12/03/2007

Berinteraksi dengan Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Memet ( nama panggilan ), pemuda kampung itu merasa gembira dengan kedatangan Ramadhan. Karena mushala dekat rumahnya dipasang alat pengeras suara oleh pengurus mushala. Sejak puasa pertama, ia rajin membaca Al-Qur’an melalui alat pengeras suara tersebut. Setelah subuh yang terdengar adalah suara ngajinya Memet, begitu juga setelah Ashar dan shalat tarawih. Walaupun bacaan dan suara Memet tidak begitu bagus, tapi ia rajin sekali membaca Al-Qur’an dibulan suci. Dan ironisnya, ia tidak mau membaca Al-Qur’an jika tidak melalui pengeras suara.


Ida (nama samaran), ia seorang ABG yang memperlakukan Bulan Ramadhan tahun ini lebih istimewa disbanding bulan-bulan lainnya. Kalau di bulan-bulan lain bisa dikatakan seminggu sekali baca Al-Qur’an, tapi di bulan suci ini ia punya target tiga kali khatam Al-Qur’an. Dengan bacaan yang apa adanya, ia memaksakan diri untuk bisa khatam Al-Qur’an dalam waktu sepuluh hari. “Kata guru agama, Imam Syafi’I kalau dibulan Ramadhan khatam Al-Qur’an dua kali dalam sehari semalam. Kita malu dong, kalau belum pernah khatam sama sekali”. Begitulah jawab Ida saat ditanya teman mainnya seputar kegatolannya dalam membaca Al-Qur’an di bulan puasa ini.


Ya…, memang banyak orang muslim yang menjadikan bulan Ramadhan sebagai momen untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya. Segala jenis ibadah frekuensinya mereka tingkatkan, termasuk membaca Al-Qur’an. Yang tadinya jarang membaca Al-Qur’an menjadi rajin untuk membacanya, bahkan tiada hari tanpa dilalui baca Al-Qur’an. Itulah geliat mereka yang peduli dengan keutamaan bulan Ramadhan. Sedangkan yang tidak peduli, mereka menjadikan Ramadhan seperti bulan-bulan lainnya. Bahkan ada juga yang enggan untuk puasa. Na’udzubillahi min dzalik.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah sebagai petunjuk bagi manusia yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah berfirman, “ Bulan Ramadhan , bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda ( antara yang haq dan yang bathil )”. ( QS. al-Baqarah : 185 ). Agar kita dapat menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, kita harus berusaha untuk bisa berinteraksi dengan Al-Qur’an secara aktif dan intensif. Sehingga kita benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai imam dan jalan hidup yang harus kita telusuri.

Memang pada bulan puasa ini kita dianjurkan untuk lebih aktif berinteraksi dengan Al-Qur’an. Tapi bukan berati kita berinteraksi dengan Al-Qur’an hanya di bulan Ramadhan saja. Malaikat Jibril sendiri sendiri pada setiap bulan Ramadhan menjumpai Rasulullah untuk menyimak bacaan Al-Qur’annya. Bahkan pada bulan Ramadhan di tahun akhir hayatnya, Rasulullah mengkhatamkan dua kali bersama Malaikat Jibril. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah telah mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an di hadapan Jibril di setiap Ramadhan. Dan pada tahun akhir hayatnya, beliau mengkhatamkannya dua kali.” (HR. Nasa’I dan Ahmad)

Rasulullah adalah sosok yang paling terdepan dalam keaktifannya berinteraksi dengan Al-Qur’an. Beliau tidak hanya membaca dan menghafalnya, tapi memahami dan mengamalkannya. Bahkan beliau lebih dikenal dengan sosok Al-Qur’an berjalan, karena sikap dan tingkahnya selalu mencerminkan makna kandungan Al-Qur’an secara komplit dan aplikatif. Jika kita ingin mengamalkan Al-Qur’an secara aplikatif, maka kita harus meyimak sirah atau perjalanan hidup Rasulullah. Dialah terjemahan hidup Al-Qur’an. Ketika para sahabat datang ke Aisyah dan bertanya tentang akhlaq dan perilaku Rasulullah, ia menjawab, “ Akhlaq Rasulullah adalah Al-Qur’an”. Lalu ia membaca surat al-Mukminun ayat I sampai 9, kemudian berkata, “ Begitulah akhlaq Rasulullah”. (HR. Nasa’i dan al-Hakim).

