a. Dengan penuh ketekunan kaum muslimin bersama Rasulullah saw. bekerja keras menggali dan memindahkan tanah serta batu-batu.

Beberapa waktu kemudian, kaum musyrikin datang membuat kamp di sebelah timur kota di dekat Uhud. Lalu salah satu kelompok dari mereka turun ke dataran tinggi kota Madinah, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur'an, "(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan bawahmu." (al-Ahzab:10) Rasulullah saw. keluar bersama kaum muslimin yang berkekuatan sekitar 3000 orang, ada yang mengatakan 700 orang.

Mereka menyandarkan punggung masing-masing ke bongkahan batu/tanah. Sementara, wajah mereka menghadap ke arah datangnya musuh. Sedangkan khandaq di depan mereka tidak lebih dari sebuah lubang tanpa air yang memisahkan antara mereka dan menghalangi pasukan berkuda dan pejalan kaki untuk sampai kepada mereka, serta menempatkan kaum wanita dan anak-anak di dalam benteng kota.Bani Quraizhah adalah salah satu kelompok Yahudi yang memiliki benteng di sebelah timur kota Madinah dan terikat perjanjian serta jaminan dengan Rasulullah saw.

Jumlah kekuatan mereka sekitar 800 laskar. Lalu Huyai bin Akhthab an-Nadhari pergi menemui mereka dan membujuknya untuk bersama-sama menyerang Rasulullah saw. Ia tidak beranjak dari sana hingga mereka mengkhianati perjanjian yang dibuatnya dan bergabung mengepung Rasulullah saw. dan kaum muslimin.

Kini urusannya semakin besar, persoalan semakin rumit, dan keadaan semakin kritis, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, "Di situlah diuji orang-orang mukmin, dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat dasyat." (al-Ahzab:11) Mereka tetap tinggal di sana melindungi Rasulullah saw. dan para sahabatnya selama hampir satu bulan. Hanya saja kaum musyrikin belum sampai kepada mereka dan tidak terjadi pertempuran antara mereka.Lalu Amrun bin Abdi Wuddin al-'Amri salah seorang pasukan berkuda dan pahlawan pemberani yang tersohor pada zaman jahiliah, bersama beberapa orang prajurit berkuda melintasi khandaq dan berhasil menuju ke arah kaum muslimin. Rasulullah saw. segera memerintahkan beberapa prajurit berkuda untuk menghadapinya. Namun, tidak ada seorangpun yang menuruti perintahnya. Lalu beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib r.a. yang segera keluar menghadapinya.

Untuk beberapa saat keduanya bertempur hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib berhasil membunuhnya. Dan ini adalah pertanda kemenangan. Lalu Allah mengirimkan angin topan yang berhembus sangat dasyat ke arah para pengepung hingga tidak ada sebuah tenda pun yang tersisa dan tanpa nyala api.

Akhirnya, mereka semua lari meninggalkan ketakutan dan menderita kerugian, sebagaiman firman Allah SWT. "Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan." (al-Ahzab:9)

Firman Allah SWT, "Wa junuudun lam tarauhaa," menurut Ibnu Katsir adalah para malaikat yang membuat mereka (kaum musyrikin) terguncang dan menyusupkan rasa kaget dan takut ke dalam hati mereka. Pada saat itu, setiap kepala kabilah berkata, "Wahai bani Fulan kemarilah kepadaku." Dan mereka pun berkumpul kepadanya dan berkata, "Keselamatan, keselamatan" karena Allah menimpakan ketakutan ke dalam hati mereka.

(Nadantiar Endita )
sumber: percikan-iman.com


12/27/2007

Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat

OLEH : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)

Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)
9. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

12/09/2007

Malaikat Pada malam Lailatul Qadar

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh) kesejahteraan sampai terbitu fajar.” (QS. Al-Qadr : 1-5).

