Showing posts with label Kesaksian : Pertaubatan Praktisi Metafisika. Show all posts
Showing posts with label Kesaksian : Pertaubatan Praktisi Metafisika. Show all posts

4/21/2009

Energi Penyembuh dalam Alquran antara Sain dan Keyakinan (1)

Fakta penelitian ilmiah ini akan menghempaskan keyakinan sesat para penentang ruqyah. Ternyata ayat-ayat ruqyah dari bacaan Al-Qur'an dan sunnah memang bisa menyembuhkan segala macam penyakit.

Pendahuluan:

Ada banyak pasien yang sembuh setiap hari karena membaca al-Qur’an. Kita tidak bisa menolaknya, karena kesembuhan itu benar-benar terjadi. Ini juga terjadi pada diri saya saat membaca ayat-ayat tertentu untuk penyakit tertentu, dan penyakit tersebut pun sembuh!

Setelah melakukan riset, maka salah satu hasil terpenting dari riset yang berlangsung selama beberapa tahun ini adalah: Dalam setiap ayat al-Qur’an Allah meletakkan daya penyembuh untuk penyakit tertentu apabila ayat-ayat ini dibaca dengan bilangan (pengulangan) tertentu.

Pada dasarnya, ketika kita mengamati alam di sekitar kita, maka kita menyadari bahwa setiap satuan atom itu bergetar dalam frekuensi tertentu, apakah atom itu adalah bagian dari metal, air, sel, atau apapun. Ini adalah fakta ilmiah.

Struktur dasar alam semesta ini adalah atom, dan struktur dasar tubuh kita adalah sel. Setiap sel terbuat dari jutaan atom, dan setiap atom terbentuk dari nukleus positif dan elektron negatif yang mengelilinginya. Karena rotasi ini, medan elektromagnetik dihasilkan, sama seperti medan-medan yang dihasilkan oleh suatu mesin.

Gambar: Atom merupakan struktur dasar pada alam semesta dan juga pada tubuh kita. Ia bergetar secara konstan, dan itu berarti setiap benda itu bergetar dengan sistem yang seksama. Sel-sel juga bergetar dengan sistem yang seksama, dan setiap getaran di sekitar kita memengaruhi sel-sel kita. Rahasia yang membuat otak ini berpikir adalah sebuah program akurat di dalam sel-sel otak kita.

Program ini berada di setiap sel yang melakukan pekerjaannya secara seksama. Penyimpangan terkecil pada pekerjaannya dapat mengakibatkan ketidak-seimbangan dan kekacauan pada sebagian organ tubuh. Terapi terbaik terhadap ketidak-seimbangan ini adalah merestorasi keseimbangan kepada tubuh. Para ilmuwan menemukan bahwa sel-sel tubuh itu terpengaruh oleh bermacam-macam gelombang seperti gelombang sinar, gelombang radio, gelombang suara, dan lain-lain. Tetapi, suara apa?

Gambar: Masing-masing sel di tubuh kita bergetar dengan sistem yang seksama, dan perubahan sekecil apapun pada getaran itu akan mengakibatkan sakit pada sebagian organ tubuh. Itulah kenapa sel-sel yang rusak itu harus digetarkan untuk mengembalikan keseimbangan padanya. Kita tahu bahwa suara itu terbentuk dari gelombang atau getaran yang bergerak di udara dengan kecepatan 340 m/detik. Setiap suara memiliki frekuensi sendiri, dan manusia bisa mendengar suara dengan frekuensi antara 20/detik hingga 20.000/detik.

Gelombang-gelombang tersebut menyebar di udara lalu ditangkap telinga, lalu ia berubah menjadi sinyal-sinyal elektrik, dan bergerak melalui syaraf suara menuju acoustic bark di dalam otak. Sel-sel tersebut menyesuaikan diri dengan gelombang, lalu gelombang tersebut bergerak ke berbagai bagian otak, khususnya bagian depan. Semua organ itu bekerja secara bersama sesuai seirama dengan sinyal-sinyal tersebut, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dipahami manusia. Lalu, otak menganalisa sinyal-sinyal itu dan memberikan perintahnya kepada berbagai organ tubuh untuk menyesuaikan dengan sinyal-sinyal tersebut.

Suara terdiri dari getaran-getaran mekanik yang sampai ke telinga lalu ke sel-sel otak yang menyesuaikan dengan getaran-getaran tersebut, dan mengubah getarannya sendiri. Itulah mengapa suara itu dianggap sebagai energi obat yang efektif, tergantung pada sifat suara itu dan frekuensinya. Kita menemukan energi penyembuh di dalam al-Qur’an karena ia merupakan Kitab Allah.

Dari sinilah muncul terapi suara: Suara adalah getaran, dan sel-sel tubuh itu selalu bergetar, lalu suara memengaruhi sel-sel tersebut. Inilah yang ditemukan para peneliti akhir-akhir ini. Di akhir abad 21 di Washington University, para ilmuwan menemukan bahwa kerja sel otak bukan hanya mentransfer informasi. Masing-masing sel adalah komputer kecil yang bekerja untuk mengumpulkan informasi, memprosesnya, dan memberikan perintah secara konstan. Ellen Covey, peneliti pada Washington University, mengatakan, ‘Untuk pertama kalinya kita menyadari bahwa otak tidak bekerja layaknya satu komputer besar, melainkan berisi sekian banyak komputer yang bekerja secara kooperatif. Ada komputer kecil dalam setiap sel, dan komputer-komputer tersebut dapat terpengaruhi oleh getaran di sekitarnya, khususnya suara.

Gambar: Berbagai eksperimen menunjukkan bahwa di dalam tiap-tiap sel dalam otak terdapat komputer supermini di mana Allah menginstal program akurat yang mengatur sel dan mengontrol kerjanya. Eksperimen juga menunjukkan bahwa suara dapat memengaruhi sel. Ini adalah gambar sel yang terpengaruh oleh suara, dan medan elektromagnetik terbentuk di sekitarnya.

Jadi, dapat kami katakan bahwa sel-sel tiap organ tubuh itu bergetar dalam frekuensi tertentu, dan membentuk sistem yang kompleks dan koordinatif, yang dapat terpengaruh oleh suara di sekitarnya. Penyakit yang menjangkiti suatu organ tubuh itu dapat mengakibatkan perubahan pada getaran sel-sel organ tersebut, dan pada kelanjutannya membuatnya menyimpang dari sistem tubuh secara umum. Itulah mengapa ketika tubuh dihadapkan pada suara tertentu, maka suara itu memengaruhi getaran sistem tubuh, khususnya pada organ yang tidak normal. Organ ini akan merespon suara tertentu untuk mengembalikan sistem getarannya yang orisinal, atau dengan kata lain, mengembalikan kondisi kesehatannya. Para ilmuwan menemukan hasil-hasil tersebut belakang ini.

dikutip dari sini

12/09/2007

Jual Jimat Untuk Bangun Pesantren


ruqyah-online.blogspot.com-Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan hampir 3 jam lamanya sengan berkendaraan bermotor dari kota palembang. Akhirnya koresponden majalah ghoib tiba di desa Kemang Indah, Mesuji OKI. Perjalanan masih harus ditempuh 18 km lagi melewati jalan becek dan sempit untuk sampai di Pesantren Darul Falah Es Salafy. Waktu menunjukkan pukul 20.25 wib, ditengah udara yang sejuk dan hujan rintik-rintik koresponden Majalah Ghoib berbincang dengan Mudir Pondok Pesantren Darul Falah Es Salafy.
Berikut selengkapnya :

Dulu waktu di temanggung saya menuntut ilmu disebuah pondok pesantren untuk mencari ilmu agama. Sebagaimana layaknya pesantren –pesantren di jawa, kami diajarkan ilmu-ilmu syari’ah dan juga aqidah. Akan tetapi, banyak diantara para santri (termasuk saya) yang juga mencari ilmu-ilmu lain di luar pesantren tanpa sepengetahuan kyai. Diantara ilmu-ilmu yang sempat saya pelajari ketika itu ialah: ilmu kebal, ilmu tenaga dalam dan ilmu laduni. Ilmu-ilmu tersebut biasa kami sebut dengan ilmu hikmah.

Ilmu hikmah adalah ilmu yang diraih dengan melakukan ritual-ritual tertentu seperti puasa; puasa ngesrep (mutih) dan puasa ngebleng (tidak makan, tidak minum, tidak bicara dan tidak berada didalam rumah). Dan khusus untuk ilmu laduni (ilmu yang dianggap berasal dari Allah melalui Nabi Khidir as. Tanpa melalui proses yang payah. Tujuannya adalah untuk mempercepat daya ingat dan daya tangkap serta dapat dicapai dengan mengamalkan wirid: “Robbi Zidni ‘ilma war zugni fahma” berulang-ulang sambil berpuasa ngebleng.

Selain itu, saya juga berguru di cirebon. Disana umumnya yang dating adalah pak kyai yang ingin buka pesantren. Kami diberikan amalan-amalan wirid dengan berpuasa ngesrep serta tidak tidur sepanjang malam. (sambil tersenyum, kyai suhaimy mengenang suatu kejadian ketika sedang melakukan wirid dia tertidur. Oleh pak kyai dihukum dengan menambah jumlah bilangan wiridnya). Amalan-amalan wirid diberikan dengan menggunakan sistem paket. Misalnya paket 7 hari, 21 hari, 41 hari, 105 hari yang semuanya ditentukan oleh pihak pesantren. Dan kami hanya boleh berbuka serta sahur dengan makan nasi putih 1 kepal ditambah dengan air 1 botol.

Begitulah pencarian saya terhadap ilmu-ilmu perdukunan. Sepanjang pulau jawa telah saya rambah. Dari madura hingga banten saya sambangi untuk mencari ilmu klenik.

Tapi, (beliau diam sejenak) ternyata semua yang saya inginkan tidak terbukti sama sekali. Sontoh olmu laduni yang katanya bisa mempercepat daya tangkap. Ya, sama sekali gak terbukti.