Beliau juga menyeru kepada sahabat-sahabatnya untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, terutama dibulan Ramadhan. Abdullah bin’Amr bin ‘Ash pernah bertanya kepada Rasulullah. “ Dalam berapa hari saya mengkhatamkan Al-Qur’an?” Rasulullah menjawab, “ Khatamkanlah Al-Qur’an dalam setiap bulan”. Abdullah berkata, “ Wahai nabi Allah, aku kuat bila kurang dari itu”. Rasulullah bersabda, “ Khatamkanlah sepuluh hari”.
Abdullah berkata, “ wahai nabi Allah, aku kuat bila kurang dari itu”. Rasulullah bersabda, “Khatamkanlah dalam tujuh hari dan jangan kau kurangi lagi”. (Abdullahberkata, “ Aku telah minta yang berat, dan hal itu memang berat bagiku”). Rasulullah bersabda kepadaku, “ Kamu tahu, bagaimana bila umurmu panjang”. Abdullah berkata lagi, “ Dan memang umurku panjang sebagai mana disabdakan Rasulullah, sehingga aku makin terasa berat dalam menunaikan tugas itu. Dan ketika aku sudah tua, aku menyesal, kenapa dahulu tidak aku terima dispensasi yang diberikan Rasulullah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kegemaran Rasulullah dalam membaca Al-Qur’an telah diikuti oleh para sahabatnya, apalagi di bulan Ramadhan. Simaklah bagaimana para sahabat sangat getol untuk membaca Al-Qur’an dalam kehidupan mereka sehari=kari. Mereka rajin dalam berinteraksi secara aktif dengan Al-Qur’an. Apalagi pada bulan Ramadhan. Ustman bin Affan, khalifah yang kedua setiap malam mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalatnya. (Fadhailul Qur’an : 35). Ubay bin Ka’ab, salah seorang sahaba terkenal ahli dalam seni baca Al-Qur’an. Ia mengkhatamkan Al-Qur’an setiap delapan hari sekali. Sedangkan Tamim ad-Dari mengkhatamkan Al-Qur’an tujuh hari sekali. (Shafwatus Shafwah: 1/476). Sa’id bin Jubeir mengkhatamkan Al-Qur’an dua malam sekali, dan pada bulan ramadhan senantiasa mengkhatamkan Al-Qur’an antara Maghrib dan Isya’. (Shafwatus Shafwah : 3/77 dan Hilayatul Auliya’ : 4/273)

Begitu juga para ulama’ generasi sesudah mereka, mereka mengikuti jejak langkah para pendahulunya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Hasan al-Bashri (seorang pemuka tabi’in), ia mengkhatamkan Al-Qur’an antara Dhuhur dan Ashar, sebagaimana ia juga sering mengkhatamkan Al-Qur’an antara Maghrib dan Isya’ pada bulan selain Ramadhan. (Hilyatul Auliya :3/58). Sedangkan ‘Alqamah senantiasa mengkhatamkan Al-Qur’an lima hari sekali. (Shafwatus Shafwah: 3/27).

Adapun al-Aswad bin Yazid an-Nakha’I (seorang tabi’in), ia mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap dua malam sekali. Sedangkan di luar bulan Ramadhan , ia mengkhatamkannya setiap enam hari sekali. (Hilyatul Auliya : 2103 ). Imam Qatadah terbiasa untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu tujuh hari sekali. Dan apabila telah datang datang bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya dalam waktu tiga hari. Dan bila memasuki sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya setiap malam. ( Hilyatul Auliya :2/338).

Generasi mereka berikutnyapun tidak mau kalah dalam intensitas mereka untuk berinteraksi dengan dengan Al-Qur’an. Lihatlah Imam Abu Hanifah (pelopor madzhab Hanif), biasanya ia mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam dalam shalatnya (biasanya di waktu sahur). Beliau sering melakukan shalat subuh dengan wudhu shalat isya’. (Siyaru A’lamin Nubala : 6/400). Imam Malik (pelopor mahdzab Maliki), apabila telah datang Ramadhan , ia menutup majlis taklim yang mengajarkan ilmu hadist dan lainnya, kemudian mengkonsentrasikan untuk membaca Al-Qur’an.” ( majlis Ramadhaniyyah : 23).

Sedangkan Imam Muhammad bin Idris as-Safi’i ( pelopor madzhab Safi’i) sudah terbiasa untuk mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan dalam shalatnya sebanyak enam puluh kali.” (Siyaru A’lamin Nubala : 10/83). Dan Ahmad bin Hanbal (pelopor madzhab Hanbali) sebagaimana yang dituturkan anaknya yang bernama Abdullah, “ setiap hari ayahku terbiasa untuk membaca Al-Qur’an sebanyak tujuh kali, dan ia selalu mengkhatamkannya setiap tujuh hari sekali.” (Hilyatul Auliya : 9/181).

Kalau simak apa yang telah mereka lakukan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, hampir saja kita tidak percaya atau menyangsikan kebenaran ari riwayat tersebut. Seakan-akan kitamembaca buku dongeng yang selalu didramatridir dan bombastis. Kalau hanya satu buku dan pengarangnya bukan ulama besar , kita boleh-boleh saja meragukan akurasi berita tersebut. Tapi kehidupan mereka itu telah diabadikan oleh sekian banyak ulama besar dan terpercaya dalam kitab-kitab hasil karya mereka. Jadi tidak ada lagi yang perlu kita pertanyakan akurasi kebenaran beritanya. Kalaupun kita tidak sanggup melakukannya maka itu bukan alasan yang tepat untuk mengingkari keuletan mereka dalam beribadah. Karena mereka adalah ulama-ulama pilihan dan generasi-generasi rabbani.