“Sesungguhnya Malaikat yang turun ke bumi pada malam itu lebih banyak dari jumlah kerikil di bumi.” (Hadist Marfu’ dari Abu Hurairah)

Lailatul Qadr yang sering disebut dengan malam kemuliaan adalah salah satu malam yang ada di bulan Ramadhan. Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’dy berkata : “Malam itu dinamakan Lailatul Qadr karena keberadaannya dan keutamaannya yang agung di sisi Allah.” (Tafsir Taisirul Kalamir Rahman : 931). Ad-Dhahhak dan al-Farra’ berkata : “Pada malam itu Allah tidaklah menetukan kecuali kebahagiaan dan keselamatan, sedangkan di malam-malam yang lain Allah menentukan keselamatan dan bencana”. Mujahid berkata : Malam itu Allah menerima taubatnya setiap orang yang mau bertaubat, pintu-pintu langitu dibuka lebar dari semenjak terbenamnya matahari sampai terbitunya fajar”. Begitulah para genrasi tabi’in berkomentar seputar Lailatul Qadr.

Unsur yang membuat Lailatul Qadr menjadi malam yang agung dan mulia :
Pertama, Malam itu merupakan malam diturunkannya al-Qur’an, karena begitu agungnya al-Qur’an akhirnya semua faktor yang berkaituan dengannya menjadi agung pula. Allah berfirman : Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada Lailatul Qadr (malam kemuliaan)”. (QS.al-Qadr : 1).
Kedua, Malam itu merupakan malam turunnya para Malaikat ke bumi ini atas perintah Allah. Mereka adalah para amakhluk Allah yang mulia, selalu taat dan patuh terhadap perintah Allah, senantiasa beribadah kepada Allah tiada merasa bosan atau jemu. Tidaklah mereka turun ke bumi ini, kecuali dengan membawa kebaikan, keber-kahan dan kemuliaan. Allah berfirman,
“Pada malam itu turunlah Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan”. (QS. Al-Qadr : 4).
Ketiga, malam itu adalah malam turunnya barakah, rahmat dan maghfirah Allah. Keberkatan Allah di amlam itu tercurahkan, rahmat-Nya dituebar, ampunan-Nya diberikan kepada hamba-hamaba-Nya yang dikehendaki-Nya. Sedangkan keberkahan, rahmat dan maghfirah adalah ciri-ciri keagungan dan mkemuliaan. Allah berfirman, “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbitu fajar.” (QS. Al-Qadr : 5), keempat, Malam itu merupakan malam yan agung bag siapa saja yang menghidupkan malamnya, menghiasinya dengan ibadah kepada Rabbnya, dizikir dan mensucikan Tuhannya yang Maha Agung.

Ya…, pada malam itu para Malaikat turun atas perintah Allah ke bumi. Ibnu abbas berkata : Rasulullah bersabda, “Apabila datang Lailatul Qadr, para malaikat yang berdomisili di Sidratul muntaha termasuk Jibril turun turun ke bumi. Mereka membawa beberapa bendera, ada yang dituancapkan di kuburan saya, ada yang dituancapkan di Baitul maqdis, ada yang dituancapkan di Bukitu Thursina’. Malaikat-Malikat itu tidaklah melewati melewati orang mukmin laki atau perempuan, kecuali menebarkan salam kepada mereka. Kecuali mereka yang pecandu arak (khamr), pemakan daging babi, dan orang yang berlumuran minyak za’faron.” (Dinukil Qurthubi dalam tafsrinya : 10/122). Iamam al-Qurthubi sendiri menjelaskan : “Para Malaikat turun dari langitu dan dari Sidratul muntaha, sedangkan Malaikat Jibril berada di tengah-tengah mereka. Mereka semua turun ke bumi dan mengamini doa hamba’hamba Allah sampai terbitunya Fajar”. (Akhamul Qur’an : 10/118).

Faedah turunnya Malaikat dan Makna Salamnya

Ustadz Wahbah Zuhaili dalam kitab tafsirnya mengatakan : Termasuk faedah dari turunnya Malaikat di bumi adalah : “Mereka bisa melihat berbagai macam ketaatan yang ada di bumi, yang tidak akan pernah mereka saksikan pada penduduk langitu. Mereka juga mendengar rintihan para pelaku maksiat yang bertaubat kepada Allah, yang mana rintihan tersebut lebih disukai oleh Allah daripada gemuruhnya suara (para Malaikat) yang bertasbih. Para Malaikat itu satu sama lainnya saling menyeru : Kemarilah kalian semua, mendengar gemuruh suara yang lebih disukai Tuhan kita dari pada tasbih-tasbih kita”. (Al-Munir : 30/335). Ada pun makna ‘salam’ pada ayat terakhir dari surat al-Qadr menurut Ibnu ‘Arabi banyak pengertian dari kata tersebut, di antaranya adalah :

1. Malam Lailatul Qadr adalah malam yang di dalamnya penuh dengan keselamatan. Tidak terjadi sesuatu yang membahayakan dan para syetan tidak ada yang terlepas.
2. Malam itu adalah malam yang dipenuhi perbaikan dan keberkahan.
3. Malam itu, para Malaikat menebarkan salam kepada orang-orang mukmin sampai terbitunya Fajar. (Ahkamul Qur’an : 4/430).