Tetapi saya berhasil mendapatkan jimat-jimat. Itu saya peroleh ketika saya mengabdi di pesantren di Temanggung. (istilah mengabdi adalah pengabdian seorang santri yang telah lulus dari pesantren dengan mengajar di pesantren yang biasanya tanpa diberi imbalan/gaji. Jimat-jimat tersebut saya dapat dengan mewiridkan Hizb Asror. Ketika saya membacakan wirid-wirid asror, tiba-tiba jimat-jimat itu datang kepada saya secara ghaib. Seperti batu akik anti cukur dan anti tembak, pundi emas, batk bolu (tempurung kelapa berlubang 3), cundrik (keris), besi kuning keong buntet. Jimat-jimat itu seperti tunduk kepada saya. Karena datang sendirinya. Dan datangnya pada waktu kapanpun tidak peduli sedang pengajian. Seperti yang pernah terjadi pada saat saya sedang mengajar pengajian murid saya. Tiba-tiba ”pluk...” sebuah benda jatuh dihadapan saya. Untungnya para murid tidak ada satupun yang melihatnya. Hanya saya yang bisa melihatnya. Setelah itu saya ambil dan saya uji coba dirumah untuk mengetahui kesaktian dan fungsinya.

Masyarakat sekitar sudah tahu akan kesaktian jimat-jimat itu. Dan saya juga langsung membuktikannya sendiri dihadapan masyarakat. Contoh batu akik itu, saya masukkan kedalam gelas yang berisi air, kemudian saya tembak dengan senapan angin ternyata gelas tersebut tidak pecah. Dan banyak lagi jimat-jimat lain yang memiliki kekuatan yang telah saya uji dihadapan umum, meskipun demikian, saya merasa tertipu dengan jimat-jimat pemberian jin itu.

Ternyata semua itu hanya tipuan semata yang dilakukan oleh jin untuk memperdaya manusia. Buktinya jimat anti kebal saya hanya bisa bertahan pada tembakan pertama dan kedua saja. Pada tembakan ketiga dan seterusnya gelas itu menjadi pecah. Kemudian pundi emas seberat ¼ Kg yang saya terima secara ghaib itu pernah ada seorang pengusaha yang akan membelinya. Saat itu dia menawar harga Rp. 300.000,- per-gramnya. Pertama kali dia datang melihat benar-benar asli dan sudah diujinya. Pada kali kedua dia datang lagi dengan sekalian membawa uang dalam koper. Tapi, lagi-lagi syetan itu menipu. Tiba-tiba kadar emasnya susut menjadi 40 %. Nah.....disitulah saya merasa ditipu habis-habisan oleh jin. Pembeli itu pun gagal membeli. Sebenarnya, awalnya saya sendiri tidak pernah punya keinginan untuk menggunakan jimat-jimat itu apa lagi mempercayainya. Motivasi saya waktu itu hanya satu saja, yaitu bagaimana saya mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk membangun pesantren. Ide ini muncul ketika saya menjadi santri pengabdian di Temanggung. Selain mengajar di pesantren, saya juga membuka pengajian di rumah. Santri yang awalnya cuma sedikit, lama kelamaan bertambah banyak. Saya perlu tempat yang lebih luas. Dari situlah muncul keinginan untuk membuka pesantren sendiri. Dari keinginan tersebut, saya coba amalkan wirid Hizb Asror untuk mendapatkan jimat-jimat dengan tujuan untuk dijual dan uangnya untuk membangun pesantren. Pembeli beragam, mulai dari pengusaha, pejabat ataupun orang biasa. Tapi akhirnya, tidak ada satupun yang menjadi uang karena saya tertipu oleh akal-akalannya jin.

Suap dari jin sebesar USS 1 juta

Setelah saya merasa berkali-kali tertipu oleh jin, saya memutuskan untuk tidak lagi mengamalkan Hizb Asror tersebut. Lebih kurang satu bulan kemudian saya mengalami kejadian yang aneh. Seperti biasanya ketika adzan subuh saya bergegas kemasjid untuk melaksanakan shalat shubuh. Ada kegiatan rutin setelah shalat shubuh selesai. Yaitu memberikan taklim (pengajian) kepada masyarakat.

Tapi pagi itu berbeda. Ada yang janggal. Selepas saya memberikan taklim dan para jamaah bubar, tiba-tiba ada orang azan lagi. Saya lihat, jamaah yang telah bubar tadi datang lagi untuk shalat dan ikut pengajian. Rupanya yang kedua inilah yang benar-benar jamaah saya. Saya jadi berpikir, jadi jamaah yang pertama itu siapa ......? Rasa heran dan penasaran saya tersebut tidak saya beritahukan kepada para jamaah, khawatir nanti mereka ketakutan. Satu jam berlalu selepas saya memberikan taklim kedua, saya pulang kerumah.

Sesampainya dirumah saya kedatangan 2 orang tamu yang pernah saya lihat pada taklim yang pertama. Tanpa banyak ngobrol dan bicara, kedua tamu saya tersebut memberikan amplop yang berisi uang katanya untuk membangun pesantren. Berbunga-bunga hati saya menerima amplop tersebut. Terbayang segala impian saya selama ini menjadi kenyataan. Setelah kedua orang tamu itu permisi untuk pulang. Saya buka amplopnya bukan main terkejutnya saya, ketika tahu isi amplop itu senilai 1 juta US Dollar berikut sertifikat uang tersebut. Saya kejar kedua tamu itu untuk menanyakan uang tersebut, kalau-kalau mereka salah alamat namun keduanya menghilang entah kemana. Padahal secara logika, seharusnya mereka masih bisa dikejar. Tapi mereka hilang begitu saja. Misterius.
Akhirnya saya putuskan untuk mencoba mencairkan uang tersebut kepada beberapa Bank besar di Jawa tengah dan Jakarta. Namun jawaban semua bank-bank tersebut sama, mereka mengatakan bahwa uang yang saya bawa adalah asli (setelah diteliti dan diuji terlebih dahulu oleh pihak bank), akan tetapi mereka tidak dapat mencairkan uang tersebut. Saya heran, mengapa bisa begitu. Selanjutnya saya disarankan untuk mencairkannya di Singapura.

Nekad, saya jual dua motor saya untuk ongkos ke Singapura. Dalam bayangan saya, jika cair saya bisa beli dari sekedar dua motor. Tetapi ada yang aneh dalam perjalanan saya. Mata saya tertipu. Ditiket jelas-selas saya baca tujuannya adalah Batam. Tetapi ternyata hanya berakhir di Palembang. Akhirnya saya harus merogoh kocek saya lagi untuk menyambung perjalanan ke Singapura. Ongkos sudah menipis.

Ditemani oleh seorang rekan saya yang sudah biasa kesana, saya coba mencairkan uang tersebut ke beberapa Bank di Singapura termasuk diantaranya Bank Amerika disana. Lagi-lagi jawabannya sama sebagaimana yang saya terima di Indonesia.

Di tengah keputusan itu seorang kerabat saya yang bekerja disebuah kapal pesiar di Amerika pulang ke Indonesia. Saya perlihatkan uang 1 juta US Dollar kepadanya sekaligus saya ceritakan asal-usulnya. Waktu kembali ke Amerika, dia membawa uang tersebut ke Amerika. Uang tersebut dibawa ke bank yang mengeluarkan uang itu. Pihak bank mengatakan bahwa uang giral tersebut kemungkinan milik salah seorang jutawan amerikan yang hilang. Akan tetapi, mereka tidak bisa memastikan milik siapa uang tersebut. Dan mereka tidak bisa mencairkan uang kecuali oleh bertanda tangan di sertifikat itu sebagai pemilik aslinya. Lalu uang tersebut dikembalikan kepada saya lagi.

Yang jelas, saya bertambah menyesal dan bertaubat setelah kejadian itu. Akhirnya saya berangkat ke tanah suci Mekkah untuk melaksanakan umroh. Penyesalan dan tobat saya semakin mendalam. Ketika saya melakukan tawaf keliling ka’bah. Tiba-tiba sabuk saya jadi kendor. Uang 1 juta US Dollar yang saya letakkan dalam sabuk itu hilang secara misterius. Saya menangis memohon ampun kepada Allah dan bertaubat dengan taubat nasuha. Perasaan bersalah menggedor-gedor dada. Dihadapan baitullah saya amat terasa kecil.

Kemudian, atas saran dari kawan-kawan dan juga atas keinginan saya sendiri, saya memutuskan untuk kuliah di Ummul Quro dan sekolah di Syekh Alwi Al-Maliki di Mekkah.

Terilhami dengan apa yang telah berlaku kepada saya sebelum ini, ketika saya pulang ke tanah air saya langsung membuka pesantren tauhid. Menurut saya, rohnya agama itu adalah tauhid maka saya ingin memperbaiki aqidah ummat.

Setelah saya taubat dan mengubur semua jimat saya, bukan tidak ada halangannya dari jin. Sekali waktu tetangga saya bertanya, ”saya lihat kyai semalam jalan-jalan jam dua tanpa baju, ngodem yi?”
”Oh....ya....ya,” kata saya agak gugup menutupi hal yang sebenarnya tidak saya lakukan semalam. Hanya saja saya khawatir dia berpifkir yang tidak-tidak, maka saya iyakan saja. Semoga jin tidak berulah muncul dalam wajah saya dan melakukan fitnah di masyarakat.

Pertama, saya melarang semua santri untuk mempelajari ilmu-ilmu hikmah. Suatu saat ada santri saya ada yang menghadap saya meminta ilmu jaduk (kebal). Saya bilang kalau di pesantren ini tidak ada ilmu seperti itu. Disini adanya tauhid yang benar. Kalau mau masih cari ilmu seperti itu cari saja di pesantren lain.

Kedua, mengajarkan pelajaran tauhid dengan sebenarnya mulai dari jenjang SLTP. Dan ketiga, mengadakan kegiatan-kegiatan seminar dan ruqyah massal di masyarakat. Bahkan saya berniat mendirikan klinik pengobatan ruqyah syari’yyah sendiri untuk wilayah kemang dan sekitarnya.
Saya sendiri pernah di ruqyah. Dan hasilnya luar biasa. Sebelum saya di ruqyah oleh ustadz ikhwan di ghoib ruqyah syar’iyyah cabang Palembang, saya itu mudah sekali lupa, pusing-pusing dan suka marah. Alhamdulillah sekarang sudah berkurang.