Tapi bukankah Rasulullah melarang kita untuk mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari ? ya, benar memang ada riwayat yang menjelaskan bahwa rasulullah telah bersabda, “ Tidak akan memahami (isinya) orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi ). Sebetulnya hadist itu tidak melarang atau mengharamkan seseorang untuk mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.

Lebih jelasnya marilah kita simak penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya, “ Telah banyak sumber yang akurat dan terpercaya yang memberitahukan bahwa para ulama salaf telah membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkan kurang dari itu (tiga hari). Imam Nawawi berkata,” Hal itu karena kapasitas dan kemampuan orang itu berbeda-beda. Bagi orang yang alim dan punya pemahaman yang mendalam boleh saja membaca atau mengkhatamkannya kurang dari tiga hari, dengan catatan masih bisa mentadburi dan memahami maknanya. Begitu juga bagi orang alim yang sibuk dengan mengajar atau sibuk dengan kepentingan umat atau maslahat keagamaan lainnya, maka bagi mereka boleh saja mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari dan masih bisa mentadabburinya. Tapi bagi orang biasa, maka sebaiknya ia tidak mengkhatamkan kurang dari dari tiga hari, kalau tidak , maka bacaannya akan belepotan (tidak tartil).(Fathul Bari : 9/97).

Karena Hamzah pernah berkata kepada ibnu Abbas, “Saya telah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu tiga hari.” Ibnu Abbas menanggapi, “ Bagiku, membaca surat al-Baqarah dalam satu malam dengan tartil seraya mentadabburinya, lebih kusukai daripada aku mengkhatamkan Al-Qur’an dengan bacaan yang cepat seperti yang kau katakana. Tapi bila kamu mau membaca dengan cepat, bacalah dengan bacaan yang terdengar oleh telingamu dan bisa dipahami hatimu.” (Fathul Bari : 9/98).

Imam Nawawi berkata, “ Para ulama salaf punya kebiasaan yang berbeda-beda dalam mengkhatamkan Al-Qur’an, sesuai kondisi, pemahaman dan kesibukan mereka. Diantara mereka ada yang menghatamkannya dalam waktu sebulan, ada yang dua puluh hari, ada yang sepuluh hari, dan kebanyakan dari mereka mengkhatamkannya dalam waktu tujuh hari atau tiga hari. Tapi ada juga di antara mereka yang mengkhatamkannya dalam waktu sehari semalam, bahkan ada juga yang mengkhatamkannya sehari semalam tiga kali, atau delapan kali. Dan yang baik adalah mengukur kemampuan masing-masing dan memilih waktu yang tepat yang sekiranya kita bisa mengkhatamkannya dengan baik. Disesuaikan dengan kegiatan dan kesibukannya. Jangan sampai tugas dankesibukannya yang menjadi amanahnya keteter karena memperbanyak khatam Al-Qur’an. Kalau memang punya kegiatan yangpadat, hendaklah ia mengatur waktunya danmemilih saat yang tepat agar bisa melaksanakan dengan istiqamah serta tidak mengganggu tugas hariannya. (‘Aunul Ma’ud : 4/186).

Jadi, kita boleh saja berlomba-lomba untuk lebih seringmengkhatamkan Al-Qur’an dalam hidup kita ini, lebih khususnya pada bulan ramadhan yang mulia ini. Tapi semuanya itu harus diukur dengan kemampuan masing-masing. Para sahabat atau ulama salaf yang disebutkan namanya di atas adalah para ulama besar, sejak kecil sudah hafal Al-Qur’an, bertahun-tahun lamanya mereka belajar menggali dan mendalami Al-Qur’an dan ilmu yang berkaitan dengannya. Mereka adalah referensi umat, kepekarannya tidak diragukan lagi. Pemahaman mereka tentang Al-Qur’an sangat mendalam. Tingkah dan sikap mereka mencerminkan isi Al-Qur’an.

Sedangkan kita adalah para pemula, baru memulai belajar membaca dan memahami maknanya. Masih banyak yang harus kita pelajari, termasuk belajar memahami petunjuk yang ada dalam Al-Qur’an. Kalau kita belum bisa membaca Al-Qur’an, maka tidak usah punya target mengkhatamkanya terlebih dahulu, tapi targetnya adalah bisa membacanya dengan lancer. Bagi yang sudah lancer targetnya memperbaiki bacaan sehingga sesuai dengan kaidah tajwidnya. Bagi yang sudah baik bacaannya, silahkan bikin target berapa hari khatam Al-Qur’an. Tapi ingat , jangan sampai target kita itu membuat bacaan kita jadi amburadul, tidak bisa mentadabburi dan memahami makna, atau membuat tugas yang telah diamanahkan menjadi terbengkalai. “ Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu . . .”. (QS. at-Taghbun : 16 ).

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Setelah membaca artikel, diharapkan kepada para pembaca untuk menuliskan kesan/komentarnya. Terimakasih...