Sedangkan asy-Sya’bi berkata : “Yang dimaksud ‘salam’ pada ayat tersebut adalah salamnya para malaikat kepada orang-orang yang berada di Masjid. Dari mulai terbenamnya Matahari Fajar. Mereka menghampiri setiap mukmin seraya berkata ; “Semoga keselamatan diberikan kepadamu wahai orang mukmin”. (Ahkamul Qur’an : 10/112)

Tanda-tanda datangya Lailatul Qadr

Banyak perkataan ulama yang berbicara sekitar tanda-tanda datangnya Lailatul Qadr, Imam Muslim meriwayatkan, “Sesungguhnya pada pagi harinya Matahari terbitu tanpa sinarnya yang terang (alias redup).” Imam Ahmad mencerituakan alma hadist yang diriwayatkan, “Malam itu udaranya cerah dan indah, bulan bersinar, sunyi senyap tidak panas dan tidak dingin, tidak terlihat celorot bintang yang melempari syetan. Dan di pagi harinya Matahari terbitu dalam kondisi redup, sinarnya tidak menyengat, mirip sinar rembulan di malam purnama. Dan malam itu tak ada syetan yang berkeliaran.” (HR. Ahmad).

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan, “Lailatul Qadr adalah malam kemuliaan yan nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Malam itu terasa sungi, cuacanya cerah tidak panas dan tidak dingin, pagi harinya Matahari terlihat merah dan redup”. Sementara dalamhadist marfu’ Abu Hurairah berkata, “Matahari setiap hari terbitu diantara dua tanduk syetan kecuali malam Lailatul Qadr. Sesungguhnya Malaikat yang turun ke bumi pada malam itu lebih banyak dari jumlah kerikil di bumi.”

Waktu Kedatangannya
Pendapat para ulama’ seputar waktu datangnya Lailatul Qadr sangatlah banyak beragam. Karena banyaknya hadist Rasul yang menjelaskan bergamanya waktu kedatangannya. Namun ada beberapa pendapat yang kuat, karena banyaknya hadist dan riwayat yang menopang pendpaat tersebut.

1. Pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil, sebagimana yang disabdakan Rasulullah, “Carilah dengan sungguh-sungguh Lailatul Qadr di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan (HR. Muttafaqun ‘alaih). Dan riwayat lain, “Carilah dengan sungguh-sungguh Lailatul Qadr di malam ganjil dan sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari).

2. Pada malam ke dua puluh lima, dua puluh tujuh dan dua puluh sembilan, sebagimana yang disabdakan Rasulullah, Maka carilah pada malam 29, 27 dan 25.” (HR. Bukhari).

3. Pada malam dua puluh tujuh, seperti yang dikatakan oleh Ubay bin Ka’ab, “demi Alalh, saya tahu kapan malam Lailatul Qadr, yaitu malam yang saat itu kami diperintahkan Rasulullah untuk qiyamul lail, pada malam ke dua puluh tujuh.” (HR.Muslim).

Dan masih bnayak pendapat lainnya. Tapi Ibu Hajar la-‘Asqalani mnemilih pendapat yang paling kuat. Dia mengatakan.”Lailatul Qadr berpindah setiap tahun pada malam-malam ganjil yang ada pada sepuluhhari di bulan Ramadhan, berdasarkan hadist Rasulullah, “Carilah malam Lailatul Qadr di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan. Lailatul Qadr di malam ke semilan yang tersisa, malam ke tujuh yang tersisa, malam ke lima yang tersisa.” (HR. Bukhari).