Dan yang jelas, dengan adanya ruqyah syar’iyyah tersebut merupakan suatu usaha untuk memurnikan aqidah ummat serta mengembalikannya ke jalan yang lebih diridhoi oleh Allah. Dan saya juga merasakan bahwa dakwah ini sudah diterima oleh masyarakat serta perubahannya sudah bisa dilihat. Selama 6 tahun saya berdakwah keliling kampung, mengajak ke aqidah murni dan jalan Allah, tetapi tidak ada hasilnya. Sekarang ketika kawan-kawan ghoib melaksanakan dakwah dengan pendekatan ruqyah syar’iyyah dan saya anggap berhasil maka saya mendukung usaha tersebut.

Maka mari maju terus, pantang mundur. Kalau orang berani terang-terangan dan terorganisir melaksanakan kemaksiatan kok kita tidak berani melaksanakan kebaikan. Kalau ada ganjalan dan ada yang tidak suka, anggap itu sebagai sunnatullah dalam perjuangan. (Dikutip dari Majalah Ghoib edisi Khusus " Dukun-dukun Bertaubat" halaman 44-49)

Aku Beralih Profesi dari Kyai "DUKUN" ke PERUQYAH


Ruqyah-online.blogspot.com-Menjadi orang sakti itu mahal harganya. Banyak hal yang harus dikorbankan. Bila pengorbanan itu hanya sebatas materi, waktu dan tenaga tidaklah mengapa. Semua itu hanya bersifat sementara. Tapi kalau harus mengorbankan akidah, maka jangan coba-coba menjadi orang sakti. Derita berkepanjangan di akhirat segera menanti. Karena untuk menjadi sakti, mau tak mau harus bekerja sama dengan jin, seperti dituturkan Dida, mantan dukun yang bertaubat dan telah menamatkan hafalan al-Qur'an. Berikut petikan kisahnya.

SEJAK KECIL, aku memang punya cita-cita ingin menjadi orang yang sakti mandraguna. Ditembak lakak-lakak, ditombak cengengesan. Darah orang sakti mengalir deras dalam diriku. Kakek terbilang orang sakti. Di kampung ku dia sangat terkenal. Untuk mendapatkan kesaktian itu, kakek rela berpuasa selama empat puluh hari dengan tetap bertengger di atas pohon kelapa.
Puasa empat puluh hari saja, banyak yang sudah tidak sanggup, karena bukan sembarangan. Tapi kakek sanggup melakukannya dengan tetap bertahan di atas pohon kelapa selama empat puluh hari. Semangat yang membaja-lah yang membuat kakek mampu bertahan, semua itu dilakukan untuk mewujudkan impian menjadi orang sakti. Karena itu, ketika kusampaikan keinginanku menjadi orang sakti, ibu tidak melarang. Toh, lelakon ngelmu itu bukan barang asing bagi ibu.

Pergulatanku dengan dunia kesaktian dimulai sejak aku duduk dibangku SMP. Awalnya, aku bergabung dengan perguruan silat di kampungku bersama teman-teman. Latihan-latihan fisik menjadi menu harian. Selain itu, aku juga nyantri di beberapa tempat. Lelakon dengan mulai puasa pun mulai kulakukan.

Sebenarnya, aku belum diperbolehkan puasa. Masih kecil, katanya. Hanya karena keinginan menjadi orang sakti begitu kuat, larangan itu tidak kuhiraukan. Aku nekat puasa yang terbilang berat untuk anak seusiaku.

Selama tiga hari, aku hanya berbuka dengan tiga suap nasi. Nasi dikasih air kemudian diaduk. Air nasi kemudian diminum seteguk, dua teguk. Kemudian nasinya dimakan tiga suap. Tidak boleh lebih. Setelah itu tidak boleh makan lagi, hingga sahur. Memang tidak ada larangan untuk sahur, tapi karena mulut terasa pahit, aku pun malas sahur. Praktis tiga hari hanya makan tiga suap nasi setiap buka.

Tiga hari pertama aku lulus. Dilanjutkan dengan puasa tujuh hari. Meski badan terasa lemas, tapi aku masih sanggup menyelesaikannya. Terakhir puasa dua puluh satu hari.

Puasanya memang berat sekali. Apalagi orang disekitarku tidak ada yang berpuasa. Hanya aku sendiri. Cobaannya begitu berat kurasakan. Susah tidur. Ketika ibu menggoreng ikan asin saja, aku sudah ngiler. Karena saking pinginnya. Setelah menyelesaikan puasa dua puluh satu hari, aku bisa melakukan gerakan-gerakan silat yang selama ini tidak pernah kupelajari.

Sukses berpuasa selama tiga puluh hari, membuat tekadku semakin kuat. Aku pun mulai berkelana dengan beberapa teman. Sesekali aku berguru ke Jawa Tengah. Tetapi aku tinggal di JawaTimur yang berbatasan dengan Jawa Tengah.

Kalau ada orang sakti, kudatangi. Biasanya aku datang bersama teman-teman seperguruan. Pernah, ketika bertandang ke ’orang sakti’ aku diisi dengan tenaga dalam tingkatan menengah. Setelah diisi langsung dicoba. Memang, ketika ada teman yang memukulku, dia langsung terpental. Waktu itu aku heran, kok bisa begitu. Aku pun menganggap itu adalah kelebihan yang diberikan Allah.

Selama berkelana, orang tuaku berpesan, agar aku tidak bekerja sama dengan jin. ”itu ngga boleh,” katanya. Sepengetahuan orang tuaku dukun-dukun itu bekerja sama dengan jin. Tapi apa tang kupelajari berbeda dengan ilmu perdukunan. Aku wiridan dengan ayat-ayat Al-Qur’an atau doa yang berbahasa Arab. Jadi, mereka tidak melarang.

Wiridan Dua Juta Kali

Masa-masa SMA tidak jauh berbeda. Aku masih bergelut dengan dunia kesaktian. Entah sudah berapa tempat yang kudatangi. Selain itu, aku juga mulai membiasakan diri bermalam di kuburan. Lebih dekat dengan orang-orang sakti yang jasadnya terbaring di dalam tanah, pikirku. Bagi kebanyakan orang, kuburan adalah tempat yang angker. Jangankan bermalam disana, untuk melintas siang hari saja banyak yang tidak berani. Rasa takut itu seakan sudah hilang dari diriku. Bagiku, bermalam di kuburan tidak berbeda dengan bermalam di rumah sendiri. Aku merasa nyaman saja disana. Terlebih aku merasa dapat lebih dekat dengan orang-orang sakti disana.

Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jawa Timur. Aku masuk fakultas sastra Inggris. Awalnya, kujalani masa perkuliahan dengan senang. Hingga suatu ketika, teman-teman di fakultas mengadakan kegiatan yang bernuansa islami. Saat itulah, aku tertegun dengan bacaan al-Qur’an yang di perdengarkan di awal acara. Terasa ada desiran-desiran halus yang merasuk ke dalam jiwa. Ada dorongan yang mengarahkanku untuk menjadi seorang penghafal al-Qur’an.

Dorongan yang kuat itu tak mampu lagi kutahan. Hingga akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan sastra Inggris dan bergelut dengan al-Qur’an. Ketika kusampaikan keinginanku itu kepada orang tuaku, mereka tidak melarang. Mereka hanya berpesan, agar aku serius dengan keputusanku. Menjadi seorang penghafal al-Qur’an tidaklah semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan tekad yang membaja agar tak luntur di tengah jalan.

Nasehat orang tua kusanggupi. Aku pun meninggalkan rumah dengan satu tujuan. Mencari pondok tahfidz. Pilihanku adalah Banten, Jawa Barat. Meski di Jawa Tengah juga ada pondok tahfidz, tapi aku lebih memilih Banten. Lokasinya yang jauh dari rumah menjadi alasan tersendiri mengapa aku memilih Banten. Biar tidak pulang terus, jawabku ketika ditanya bapak.
Waktu pertama ke Banten itu seakan ada yang membimbing. Bukan ke pondok tahfidz, tapi aku diarahkan ke pesantren yang mengajarkan ilmu kesaktian. Ceritanya begini. Aku belum pernah ke Banten. Sementara wilayah Banten itu luas dan banyak pesantrennya. Ketika sampai di terminal Kalideres Jakarta Barat, kondektur bertanya, ”mau kemana” kujawab saja ”Banten” sambil kuserahkan uang dua ribu lima ratus rupiah.

Ternyata aku diturunkan di Cadasari. Disana ada pesantren yang terkenal. Ongkos bis pun juga pas. Dua ribu lima ratus rupiah. Sebenarnya, ketika tiba di daerah Cadasari, rasanya aku sudah ingin turun saja. Sepertinya, hatiku cocok dengan daerah tersebut. Padahal aku belum mendapat informasi apa-apa tentang Cadasari. Apakah ada pondok tahfidz atau pondok yang mengajarkan ilmu-ilmu islam lainnya.

Setelah bertanya kesana kemari, aku disarankan untuk mondok disebuah pesantren terkenal disana. Kupikir, tidak ada salahnya bila aku belajar di pondok tersebut. Toh, banyak juga santri dari daerah lain yang juga punya tujuan yang sama denganku.

Masalahnya, pondok tersebut tidak mengkhususkan diri dalam hafalan al-Qur’an. Ia tak ubahnya seperti pondok-pondok lain yang bergaya salaf yang mengajarkan kitab kuning. Kitab kuning adalah sebutan untuk kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak berharakat.

Di sanalah aku berlabuh. Meski di pondok tersebut tidak ada hafalan al-Qur’an, aku tidak terlalu kecewa. Karena aku mendapat gantinya. Cita-citaku menjadi ’orang sakti’ dapat kembali terasah. Lelakon puasa atau wiridan-wiridan tertentu kembali menjadi menu harianku.

Untuk menjadi orang yang ’sakti’ aku mengamalkan Hizb Nashr yang diawali dengan puasa tujuh hari. Hari pertama, berbuka dengan tujuh suap nasi. Hari kedua dengan enam suap, begitu seterusnya hingga hari ketujuh, aku tidak makan sama sekali.

Berat memang. Tapi karena tekad yang membaja, semua hambatan itu seakan tidak ada artinya. Bersamaan dengan puasa itu, aku juga harus wiridan ayat dan do’a-do’Aceh tertentu setiap selesai solat. Nah, saat mewirid Hizb Nashr itu ada keanehan.

Dari hidung, mata dan pori-poriku keluar darah. Tapi anehnya, aku tidak merasakan sakit. Menurut penjelasan yang kudengar, katanya, darah itu keluar sebagai akibat dari suhu panas dalam badanku yang meningkat saat merapal wirid Hizb Nashr.

”kamu tidak usah khawatir. Itu tidak berbahaya. Kalau ingin menghentikannya, bacalah al-Qur’an, maka darah akan terhenti dengan sendirinya,” kata guru memberi wejangan sebelum aku mulai lelakon Hizb Nashr.

Aneh memang. Darah tidak lagi keluar dari hidung, mata dan pori-pori begitu kubacakan al-Qur’an. Entahlah mengapa hal itu bisa terjadi. Waktu itu aku tidak begitu memperdulikan. Aku hanya ingin menguasai Hizb Nashr, tanpa banyak mempertanyakan keanehannya.

Hizb Nashr hanya sebagian dari ilmu kesaktian yang kupelajari. Terkadang, aku harus memasang telinga lebar-lebar dimana ada guru yang sakti di Banten. Bila sudah dapat kesanalah aku berguru.

Untuk menguasai sebuah ilmu aku pernah wiridan sebanyak dua juta kali. Jumlah yang sangat besar memang. Untuk menyelesaikannya, aku tidak keluar kamar selama empat puluh hari.
Mencuci pakaian saja, aku tidak sempat. Aku meminta tolong salah seorang temanku. Keluar kamar pun aku hanya sesekali. Itu pun hanya untuk berwudhu. Selebihnya aku duduk bersila diri di kamar dengan terus wiridan.

Orang kampung yang lama tidak melihat kehadiranku ditengah-tengah mereka penasaran. Mereka hanya mendengar kabar dari teman-teman bahwa aku lelakon di kamar. Mereka semakin penasaran. Kok lama sekali, kata mereka. Aku memang akrab dengan warga sekitar. Tidaklah mengherankan bila mereka penasaran.

Mereka ingin masuk, tapi tidak kutanggapi. Pintu tetap kukunci rapat. Akhirnya mereka menjebol jendela kamar. Begitu jendela kamar terbuka mereka langsung lari terbirit-birit.
Padahal aku hanya melihat sekilas kearah mereka. Katanya, mereka melihat seekor macan yang hendak menerkam. Sementara dari wajahku terpancar cahaya yang menyilaukan.
Selama wiridan, aku merasakan ada cahaya yang senantiasa menerangi kamar. Siang dan malam, cahaya itu tak pernah redup. Cahaya itu berasal dari sumber yang berbeda-beda. Terkadang, ada cahaya yang berasal dari sinar lampu. Sering kali cahaya itu berganti seperti cahaya bulan.

Pada saat lain berganti dengan cahaya lain. Tepat diatas kepala. Wajar memang bila ada yang membuka jendela kemudian terkejut.
Selain itu, aku juga sering didatangi orang. Ada yang mengaku guruku. Ada pula yang mengaku Sultan Hasanuddin atau cewek setengah badan. Mereka mengajakku dialog, tapi tak pernah kuhiraukan. Kubiarkan mereka bicara semaunya, hanya kutatap sepintas sebelumnya akhirnya aku larut dalam wiridan. Bagi orang yang terbiasa lelakon seperti diriku, pemandangan seperti itu bukan barang baru. Itu sudah lumrah.

Setelah menyelesaikan wiridan dua juta selama empat puluh hari, dilanjutkan lagi dengan puasa selama 49 hari. (yang sedang kupelajari itu adalah ilmu taisir maghrobi dan saiful maslul).

Menjadi Dukun Sejak di Pesantren

Lima tahun setengah aku mondok di Banten. Dalam rentang waktu itu banyak ilmu kesaktian yang kukuasai. Ilmu kebal, halimunan (menghilang dari pandangan orang), tenaga dalam maupun ilmu pelet.

Khusus untuk ilmu halimunan, sejatinya orangnya tidaklah menghilang. Hanya saja, ia tidak nampak di mata orang lain. Seakan ada pembatas transparan yang menutup pandangan mereka. Meski demikian, ilmu halimunan ada pantangannya. Ia tidak boleh dipakai untuk mencuri. Kalau pantangan tersebut dilanggar, maka ilmu halimunan akan hilang.
Dari berbagai ilmu kesaktian itulah aku bertahan hidup di pesantren. Terus terang, aku tidak pernah meminta kiriman uang dari orang tua di kampung. Sementara kebutuhanku terbilang besar. Kalau sekedar untuk makan, memang tidak seberapa. Tapi pengeluaranku terbanyak adalah untuk belajar ilmu kesaktian.

Untuk menguasai satu jenis ilmu saja dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Aku harus membayar mahar yang kadang berupa emas sampai seratus gram. Semakin besar mahar yang diberikan, maka keampuhan ilmunya makin hebat. Hizb Nashr misalnya. Sebelum memulai puasa tujuh hari, aku harus menyembelih seekor kerbau. Dagingnya memang untuk dimakan ramai-ramai. Tapi tetap saja, aku harus menyediakannya. Bila belum tersedia kerbau, tentu aku tidak bisa mempelajarinya.

Lalu dari manakah aku dapatkan uang? Bagi orang sepertiku, untuk mendapatkan uang tidaklah terlalu sulit. Terlebih aku sudah dikenal sebagai ’orang sakti’ sejak merantau ke Banten. Entah bagaimana ceritanya, ada saja orang datang kepadaku. Macam-macam alasannya.
Ada yang ingin diisi tenaga dalam. Ada pula yang ingin belajar ilmu kesaktian atau juga minta dibantu agar cepat dapat jodoh. Dari merekalah, aku bertahan. Enaknya mondok di Banten itu satu orang menempati satu kamar. Jadi aku tidak perlu khawatir bila tamu-tamuku mengganggu orang lain.

Ada yang datang dari Lampung, Jakarta atau Banten dan sekitarnya. Tidak jarang pula ada yang mengundang ke rumahnya. Aku sendiri tidak tahu awalnya, bagaimana mereka tahu bahwa aku bisa mengobati.
Setelah lima tahun setengah di Banten, aku kemudian merambah ke pesantren-pesantren di sekitar Banten. Ke Cianjur, Bandung, Garut maupun pesantren lainnya. Aku pernah pindah ke sebuah pesantren di Cianjur, Jawa barat hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Uang pun hanya cukup untuk bekal perjalanan. Selebihnya, tidak tahu. Tapi yakin bahwa Allah itu Maha Kaya.

Waktu menamatkan shahih Bukhairi di Bandung pun begitu. Kok, tiba-tiba ada yang datang. Ia minta diajari ilmu kesaktian. Orang tahu saja, kalau aku punya ilmu. Padahal aku tidak bilang apa-apa kepada teman-teman baruku. Dengan modal begitu, aku berkelana dari pesantren ke pesantren lain. Kadang, sampai kelelahan mengobati pasien.

Terkadang, ada kyai yang berguru kepadaku. Waktu itu, aku mondok di pesantren yang mengajar kitab fiqih. Kiai yang juga guruku itu pun datang ke kamarku. Ia minta dikasih ilmu kesaktian. Awalnya, aku menolak. Aku merasa tidak enak. Tapi kiai sedikit memaksa. ”Mas,” katanya. Kiai memanggilku dengan panggilan Mas. ”Mas, kalau tahu dari dulu, dari dulu, Aa belajar sama Mas,” katanya. Kutolak dengan halus, tapi kiai tetap memaksa. Akhirnya aku ajarkan ilmu kesaktian dan pengobatan. Lengkap dengan wirid dan cara puasanya.

Perjalanan Menuju Taubat

Tahun 2003, aku berpindah lagi sebuah pesantren di Tanggerang, Jawa Barat. Tepatnya di pondok pesantren tahfidzul Qur’an. Setelah sepuluh tahun berkelanan dari satu pesantren ke pesantren lain, barulah aku bertemu dengan pesantren tahfidz.

Aku diingatkan kembali dengan tujuan awal merantau ke Banten. Tak lain, adalah ingin menghafal al-Qur’an. Ternyata selama sepuluh tahun itu, aku belum bertemu dengan pesantren yang tepat.

Disana, aku tidak bertahan lama. Karena tidak ada teman seusiaku yang juga menghafal al-Qur’an. Kebetulan, saat itu ada seorang teman menunjukkan sebuah lembaga tahfidz di Jakarta yang pesertanya bukan lagi anak-anak. Rata-rata mereka sudah lulus SMA.
Kuputuskan untuk bergabung bersama mereka. Nah, di lembaga tahfidz tersebut, wawasanku tentang keislaman mulai terbuka. Aku mulai banyak membaca sirah nabawiyah atau buku-buku lain yang mengupas keghaiban.

Hatiku tergugah, ketika aku merenungkan firman Allah dalam surat al-Jin ayat enam. Kubaca berulang-ulang. Kuresapi artinya secara mendalam. Hingga akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa apa yang kupelajari selama ini ternyata menyimpang dari tuntunan.
Ayat keenam dari surat al-Jin mengatakan bahwa ada beberapa orang manusia yang meminta bantuan kepada jin, dan itu hanya menimbulkan penderitaan semata.

Padahal ilmu kesaktian yang kupelajari selama sepuluh tahun itu tidak terlepas dari bantuan jin. Misalnya ketika wiridan dua juta itu, aku menggunakan apel jin atau kemenyan yang dibakar. Kutaruh apel jin di depan tempat duduk. Lain kali, aku juga menggunakan hio seperti yang digunakan orang Cina. Aku membaca wiridan dengan kemenyan mengebul.
Selain itu, aku baru menyadari bahwa ada sebagian doa permintaan bantuan kepada jin. Meski lafadznya berbahasa Arab. Tapi tetap saja doa itu terlarang.