Memang misteriusnya malam Lailatul Qadr banyak membawa hikmah bagi para hamba. Agar mereka memperbanyak ibadah dalam malam-malam Ramadhan, dengan shalat, dzikir dan doa-doa yang bisa menambah kedekatan mereka kepada Allah. Juga sebagai ujian untuk mentehaui orang-orang yang serius mencarinya dengan orang yang malas-malasan atau tidak sungguh-sungguh.

Keutamaan bagi yang Mnedapatkan Lailatul Qadr

Beruntunglah bagi orang yang menghidupkan malamnya dan bertepatan dengan datangnya Lailatul Qadr. Rasullah bersabda, “ Barang- siapa beribadah pada malam Lailatul Qadr karena iman dan ikhlas, maka akan diampuni dosanya yang sudah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka dari itu Rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya untuk menghidupkan malam sepuluh (terakhir), dia mengencangkan ikat pingganya, dan menghidupkan malamnya serta membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari).

Tetapi bagi Anda yang masih dililut oleh aktifitas duniawi, sehingga tidak bisa full time untuk menghidupkan malam, janganlah berkecil hati. Anda bisa mendapatkan bagian dari Lailatul Qadr, walaupun hanya sebagiannya saja. Yaitu dengan senantiasa mengerjakan shalat Maghrib dan Isya’ berjama’ah. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang shalat Maghrib dan Isya’ di malam Lailatul Qadr dengan berjama’ah, maka dia telah mengambil bagian dari malam Lailatul Qadr. (Kanzul ummal : 8/636). Sa’id bin Musayyib juga berkata : “Barang siapa shalat Isya’ berjama’ah pad amalam LailatulQadr, maka dia telah mengambil bagian dari Lailatul Qadr”. (Ahkamul qur’an : 10/122). Dan jangan lupa untuk memperbanyak bacaan doa di malam-malam Ramadhan, terutama malam sepuluh hari terakhir. Adapun teks doanya bisa Anda lihat di rubrik Doa Ma’tsur pada edisi ini. Semoga amalan ibadah kita diterima Allah dan dosa kita diampuni.

Malaikat gadungan

ruqyah-online.blogspot.com-Rasulullah versabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan cari apa yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah)”. (HR. Muslim)

Beriman kepada para Malaikat merupakan pengalaman dari rukun iman yang kedua. Berarti keimanan seorang hamba kepada Allah belum sempurna jika tidak dibarengi dengan rukun iman yang lainnya, termasuk beriman kepada para malaikat. Allah berfirman, “Rasul telah beriman kepada (Al-qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya. Demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya pada para rasul-Nya, kitab-kitab dan para Rasul-Nya…”. (SQ. Al-Baqarah : 275). Ketika rasulullah dituanya tentang iman, beliau menjawab, “Iman adalah hendaklah kamu percaya (beriman) kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan para Rasuln-Nya. (HR. Muslim)

Imam al-Baihaqi berkata, “Iman kepada Malaikat mengandung beberapa maksud : Pertama, Membenarkan dan meyakini bahwa malaikat itu benar-benar ada. Kedua, Mengakui dan menempatkan posisi mereka secara proporsional. Mereka adalah makhluk Allah seperti manusia dan jin. Mereka tidak akan berkuasa untuk berbuat apa-apa, kecuali yang sudah dituetapkan Allah bagi mereka. Kita tidak boleh mensifatkan mereka dengan sifat yang bisa membuat kita menyekutukan Allah dengan mereka. Ketiga, Kita mempercayai bahwa di antara para Malaikat itu ada yang menjadi utusan Allah kepada manusia yang dikehendaki Allah, atau mereka diutus Allah ke kelompok manusia lain.” (Kitab Syu’abul Iman : 1/163).

Jumlah Malaikat sangat banyak sekali, tidak ada yang mengetahui jumlah mereka secara pasti kecuali Allah “Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu kecuali Dia sendiri…”. (QS. Al-Muddatstsir : 31). Rasulullah berceritua seputar pengalamannya sewaktu Isra’ dan Mi’raj setelah melewati langitu yang ke tujuh, “…Kemudian aku dinaikkan ke ke Baitul Makmur, tiba-tiba aku menjumpai pada setiap harinya tempat itu dimasuki oleh 70 ribu Malaikat, dan kelompok itu tidak akan punya kesempatan lagi untuk memasuki Baitul Makmur itu sampai hari akhir….”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagian masyarakat kita belum kenal betul dengan karakteristik Malaikat-Malaikat, Allah, sehingga di antara mereka ada yang meminta bantuan kepada para Malaikat untuk mengatasi problema kehidupan yang datang silih berganti tak kunjung selesai. Bahkan sebagian manusia ada yang menjadikan Malaikat sebagai tuhan yang mereka sembah. Maka dari itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya untuk tidak terjerumus dalam kesyirikan, “Dan dia (Nabi) tidak menyuruhmu menjadikan Malaikat dan para Nabi sebagai tuhan. Apakah patut ia menyuruhmu kepada kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam ?” (QS. Ali ‘Imran : 80).

Pemahaman yang salah dan menyimpang akibat kurangnya ilmu syari’at, serta minimnya mereka menelaah dalil yang menjelaskan seputar kehidupan Malaikat. Atau kecintaan mereka kepada para malaikat yang berlebihan. Akhirnya mereka mudah dituipu oleh jin dan syetan yang datang mengaku sebagai Malaikat.

Sehingga di atabra manusia dewasa ini ada yang mengaku telah didatangi Malaikat Jibril dan mendapatkan wahyu darinya. Karena kedatangannya sudah berulang kali, dan nasehat yang dituerimanya menurutnya adalah baik. Maka dengan tidak canggung lagi dia mendeklarasikan dirinya sebagai nabi baru. Atau sepak terjangnya sudah didasarkan lagi pada ajaran al-Qur’an dan al-Hadist, karena dia merasa sudah mempunyai ajaran lain yang dituerima secara langsung dari Malaikat Jibril.

Dan juga orang yang berusaha untuk memperdalam serta mangasah kemampuan spiritualnya dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasullah. Saat menjalani olah spiritual itu dia didatangi oleh sosok yang mengaku sebagai Malaikat utusan Allah untuk menyampaikan benda pusaka atau ilmu kesakitan yang tidak dimiliki manusia kebanyakan. Mereka percaya itu merupakan ‘wahyu’ berasal dari ‘Malaikat’ tersebut, tanpa guru lagi mereka mengamalkannya dan meninggalkan ajaran Rasulullah. Bahkan ada juga manusia yang senang menjalani ibadah kepada Allah, lalu datanglah ‘Malaikat’ menghampirinya lalu memberikan ritual atau wirid tambahan, yang bisa menjadikan orang itu hebat bahkan bisa menandingi mukjizat para Rasul. Akhirnya dia pun mengamalkan ‘wahyu tambahan’ tersebut sambil mengamalkan ibadah-ibadah lainnya.

Padahal itu ulah jin dan syetan untuk menyesatkan hamba-hamba Allah yang masih lemah akidahnya, atau untuk menguji mereka kepada Allah, kalau iman mereka lemah, pasti dengan mudah mereka akan datang sebagai sosok Malaikat tersebut. Akhirnya mereka terperosok dalam amalan yang mengandung bid’ah dan syirik. Dengan begitu berarti mereka menyembah jin-jin yang bersosok Malaikat tersebut. Tapi kalau iman orang tersebut kuta, mereka tidak akan terpengaruh dengan datangnya Malaikat-Malaikat gadungan tersebut. Mereka akan tetap tekun beribadah kepada Allah sesuai tuntunan Rasullah.

Sebetulnya kita sudah diingatkan oleh Al-Qur’an agar waspada terhadap tipu muslihat syetan yang bermodus sosok Malaikat. Pada hari kebangkitan nanti Allah bertanya kepada para Malaikat-Nya tentang pebuatan orang-orang yang musyrik, “Dan ingatlah (pada waktu) Allah mengumpulkan mereka berfirman kepada para Malaikat : ‘Apakah mereka itu dahulunya menyembah kamu ? Para Malaikat menjawab : ‘Maha suci Engkau, Engkaulah Pelindung kami bukan mereka, justru mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman jin itu”. (QS. Saba’: 34).

Oleh sebab itu, kita harus waspada terhadap kehadiran makhluk ghaib dalam kehidupan ini, baik yang hadir di alam mimpi atau di alam nyata. Yang terang-terangan mengaku sebagai jin muslim atau mengaku sebagai Malaikat. Kita sudah tidak butuh pentunjuk-petunjuk mereka yang sering disebut dengan ‘wangsitu’. Cukup bagi kita petunjuk Allah dan Rasul-Nya, agar tidak tersesat di dunia maupun di Akhirat. Jangan terpedaya oleh tipu daya syetan yang mengaku Malaikat.