Sejak itu, aku menghentikan wiridan-wiridan yang biasa kubaca setiap saat. Kuganti dengan ayat-ayat al-Qur’an, yang menyejukkan jiwa. Selama mempelajari ilmu kesaktian hingga saat menghafal al-Qur’an aku memang tidak merasakan adanya gangguan secara fisik maupun psikis. Tapi hal itu bukan berarti dalam diriku tidak ada jinnya. Aku memiliki sekian banyak jin sebagai hasil dari wiridan dan puasa yang kulakukan. Jin-jin tersebut yang membantuku dalam pengobatan. Aku yakin, ketika ilmu kesaktianku tidak lagi kuasah dengan membaca wiridan-wiridannya, maka ilmu tersebut secara perlahan akan menghilang. Seperti pisau yang tidak pernah diasah, maka pisau tersebut makin lama makin tumpul.

Untuk itu, aku senantiasa melakukan penjagaan diri dengan membaca doa-doa perlindungan maupun mendengarkan kaset ruqyah terbitan ghoib pustaka. Tak lupa pula aku senantiasa melakukan ruqyah mandiri dengan ayat-ayat al-Qur’an yang telah kuhafal.

Alhamdulillah setelah tiga tahun di lembaga tahfidz, aku berhasil menyelesaikan setoran hafalan. Kini, tinggal bagaimana aku bisa membagi waktu, agar hafalan al-Qur’an tidak menguap begitu saja.
Praktik perdukunan itu telah kutinggalkan di belakang. Kini, jika ada pasien yang datang berobat, aku tidak lagi menggunakan ilmu-ilmu kesaktian yang pernah kupelajari selama sepuluh tahun. Tapi justru aku meruqyahnya dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadist yang shahih.

Dalam beberapa kesempatan, aku juga diundang mengisi kajian membongkar kesesatan ilmu kesaktian yang selama ini sebagiannya diajarkan di pesantren.




Bedah Kesaksian

Jin menyusup Dalam Wiridan Hizib

Pada kesaksian kali ini kita hadirkan mantan dukun yang telah bertaubat. Bahkan, ia kini telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an dan telah berganti profesi. Ia tinggalkan praktik perdukunan dan menggantinya dengan ruqyah sebagai cara pengobatan.

Kita layak mengacungkan jempol atas keberaniannya untuk membongkar kesesatan praktik perdukunan yang digelutinya selama ini. Dida. Begitu namanya kita samarkan. Ia sangat berkompeten untuk ‘perselingkuhannya’ dengan jin ketika belajar ilmu kesaktian. Ia paham secara mendalam seluk beluk ilmu yang dipelajarinya. Hingga beberapa kyai akhirnya berguru kepadanya.

Sepuluh tahun yang lalu, orang tua Dida telah berpesan. Ia telah berpesan. Ia boleh belajar ilmu kesaktian asal tidak bekerja sama dengan jin. Syarat yang simple. Namun bermakna dalam. Ia membebaskan anaknya belajar apa saja, asal tidak menyekutukan Allah.

Begitulah seharusnya setiap orang tua berpesan setiap tua berpesan kepada anak-anaknya. Sebagaimana dahulu Luqmanul Hakim berwasiat kepada anak-anaknya. Namun sayang. Pemahaman orang tua Dida tentang tipu daya jin masih sebatas kulit. Ia tidak tahu bahwa anaknya telah bekerja sama dengan jin.

Yang ia tahu, dukun-dukun di daerahnya lah yang bekerja sama dengan jin. Sementara apa yang dipelajari Dida, katanya, berasal dari ayat-ayat al-Qur’an serta do’a-do’a yang berbahasa Arab. Ya, syetan memang licik. Ia memanfaatkan segala peluang yang ada untuk menggelincirkan manusia. Ayat al-Qur’an pun tidak luput dari bagian jerat-jeratnya. Hingga tidak sedikit orang terkecoh. Mereka telah meminta bantuan dengan jin tanpa sadar.

Kita biarkan Dida membuka kedok ‘perselingkuhannya’ dengan jin saat dia merapal wirid dari hizib-hizib tertentu. Disini, kita mengambil dua contoh saja, dari sekian banyak hizib yang dikuasai Dida. Yang pertama hizib Nashor. Untuk menguasai hizib ini, Dida atau siapa pun orang yang mempelajarinya harus berpuasa terlebih dahulu. Untuk tingkatan pertama, puasa selama empat puluh hari. Tingkatan kedua, puasa selama tiga bulan. Dan tingkatan ketiga puasa seminggu.

Untuk tingkatan pertama dan kedua, puasanya tidak berbeda dengan puasa yang diajarkan Rasullah. Sedangkan tingkatan ketiga, secara jumlah memang lebih sedikit. Tapi tata cara pelaksanaannya yang memberatkan. Untuk hari pertama, Dida hanya berbuka dengan tujuh suap nasi. Hari kedua enam suap. Begitu seterusnya, tiap malam ia berbuka dengan bilangan yang semakin mengecil sehingga ditutup dengan puasa ngebleng. Ia tidak makan dan minum selama empat puluh jam. Selain itu ia mengamalkan wiridan-wiridan tertentu setiap habis shalat.

Dilihat sepintas, hizib nashar seakan tidak bertentangan dengan syari’ah. Karena didahului dengan puasa serta mengamalkan wiridan dan doa-doa tertentu. Tapi justru disinilah syetan menyusup dengan halus.

Bukankah puasa itu bagian dari ibadah, maka tata caranya juga harus mengikuti apa yang diturunkan Rasulullah. Kita tidak boleh membuat aturan tersendiri. Rasulullah menegaskan dalam sebuah hadist, “Barang siapa yang mengamalkan suatu perbuatan (ibadah) yang tidak ada perintah dari kami, maka amalannya itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sejatinya halal dan yang haram sudah dijelaskan. Tata cara pelaksanaan setiap ibadah juga sudah diterangkan dengan jelas baik melalui al-Qur’an maupun contoh langsung dari Rasulullah.
Ketika Rasulullah meninggal dunia, agama islam ini mencapai titik kesempurnaannya. Bukalah lembaran al-Qur’an pada surat al-Maidah ayat tiga, maka kita akan menemukan firman Allah. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu….”

Tata cara puasa telah dijelaskan Rasulullah. Tidak ada penjelasan dalam hadist yang shahih bahwa Rasulullah pernah berpuasa empat puluh hari lalu dilanjutkan dengan tiga bulan dan ditutup dengan puasa seminggu. Kalau Rasulullah tidak mengajarkannnya, maka puasa hizib nashar itu hukumnya tertolak. Ia tidak diterima oleh Allah. Karena diantara syarat diterimanya ibadah adalah tidak menyimpang dari aturan yang telah digariskan Allah.

Bila demikian, lalu siapakah yang menyusup ke dalam kesaktian yang diperoleh setelah menyelesaikan lelakon hizib nashar? Apakah dia malaikat? Jawabannya adalah tidak.
Malaikat tidak akan menolong orang yang bermaksiat kepada Allah. Yang datang menolong itu adalah jin. Buktinya, Dida menjelaskan bahwa hizib nashar bisa digunakan untuk pengisian wifiq atau jimat. Yang dimasukkan kedalam wifiq atau jimat itu adalah jin.

Saat pengisian itu Dida menggunakan apel jin maupun hio yang dibakar. Apel jin dan hio sama dengan kemenyan, hanya harganya lebih mahal. Ketika asap sudah mengepul, maka Dida memanggil khadam jin dan memasukkannya ke dalam wifiq atau jimat dengan membaca ”Ya khodaama hadzihil asma’i....”

Sementara surat al-Jin ayat enam mengingatkan manusia agar tidak bekerja sama dengan jin. Karena itu waspadalah. Jangan mudah terkecoh oleh tipu daya jin yang berlindung di balik ayat-ayat al-Qur’an. Karena hanya menimbulkan petaka dan bencana. (Dikutip dari majalah Al-Iman bil Ghoib edisi 87 th. 4/26 Rajab 1428 H/10 Agustus 2007 M. Halaman 38-44. )

Pertobatan Seorang Praktisi Tenaga Dalam dan Ilmu Ghoib


Ruqyah-online.blogspot.com-Sungguh, saya (Pitoko) tak pernah mengira pada akhirnya saya berurusan dengan dunia jin. Meski saya adalah seorang pengacara, tetapi tetap saja tidak bisa menghindari kenyataan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada makhluk lain yang juga menempati dunia ini sama dengan manusia.

Apa yang saya alami ini, tidak terlepas dari masa lalu saya. Ketika itu saya tertarik mempelajari tenaga dalam dari seseorang yang katanya tidak menggunakan unsur jin. Hal ini terlihat pada iklan mereka di sebuah surat kabar terbitan Yogyakarta.

Saya terpikat dengan slogan mereka yang katanya islami, dari kalimat ‘tauhid’ yang tertera pada nama perguruan tersebut. Dalam ulasan berita itu disebutkan berbagai kehebatan ilmu perguruan itu yang katanya di sarikan dari Al-Qur’an dan mengajak untuk syiar islam serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Saya pikir, inilah yang saya cari selama ini.

Pendek kata, setelah memenuhi segala persyaratan termasuk juga membayar ‘mahar’, saya resmi jadi anggota perguruan beladiri tenaga dalam tersebut. Pada hari pertama sebelum menjalani latihan yan sudah diprogramkan, semua murid angkatan saya diisi dadanya. Selanjutnya diperagakan berbagai atraksi kehebatan dan kesaktian ilmu dalam perguruan itu oleh murid-murid senior.

Menurut saya ilmu-ilmu yang diajarkan sangat banyak, dan sepertinya ilmu sang guru tidak ada habis-habisnya. Hampir semua ilmu yang dimiliki dan diperagakan oleh perguruan lain yang pernah saya lihat di TV dan media cetak lain, serta terdapat di berbagai daerah, ternyata dikuasai oleh sang guru dan diajarkan kepada murid-muridnya. Katanya sang guru telah belajar 57 guru (pendekar) yang terbesar diseluruh indonesia. Hebatnya, seluruh jurus dapat diperagakan secara gerakan fisik maupun batin, mempunyai efek yang sama. Untuk kesaktian maupun pengobatan. Ya pantas saja kehebatannya tidak ada habis-habisnya, karena diambilkan dari Al-Qur,an, pikir waktu itu.

Katanya, ilmu-ilmu tersebut warisan dari seorang wali. Semua murid wajib menjalankan agama islam, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya agar menjadi orang bertaqwa. Semakin tebal ketaqwaannya, maka akan semakin cepat tinggi pencapaian ilmunya. Jadi tidak mutlak di tentukan berapa lama dan tingkat berapa dalam perguruan itu, semua tergantung ketaqwaannya. Sangat ditekankan agar banyak bedzikir kalimat tauhid.

Sejak awal mengikuti latihan ibadah menjadi relatif lebih baik, mungkin karena berdzikir sebagai bagian dari amalan agar memperoleh “kesaktian” sehingga bisa mengobati diri sendiri maupun orang lain. Banyak pengalaman spiritual yang saya alami ketika berdzikir seperti melihat sinar bergelombang yang masuk ke dalam mata saya yang hampir selalu terjadi dalam setiap bedzikir.

Lain waktu, ketika membaca Al-Qur’an dan kebetulan lampunya mati maka sinar biru keputih-putihan memancar dari Al-Qur’an dan menuntun saya membaca ayat demi ayat. Pada saat membaca surat Yaa siin tiba-tiba seluruh tubuh saya bergetar hebat. Saya sempat terjengkang tiga kali.

Dengan adanya “kelebihan-kelebihan” itu, maka saya pikir jauh melebihi ilmu kebatinan dalam keyakinan kejawen seperti yang dipelajari bapak dan saudara saya.

Bulan pertama, semuanya masih berjalan lancar. Tidak ada sesuatu yang perlu di khawatirkan. Tapi selang beberapa minggu berikutnya ketenangan saya mulai terusik. Bagaimana tidak, bila setiap berdzikir dalam hati maka yang keluar adalah bisikan-bisikan yang menggelisahkan hati saya. “Anallah…Anallah… (saya adalah Allah, Saya adalah Allah)”. Itulah bisikan yang selalu keluar.

Jika demikian, saya segera berkonsentrasi dan mengarahkan hati untuk melafadzkan kalimat tauhid, “laa ilaaha illallah”. Tapi bisikan-bisikan itu terus mencerca saya, “Anallah… Anallah”.

Awalnya saya berpikir bahwa hal ini disebabkan pengaruh buku tentang Al-Hallaj yang sempat saya baca. Al-Hallaj adalah seorang sufi dari Mesir yang dihukum pancung karena menyebarkan paham wihdatul wujud (Bersatunya tuhan dengan hamba). Suatu keyakinan menyatunya hamba dengan Tuhan yang terungkap dalam pernyataan, “Anallah…”. Tapi setelah bisikan “Anallah…Anallah” selalu hadir saat berdzikir, saya pun semakin resah.

Meskipun hati saya gelisah, tapi kehebatan saya kian lama kian meningkat. Hingga empat bulan tanpa terasa saya bergabung dengan mereka. Hanya dengan melafalkan kalimat tauhid, lalu menerapkan jurus-jurus yang diajarkan dalam perguruan, baik secara halus dalam batin, kesaktian atau ilmu itu muncul begitu saja. Saya selalu berhasil. Sepertinya Allah selalu mengabulkan permintaan saya atau permintaan setiap orang yang belajar di perguruan ini, begitulah keyakinan saya saat itu.

Dari sinilah mulai muncul pertanyaan dalam hati, apakah sedemikian tinggi kualitas ibadah saya sehingga Allah dekat dengan saya? Jangan-jangan ada ‘oknum’ lain yang berperan mengabulkan doa saya?


a. Dipandang Menjadi Murid oleh Orang-Orang ‘Sakti’

Pertanyaan-pertanyaan itu, melahirkan keraguan. Saya mulai curiga ketelibatan “oknum” lain, yaitu syetan yang menipu. Sejak itu batin saya bergejolak. Saya gelisah. Akhirnya saya putuskan keluar dari perguruan dengan diam-diam.

Waktu terus berjalan. Secara perlahan muncul rasa enggan terhadap segala macam ilmu tersebut. Namun, ada peristiwa lain yang menyebabkan saya harus berhubungan dengan orang linuwih. Suat ketika saya menemani seorang teman bertemu Eyang Slamet di lereng gunung Merapi, yang dipandang sebagai “orang pintar” oleh sebagian masyarakat.

Saya heran setengah mati, begitu mendengar pernyataannya bahwa saya adalah cucunya. Padahal selama ini tidak ada seorang pun keluarga bapak maupun ibu yang menyatakan bahwa mereka punya hubungan kerabat dengan Eyang Slamet. Waktu itu saya tidak percaya begitu saja akan ucapnya. Saya hanya menganggapnya sebagai orang biasa.

Apakah dia bisa membaca pikiran saya, saya tidak tahu. Tapi yang jelas, tepat tengah malam saya disuruh berdzikir di area perkebunan yang sepi di belakang rumahnya. Di sana saya melihat Eyang Slamet menunjukkan kesaktiannya. Setiap ada yang bermaksud menyentuhnya, maka ia langsung terjengkang. Seakan ada aliran listrik yang mengaliri tubuhnya. “Ini untuk perlindungan dari serangan santet”, ujar Eyang Slamet, saat menangkap sinyal keterkejutan dalam diri saya.

Selain itu, wajah Eyang Slamet pun berubah-ubah, matanya yang semula hanya dua, kini bergerak-gerak, entah bagaimana caranya, hingga akhirnya mata itu pun berjumlah lima, sejurus kemudian, kelima mata diraut mukanya kembali bergerak sedemikian rupa dan menyatu membentuk satu mata yang besar.

‘Deg deg deg’ jantung saya seakan terpacu, keringat dingin pun membasahi kulit saya. “Apalagi kamu, jin saja takut melihat saya”, ejek Eyang Slamet, saat melihat muka saya pucat pasi.

Sedetik kemudian, lampu dimatikan. Hitam pekat diiringi deru suara dedaunan tertiup angin. Bayangan mata satu yang besar belum hilang dari benak saya, tiba-tiba dalam kegelapan dan keheningan itu keluar warna putih yang terus membesar. ‘Woow’ jerit saya terpekik. Tubuh Eyang Slamet meninggi dan tangannya yang berwarna putih seakan cahaya ditengah kegelapan.
“Ini untuk dakwah Islamiyah”, kata Eyang Slamet kemudian. Eyang Slamet memang aneh, dia hanya bekerja diladang pada malam hari sampai pagi. Siangnya di rumah. Ia pun menginginkan saya menjadi muridnya. Tapi keinginan itu saya tolak dengan halus, cukup sudah kegelisahan yang terjadi kemarin. Saya tidak ingin memperdalam sesuatu yang mendatangkan kegelisahan dan ketidaktenangan.

Pada kesempatan lain, saat KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Semarang saya berkenalan dengan seorang kyai pemilik pondok pesantren. Dia tertarik pada saya dan mengajak menemui gurunya di daerah temanggung. Saya sendiri juga melihat keanehan-keanehan dari gurunya itu. Apa yang saya pikirkan seakan diketahuinya.

Demikianlah, kesempatan-kesempatan untuk memperdalam kemampuan spiritual dari beberapa pihak itupun saya tolak. Sebenarnya yang saya cari sangat sederhana yaitu bisa beribadah dan punya sedikit pengetahuan agama. Itu saja.

b. Memutuskan Perkara dengan Bisikan

Meski pada dasarnya saya menolak dan sudah meninggalkan ilmu-ilmu linuwih, namun tanpa sadar, saya sering mendapatkan bisikan-bisikan dalam hati. Bisikan yang mengantarkan saya dalam dunia penerawangan atau mendapat firasat dalam bentuk mimpi atas apa yang belum terjadi.

Saat melamar menjadi dosen, misalnya. Saya seperti melihat sendiri dalam mimpi dan membaca surat penerimaan atas lamaran saya tersebut. Dan memang persis seperti apa yang saya baca saat di terima menjadi dosen disebuah perguruan tinggi. Bahkan sampai detail suratnya pun sudah saya ketahui sebelumnya. Demikian pula halnya ketika mengikuti seleksi menjadi pengacara, saya sudah tahu lebih dahulu bahwa saya akan lulus. Hal ini tidak lain karena adanya bisikan dalam hati.

Setelah menjadi pengacara bisikan dalam hati itu pun masih setia mengiringi perjalanan saya. Padahal sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak menangani sebuah kasus, biasanya saya shalat istikharah terlebih dahulu. Tapi disinilah justru syetan menunjukkan kelihaiannya. Dan muncullah bisikan-bisikan yang seakan itu adalah petunjuk Allah.

Bisikan yang sering menyebabkan saya terjebak dalam keruwetan yang berkepanjangan.
Ada sebuah kasus yang mulai saya tangani tahun 2000. seperti biasanya saya shalat istikharah. Saya mohon petunjuk kepada Allah apakah sebaiknya kasus tersebut saya tangani atau tidak. Ternyata setelah sholat istikharah, dari dalam dada saya terdengar suara yang saya dengar cukup keras dan berulang-ulang membisiki agar menangani kasus tersebut.

Akhirnya saya putuskan untuk menerima tawaran menangani kasus tersebut. Kini setelah bertahun-tahun menanganinya saya justru terjebak dalam keruwetan kasus itu sendiri, karena kasusnya menjadi melebar kemasalah lain yang lebih rumit.

Anehnya, setiap saya bertemu dengan pihak lawan, keraguan muncul dan lidah menjadi kelu, akibatnya saya sulit berbicara bila bertemu dengannya. Sungguh sangat mendebarkan. Selanjunya munculah kecemasan yang luar biasa. Bebarapa hari menjelang sidang pengadilan, bisa dipastikan saya dilanda kegelisahan yang tidak kalah beratnya. Malam menjelang sidangpun saya tidak bisa tidur.