15 Amalan Mendatangkan Malaikat di Bulan Ramadhan

RUQYAH-ONLINE.BLOGSPOT.COM-Di bulan Ramadhan yang mulia, alangkah indahnya kalau waktu demi waktu yang kita lalui, terisi dengan ibadah-ibadah yang banyak mendatangkan pahala. Sebagai deposito dan bekal kita di negeri akhirat yang kekal abadi. Betapa nikmat rasanya bila segala aktifituas ibadah kita di bulan suci ini dituerima yang bertepatan dengan malam seribu bulan (lailatul qadr). Karena di malam itu para Malaikat yang dikomandoi Malaikat Jibril turun ke bumi ini, mendoakan orang-orang yang beribadah dan bermunajat kepada Allah dan mengaminiu doa’doa mereka.

Berikut ini amalan yang apabila dilaksankan dengan ikhlas dan sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah, maka Allah akan menurnkan para Malaikatnya untuk menyambut amalan ibadah yang kita lakukan, atau untuk menyampaikan balasan dari Allah atau juga mendoakan kita sebagai pelakunya, baik di bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan.

1. Berdzikir

Orang yang berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang sudah diajarkan Rasulullah, akan dihampiri dan danaungi oleh para Malaikat atas perintahAllah, “Sesungguhnya bagi Allah para Malaikat yang berkeliling di bumi untuk mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemukan sekelompok orang yang berdzikir, maka mereka akan memanggil satu sama lain, “Marilah ke sini, inilah yang kamu cari.” Rasulullah menambahkan, “Kemudian mereka meliputi para ahli dzikir itu dengan syap-sayap mereka sampai langitu dunia…” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Tiawah al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an dan Malaikat jibril senantiasa melaksanakan tadarrus bersama Rasulullah di bulan yang mulia ini. Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, maka para Malaikat akan menghampirinya. Barra’ bin ‘Azib berkata, “Ada seorang laki-laki membaca surat al-Kahfi, di dalam rumahnya ada hewan yang kemudian kabur. Lalu datanglah mendung atau awan yang menaunginya. Peristiwa itu dicerituakan kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Bacalah terus wahai Fulan ! Karena sesungguhnya itu adalah Malaikat yang turun (saat al-Qur’an dibaca, atau turun untuk bacaan al-Qur’an.” (HR. Muslim).

3. Istiqamah di jalan Allah

Sulit rasanya untuk menjaga kestabilan volume ketaatan kita kepada Allah. Kita harus sering menghadiri majlis ta’lim yang bisa mengingatkan kita kepada Allah, dan memotivasi kita untuk senantiasa meningkatkan frekuensi ibadah atau menjaga kestabilannya. Rasulullah bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika kalian kontinyu dalam ketaatan dan dzikir, maka para Malaikat akan turun menyalami kalian di rumah atau di jalan-jalan.” (HR. Muslim). Di riwayat lain, “Seandainya kalian selalu istiqamah sebagaimana kalian berada di sisiku, maka Malaikat akan menaungi kalian dengan sayap-sayapnya.” (HR. Tirmidzi).

4. Mengajar Kebaikan pada Orang Lain

Betapa mulianya seorang yang mau mengajarkan ilmu yang bisa bermanfaat buat orang lain, termasuk orang yang mengajarkan al-Qur’an kepada orang lain. Orang seperti itu akan mendapatkan lantunan doa dari para Malaikat dan seluruh makhluk Allah di bumi ini. Rasulullah bersabda, “Seungguhnya Allah dan para Malaikatnya dan semua penghuni langitu dan bumi sampai semut yang berada di lubangnya dan ikan paus, mereka semua berslawat kepada orang yang mengajar kebaikan pada manusia.” (HR. Tirmidzi)

5. Menuntut Ilmu

Agar ibadah kita dituerima oleh Allah, maka harus kita laksanakan dengan benar. Untuk mengetahui kebenarannya kita butuh ilmunya. Maka dari itu tuntunlah ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang menuntut ilmu yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah, para Malaikat akan datang menaunginya. Shafwan bin Assal berkata : Aku berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku datang kepadamu untuk menuntut ilmu. Beliau menanggapi, “Selamat datang buat penuntut ilmu, sesungguhnya orangk yang menunut ilmu itu akan dikelilingi para Malaikat, mereka mengepakkan sayap-sayapnya di atasnya. Mereka saling susun menyusun sehingga sampai ke langitu karena cinta mereka kepada pa yang dituntut.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Di riwayat lain, “Sesungguhnya para Malaikat mengepakkan sayap-sayapnya nbagi penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dilakukan.” (HR. Tirmidzi).

6. Mencintai Saudara Seiman

Apabila kita ingin dicintai oleh Allah dan para Malaikat-Nya, maka cintailah hamba-Nya. Kita mencintainya karena ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan karena harta, pangkat dan martabtnya. Rasulullah bersabda, “Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Malaikat jibril dan berseru, ‘Sesumngguhnya Allah telah mencintai Fulan mala cintailah Fulan. Lalu Jibril memanggil semua penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia, lalu para penghuni langitu pun mencintainya, sehingga ia dituerima di bumi.” (HR. bukhari dan Muslim).

7. Menziarahi Saudara Seiman

Termasuk amalan yang bisa mendatangkan Malaikat adalah berkunjung kepada saudara seiman atau sanak famili untuk merekatkan persaudaraan dan menyambung silaturahim. Rasullah bersabda, “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di lain desa, maka Allah mengirimkan Malaikat mengawasinya.

Ditengah perjalanan Malaikat menghadangnya dan bertanya, ‘Kamu mau kemana ?’ Dia menjawab. Saya mau mengunjungi Saudaraku yang tinggal di desa ini.’ Malaikat bertanya, ‘Apakah kamu punya kepentingan sehingga kamu mengunjunginya?’ Dia menjawab, ‘Tidak, saya mengunjunginya sebab saya mencintainya karena Allah’. Malaikat berkata. “Sesungguhnya saya diutus Allah untuk menemuimu. Ketahuilah, bahwa Allah juga mencintaimu sebagaimaa kamu mencintai saudaramu karena Allah.” (HR. Muslim).


8. Mendoakan Saudara Seiman yang sedang tidak bersamanya

Apabila kita mampunyai Saudara atau sahabat yang tinggalnya berjauhan janganlah bersedih. Kita masih bisa berkomunkasi dengan kecanggihan teknologi sekarang. Dan jangan lupa doakan dia, agar para Malaikat mengamini dan mendoakan kita. Rasulullah bersabda, “Doanya orang muslim untuk saudaranya yang sedang tidak bersamanya terkabulkan, karena di atas kepalanya ada Malaikat. Setiap dia mendoakannya dengan kebaikan, Malaikat yang ditugaskan itu berkata : amin (Ya Allah, Kabulkanlah) dan bagimu seperti itu juga.” (HR. Muslim).

9. Mungunjugi orang yang sakit

Ibadah sosial yang bisa mendatangkan para malaikat dan doanya adalah mengunjungi saudara yang sakitu. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang menengok saudaranya yang sakitu pada sore hari, kecuali diiringi oleh 70.000 Malaikat akan mengiringnya dan memintakan ampun untuknya sampai sore dan disediakan baginya tempat di surga. (HR. Dawud).

10. Makan Sahur

Sahur adalah mengkonsumsi sesuatu sebelum terbitnya fajar, walau hanya minum seteguk air atau secuil makanan bagi orang yang hendak berpuasa. Jangalah dilewatkan ibadah sahur ini, agar mendapat doa dari para Malaikat, “Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan al-Albani)

11. Bershalawat dan salam kepada Rasul

Membaca shalwat dan salam ke Rasulullah merupakan salah satu bukti kongkrit akan kecintaan kita kepada beliau.di samping itu juga pembacanya akan dibalas doa oleh para Malaikat yang sudah ditugaskan Allah dalam masalah tersebut, “Tidaklah seorang hamba yang bershalawat kepadaku, kecuali para Malaikat bershalawat kepadanya selama dia masih bershalawat kepadaku. Hendaklah hamba itu banyak bershalawat atau hanya sedikit.” (HR. Ahmad dan dihasankan al-Albani), dan di riwayat lain “Sesungguhnya Allah memiliki para Malaikat yang senantiasa bertebaran di bumi ini untuk menyampaikan kepadaku salam umatku.” (HR. Nassai dan dishahihkan al-Albani).