Bila sudah demikian, saya menenangkan diri dengan bedzikir hingga berjam-jam lamanya. Barulah kemudian, saya memiliki keberanian untuk melangkah ke pengadilan. Itu pun di bawah ancaman kecemasan yang luar biasa. Hal semacam itu berlangsung terus menerus saat persidangan di tingkat pengadilan Negeri. Padahal untuk kasus-kasus yang lain, hal seperti ini tidak pernah terjadi.

Setelah perkara memperoleh putusan pengadilan yang memenangkan kami, maka pihak lawan mengajukan banding ke pengadilan tinggi. Di sini mulai lagi terjadi keanehan. Perkara yang sudah berlangsung empat tahun tidak juga turun. Setiap saya cek, selalu saja belum di putuskan oleh pengadilan tinggi. Jelas ini menyalahi peraturan yang berlaku. Perkara yang satu ini jelas seperti hilang lenyap di telan bumi. Saya sendiri setiap melangkah mau mengurus dan menyelesaikan perkara ini selalu saja merasa cemas dan gelisah.

Sejak perkara ini masuk ke pengadilan, klien saya menetap di Singapura dan tidak berani kembali kembali ke Indonesia. Ia tidak berhubungan dengan pengacara lain. Semua perkaranya hanya saya yang mengetahuinya. Kondisi yang sangat aneh dan membuat pikiran saya selalu cemas dan gelisah. Hal ini jelas sangat menguntungkan pihak lawan dan dia diuntungkan dengan menguasai rumah berikut isinya senilai hampir satu milyar, padahal sebenarnya itu bukan haknya.

Seiring dengan itu, kehidupan spiritual saya menjadi kacau, bahkan saya mulai berani meninggalkan shalat. Waktu itu tidak ada rasa bersalah. Semuanya masih saya anggap biasa saja. Apakah ini karena pengaruh pergaulan saya selama ini ataukah faktor lainnya, saya tidak begitu peduli. Yang jelas sedikit kesadaran yang menyeruak di dalam dada harus segera di jawab, karena itu saya pun mulai mengikuti kajian keislaman di Jakarta pusat. Inilah awal perkenalan saya dengan majalah Ghoib. Meski saya baru ikut terapi setahun kemudain. Hal ini tidak terlepas dari perasaan yang sulit dijabarkan. Setiap kali terbesit keinginan untuk terapi ruqyah ada saja alasan yang menggagalkannya.

c. Perjuangan Melawan Syetan

Saya pertama kali di ruqyah di kantor ruqyah Majalah Ghoib. Pada awal di bacakan doa-doa ruqyah, semula biasa saja tidak nampak reaksi. Namun sekitar sepuluh menit, tiba-tiba tubuh saya gemetar. Saya menjerit. Ustadz yang mendampingi segera bertindak dengan memijit telapak tangan saya sambil membacakan doa ruqyah dan tak lama kemudian saya menjadi tenang kembali.

Selanjutnya saat giliran pasien di terapi satu persatu, saat diterapi oleh ustadz Hasan Bisri. Begitu dibacakan doa di telinga, lagi-lagi saya gemetar dan berteriak-teriak. Saat ustadz Hasan Bisri menekan dan memijat bagian dada saya, kembali muncul reaksi dan ketika ustadz bertanya siapa jin yang bersarang di dada, dan dengan susah payah sambil merasakan kesakitan jin itu mengaku bernama Suryamo.

Dan ketika di tanya ada berapa dan dimana saja jin-jin yang lain berada. Maka secara reflek dan diluar kendali, tangan saya bergerak menunjukkan keberadaan jin dengan cara memegang bagian-bagian anggota tubuh saya sambil gemetar. “di kepala ada lima, di tengkuk dan leher ada lima, di dada ada lima, di kedua telapak tangan masing-masing ada lima, di perut ada lima, dikedua kaki masing-masing ada lima”, kata jin Suryamo. Total jendral semuanya ada lebih dari dua puluh lima jin. Masya Allah, tubuh saya menjadi sarang para jin.

Pada terapi yang pertama itu belum semua jin keluar dari tubuh saya, karena saya kelelahan dan ruqyah di hentikan. Selesai ruqyah yang pertama ini saya merasakan perubahan yang sangat nyata, dada saya terasa ringan sekali sepertinya beban-beban jauh berkurang, perasaan jadi gembira, pikiran terasa jernih dan bisa berkonsentrasi kerja. Namun, rupanya hal itu hanya saya rasakan dalam waktu kira-kira seminggu, karena setelah itu saya merasakan ada sesuatu yang masuk seperti hembusan angin menyelusup lewat kepala saya dan tiba-tiba kembali saya merasakan beban hidup ini menjadi berat, susah konsentrasi, lemas dan gelsiah lagi. Mungkin, jin itu masuk lagi.

Pada ruqyah kedua, jin-jin itu nampaknya semakin bandel dan agak susah keluar. Bahkan selesai ruqyah kedua ini entah kenapa kepala saya terasa berat dan pusing. Ketika pulang, saya merasa kebingungandan tidak tahu arah pulang, padahal saya sudah sangat paham dan kenal dengan jalan pramuka tempat kantor Majalah Ghoib. Berkali-kali saya tanya orang tentang arah yang akan saya tuju. Meski sudah di kasih tahu, tapi tetap saja saya tidak tahu jalan meski sudah berkali-kali di tunjukkan.

Namun, pada akhirnya alhamdulillah saya perlahan-lahan mulai bisa mengenali arah jalan dan bisa pulang dengan selamat. Sedemikian beratnya gangguan yang saya hadapi sehingga jin yang bersarang dalam diri saya itu pun harus dikeluarkan secara perlahan. Saya tidak peduli berapa kali harus datang dan ruqyah di kantor ruqyah. Bagi saya yang terpenting adalah terhindar dari kemusyrikan pada saat mengalami cobaan. Saya memaknai semua ini bagian dari penghapusan dosa atas kesalahan yang terjadi pada masa lalu. Dengan ini, Allah menegur saya.

Kini setelah mengikuti ruqyah terapi yang kesepuluh kalinya, saya merasakan diri saya jauh lebih baik. Rasa cemas yang biasa hadir kini jauh berkurang, bila tidak boleh dikatakan hilang sama sekali. Karena itu, saya mulai mengurus klien saya kembali setelah terkatung-katung selama empat tahun.

Bagi saya semuanya serba misteri dan saya tidak berani menduga-duga ada ulah dukun di balik semua ini. Saya sudah merasa jauh lebih baik, dan siap melakukan aktivitas kerja lagi sebagai seorang praktisi hukum.

Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun. Terlebih seorang praktisi hukum seperti saya yang hampir setiap hari ‘bermusuhan’ dengan orang lain. Ini adalah risiko pekerjaan. Tidak semua orang itu baik. Dengan kata lain, tidak sedikit diantara mereka yang akhirnya memanfaatkan dunia lain untuk kepentingan dan keuntungan mereka.

d. Bedah Kesaksian

Pitoko sebenarnya berniat baik. Bahkan sebenarnya sudah berusaha selektif memilih ilmu yang akan dipelajarinya. Pilihan dia jatuh kepada ilmu yang berembel-embelkan tauhid. Memang ini label yang sangat menyesatkan masyarakat Indonesia yang sangat tipis keilmuwan Islamnya. Untuk menggaet masyarakat tipe Pitoko yang berhati-hati agar tidak terjerumus, para penyebar kesyirikan memanfaatkan kata-kata sejenis. Seperti ilmu hikmah, karamah, tauhid dan sebagainya.

Dari sinilah kita bisa menagmbil dua pelajaran penting. Pertama, perkataan Ibnu Mas,ud radhiallahu, “Betapa banyak orang yang berniat mencari kebenaran tetapi tidak sampai kepada kebenaran itu”.

Maka dari itu, niat baik saja tidak cukup. Dan kebenaran tidak bisa diukur dengan perasaan belaka. Niat baik seperti yang dimiliki pitoko dalam rangka mencari keilmuwan Islam yang benar ternyata terbentur dukun. Awalnya ia sangat yakin dengan ilmu barunya itu. Apalagi banyak dzikir yang harus di rapal dan ibadah yang menjadi semakin rajin. Ini menambah keyakinan akan benarnya ilmu tersebut. Dia pun mulai mempunyai ilmu linuwih bisa mengobati. Tetapi dengan hidayah Allah, Pitoko mulai terganggu dengan ilmunya itu. Yang menunjukkan bahwa ilmu tersebut tidak benar, walaupun di awalnya nampak sangat benar dan istimewa.

Kedua, pentingnya memperdalam ilmu aqidah. Aqidah adalah ilmu terpenting dalam Islam. Karena ini berhubungan dengan masalah identitas kemusliman yang bisa tanggal sewaktu-waktu. Berhubungan dengan kisah Pitoko, masalah label tauhid bisa saja di catat para dukun. Demikian juga label positif yang lainnya. Yang penting adalah isinya. Jika labelnya madu tetapi isinya racun, maka tetap saja jangan di minum. Begitulah. Disinilah pentingnya ilmu agar tidak sesat. Untuk itulah buat syetan lebih mudah menyesatkan orang yang ahli ibadah tanpa ilmu daripada seorang ahli ilmu.

Penyesatan umat islam bisa sukses ketika umat ini bodoh. Kesaktian sihir seperti yang dipertontonkan para guru Pitoko bisa dikemas dan dipasarkan dengan label ilmu walisongo. Pitoko dan teman-temannya yang telah terbius dengan kata-kata tauhid itu, tetap menuruti perintah tidak logis untuk menelan pilor gir sepeda.

Pitoko mulai menyadari bahwa ilmu tersebut tidak benar, setelah dia mulai mendapati bisikan-bisikan dalam hatinya. Hatinya mulai bergolak oleh hidayah Allah yang mulai menyerapi setiap sisi hatinya. Bisikan yang selalu muncul ketika dia mengesakan Allah dalam dzikirnya.

Maka bisikan syetan selalu bermunculan dua dampak berbahaya. Kalau tidak menyesatkan pasti menyengsarakan. Atau menyesatkan dan sekaligus menyengsarakan.