12. Menempati shaf pertama pada waktu shalat jama’ah

Masih banyak orang yang tidak mengetahui seputar keutamaan yang shalat berjama’ah yang posisinya di barisan paling depan atau shaf pertama. Seandainya mereka tahu keutamaannya, niscaya mereka akan berebut untuk bisa di shaf pertama. Termasuk keutamaannya adalah mendapatkan doa daripara Malaikat, “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang berada di shaf pertama. (HR. Abu Dawud).

13. Menunggu shalat berjama’ah

Sebagian orang muslim masih ada yang lebih suka datang ke Masjid untuk berjama’ah saat imam sudah takbiratul ihram. Padahal kalau datangnya lebih awal lagi, dia bisa melaksanakan shalat sunnah qabliyah. Lalu menunggu inilah dia akan mendapatkan doa para malaikat, “Sesungguhnya para Malaikat senantiasa bershalawat kepada kalian,selama kalian masih duduk di tempat (menunggu shalat jama’ah) dan belum batal (wudhunya), mereka berdo’a : Ya Allah, ampunilah ia, Ya Allah rahmatilah ia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

14. Berta’ziah ke orang yang meninggal

Ketika ada tentangga atau saudara seiman yang meninggal dunia sempatkanlah hadir untuk berempati dan berbela sungkawa. Dalam kesempatan seperti itu berdoalah untuk ketabahan keluarga yang ditinggal dan mapunan Allah bagi yang meninggal, karena doa kita akan diamini para Malaikat. Rasulullah bersabda, “Apabila kamu mendatangi orang yang sakitu atau meninggal dunia, maka berdoalah yang baik-baik. Karena sesungguhnya para Malaikat akan mengamini apa saja yang kamu ucapkan.” (HR. Muslim).

15. Mati Syahid

Syahid di jalan Allah adalah karunia Allah yang sangat besar bagi hamba yang dikehandaki-Nya, karena jaminanya adalah surga. Di samping itu jasadnya akan dianungi oleh para Malaikat. Jabir bin Abdullah berkata, “Telah dihadirkan (jenazah) ayahku ke hadapan Rasulullah dalam keadaan tidak utuh. Maka aku pun mengampirinya untuk menyingkap wajahnya, tetapi kaumku melarangku. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang menangis histeris, yaitu anaknya Amr atau saudaranya. Rasulullah bersabda, ‘Kenapa ? Kamu menangis atau tidak, para Mlaikat selalu menaunginya dengan sayap-sayapnya.” (HR Bukhari).

Yang dimaksud dengan shalawat Allah kepada hamba-Nya adalah pujian yang diberikan Allah kepada hamba tersebut. Adapun shalawat Malaikat kepada hamba Allah adalah doa bagi mereka atau permohonan ampunan kepada Allah untuk hamba tersebut.

Kita sebagai hamba Allah sangat membutuhkan kehadiran Malaikat-malaikat yang diutus oleh Allah untuk menghampiri dan melindungi kita, atau untuk mengamini doa kita kepada Allah agar rahmat-Nya kita dapatkan. Allah berfirman, “Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohon ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ahzab : 43).

Ayat tersebut menjelaskan doanya para Malaikat bagi orang-orang mukmin serta permohonan ampun mereka, hal itu mempunyai pengaruh yang sangat besar. Agar orang-orang mukmin senantiasa mendapatkan hidayah Allah untuk menyelamatkan mereka dari kegelapan kufur dan syirik, dan mengentaskan mereka dari pekatnya dosa dan kemaksiatan, menuju cahaya yang bisa menerangi mereka untuk menelusuri jalan hidup yang lurus. Serta bisa mengenal jalan kebenaran yang terkandung dalam ajaran Islam. Semoga Allah senantiasa memberikan sahaya-Nya kepada kita semua untuk menerangi perbuatan, perkataan dan kepribadian kita dalam menggapai ridha-Nya.

Akhirnya, marilah kita selalu berdoa kepada Allah dengan lantunan doa “Ya Allah, kami memohon ridha dan surga-Mu dan kami berlindung kpada–Mu dari murka dan adzab-Mu. Amin.