Bisikan dalam hati Pitoko, ‘Anallah.. Anallah…(saya Allah, saya Allah)” adalah jelas-jelas bisikan syetan yang berusaha untuk meyakinkan akan keberadaan tuhan dalam dirinya. Syetan itu telah mengaku sebagai Allah. Pendusta besar itu berusaha menyeret Pitoko untuk meyakini sebuah kesesatan.

Bisa jadi apa yang diyakini Pitoko benar bahwa keyakinan wihdatul wujud (bersatunya tuhan dengan hamba) dalam dirinya mulai menyeruak. Dan ini didorong oleh jin yang telah bersarang dalam dirinya hasil pembelajaran ilmu sesatnya. Selama ini.

Bentuk penyesatan lainnya adalah, ketika Pitoko memutuskan untuk keluar dari kelompok ilmu tersebut dan menolak semua iming-iming kehebatan dari berbagai guru kesesatan yang di jumpai berikutnya, jin yang ada dalam dirinya mendorongnya kepada kesesatan yang lain. Yaitu berani meninggalkan perintah wajib bagi setiap muslim shalat. Pitoko diseret agar keluar dari Islam dengan cara membuatnya biasa ketika tidak melaksanakan perintah shalat wajib.

Dan memang begitulah, bisikan syetan membuat seseorang tersesat. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Hibban dari Aisyah radhiallahuanha, Rasulullah bersabda, “syetan tidak akan tinggal diam (untuk terus menganggu) salah seorang diantara kalian. Maka dia akan membisikkan pertanyaan, ‘siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ kemudian orang itu menjawab, ‘Allah’ syetan bertanya lagi, ‘Siapakah yang mencitakan dirimu?’ ‘Allah’ maka syetan kemudian bertanya, ‘siapakah yang menciptakan Allah?’. Maka jika salah seorang diantara kalian merasakan bisikan itu katakan, ‘Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’.

Bisikan syetan dimulai dari memunculkan keraguan dalam hati kita. Kemudian menganggap dosa menjadi biasa dan akhirnya dengan sadar berani mengucapkan atau melakukan perbuatan kufur. Bisikan syetan memang menyesatkan.

Selain menyesatkan, bisikan syetan juga menyengsarakan. Walaupun awalnya bisikan-bisikan itu terkesan membantu. Bahkan seakan orang yang dibantu jin dengan bisikan menjadi orang sakti yang tahu sebelum diberi tahu atau terjadi. Tetapi dengarlah pengakuan jujur Pitoko, “Meski saya akui, saya sering terkecoh oleh bisikan-bisikan itu saat menangani suatu kasus”.
Itulah sesungguhnya keadaan orang yang memelihara jin pertamanya terkesan membantu, tetapi yakinlah kasus Pitoko akan selalu terulang pada diri setiap orang yang mau mendengarkan bisikan jin. Pitoko yang biasanya mengambil keputusan yang berhubungan dengan pekerjaan beratnya dengan berdasarka pada bisikan itu. Kasus yang menurut bisikan baik untuk diambil, ternyata begitu diambil kasusnya ruwet, menegangkan dan tidak putus-putus, hanya menguras tenaga dan perasaannya saja.

Wajar saja hal itu terjadi, karena syetan itu seperti yang digambarkan Nabi, “Dia adalah pendusta besar”. Adapun bisikan-bisikan diawal yang selalu jitu adalah jebakan maut agar orang itu mau terus memakainya dan mau tunduk kepada jin itu.

Untuk itulah dalam Islam tidak ada kata kerjasama dengan jin (lihat QS. Al-Jin;06). Sangatlah lemah dalih boleh karena jinnya muslim. Karena keislamannya sangat tidak bisa dibuktikan, apalagi jin adalah pendusta besar. Jin yang bisa mengucap syahadat atau kalimat thayyibah sering di jadikan alasan bahwa itu adalah tanda keislamannya. Padahal seperti halnya manusia, bandit atau musuh Islam sekalipun bisa dengan mudah mengucapkan kalimat syahadat dan kalimat thayyibah. Pengakuan jin banyak ketidak jelasan dan ketidakbenarannya, yang jelas-jelas benar bahwa dia pendusta besar. (Diambil dari Majalah Ghoib Edisi 26 Th.2/19 Sya’ban 1425 H/4 Oktober 2004 M)

Pengakuan Guru besar Ilmu Metafisika

Ruqyah-online.blogspot.com-Pada pembahasan kali ini saya akan memaparkan penipuan-penipuan yang sering dilakukan paranormal dengan padepokan, lembaga atau yayasan yang bergerak dalam pemasaran dibidang ilmu-ilmu kesaktian (Reiki, meditasi, tenaga dalam, ilmu hikmah, aji-aji kesaktian dan ilmu-ilmu sejenis) dalam menjerat calon mangsanya yang kesemuanya saya dapatkan dari pengakuan seorang mantan Grand Master Ilmu Ghoib yang telah bertobat.

Pengakuan dirinya dalam membohongi calon mangsanya akan saya paparkan dengan sedikit mengedit dan memperbaiki susunan kalimat yang telah ditulisnya (Silahkan buka websitenya di http://paranormalsakti.freehomepage.com). Pengakuannya adalah :

Kenalkanlah kami adalah bekas paranormal atau dukun atau guru ilmu ghaib dari salah satu kota besar di Jawa Barat yang dulu gemar akan hal-hal supranatural hingga kami sempat beberapa tahun mendirikan perguruan ilmu gaib dengan dalih membantu sesama manusia. Maksud kami membuat tulisan ini yaitu sebagai persembahan kepada bangsa Indonesia sekaligus memberi masukan kepada generasi muda bangsa untuk mendapatkan informasi-informasi penting terhadap kegiatan-kegiatan supranatural yang dulu pernah kami tekuni untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidup baik itu berbentuk finansial atau berupa sikap atau rasa hormat dari orang lain.

Maksud kami yang lain dalam membuat tulisan ini yaitu untuk meminta maaf kepada para pasien atau pengikut-pengikut kami yang telah lama kami sesatkan imannya melalui praktek-praktek sesat yang kami ajarkan sekaligus kami juga berusah untuk menyelamatkan seluruh umat beragama dengan cara mengingatkan akan bahaya-bahaya kesesatan yang sengaja dilakukan oleh ahli-ahli spritual yang berkedok Agama.

Maaf juga kepada mereka-mereka yang masih menjalankan praktek-praktek paranormal karena mungkin perkataan saya terlalu tajam untuk mengungkapkan seluruh trik-trik saya sewaktu mengurusi menejemen padepokan.

Penjelasan-penjelasan kami bukan berdasarkan fitnah dan kebohongan yang kami sengaja perbuat, melainkan berdasarkan pengalaman dan riset terhadap aktivitas-aktivitas paranormal di Indonesia. Dalam tulisan kami ini, kami memberikan penjelasan secara transparan dan terbuka karena kami merasa cukup memiliki banyak sumber yang telah memberikan kami input untuk memberikan informasi kepada umat beragama terhadap tipu daya para tukang sihir, dukun, paranormal yang sembunyi didalam aktivitas-aktivitas agama. Kami juga berusaha untuk membuka akal para umat beragama untuk lebih pintar dalam menyeleksi segala macam tipu daya yang dilakukan melalui aktivitas-aktivitas agama. Kalau nanti ada yang merasa kunci rahasia bisnisnya terbuka, silahkan saja ambil positifnya karena maksud baik saya sebenarnya yaitu untuk mengingatkan anda bahwa generasi bangsa Indonesia semakin lama semakin cerdas dan kritis, oleh karena itu jangan pernah kita mencoba untuk membunuh motivasi dan semangat belajar dan kerja mereka untuk bersaing dalam dunia global.

Kemampuan generasi muda dalam bersaing didalam dunia internasional sudah waktunya kita dukung karena mereka adalah sumber daya manusia yang potensial dalam memajukan negara kita tercinta ini. Walaupun anda mengatakan saya sebagai manusia munafik karena pernah menjalankan praktek-praktek penipuan, semua itu akan saya terima dengan tulus. Sekarang: Apakah kalian ingin kembali kejalan yang benar seperti saya dan paranormal-paranormal yang lain yang telah insyaf, atau anda tetap menginginkan jalan dosa yang sama, atau anda sedang menunggu sampai anda mengumpulkan jutaan rupiah yang sudah anda tentukan sebelum anda insaf ?Dan yang terpenting jangan sampai ada salah satu dari generasi kita terhempas kedalam jurang kemusyrikan sehingga mengandalkan ilmu-ilmu sihir yang sangat bertentangan dengan ajaran agama. Saya juga tahu bahwa mungkin praktek penipuan ini dilakukan demi mencukupi kebutuhan hidup. Tetapi tegakah anda menipu ribuan umat beragama ke dalam syirik hanya dengan dalih mencari makan? Kita hidup didunia hanya sementara dan ingatlah...jangan sampai hidup kita yang sekilas ini diisi dengan dosa-dosa besar yang bisa kita hindarkan.

Berikut ini adalah fakta tentang guru di perguruan kami:

Terus terang saja, dari lamanya kami menggeluti dunia supranatural, sebenarnya kami saling bertanya satu sama lain mengenai ilmu yang kami, masing-masing, miliki. Setelah beberapa bulan menjalani pembohongan publik tentang ilmu ghaib di perguruan kami, Akhirnya kami saling bertanya satu sama lain tentang eksistensi ilmu-ilmu kami, dan ternyata ilmu-ilmu kami tidak sebanding dengan kebohongan yang kami lakukan kepada publik dan pengikut kami. Tapi karena terdesak oleh masalah finansial, kami secara berat hati menjalankan kegiatan-kegiatan paranormal di perguruan kami ini (saking terdesaknya sehingga kami beranggapan bahwa dosa kami bisa dinegosiasi dengan Allah kelak) walaupun kami tahu bahwa kemampuan kami untuk menolong orang sangat terbatas. Kami waktu itu sepakat bahwa, memberi motivasi dan percaya diri kepada para pasien akan kekuatan ilmu adalah kunci untuk mendapatkan kredibilitas-kredibilitas dari publik supaya mereka tetap percaya kepada perguruan kami. Adapun kata "kunci" yang kami sering gunakan untuk menghempas sikap penasaran para pengikut kami, yaitu: "atas ijin Allah".

Di halaman ini anda akan menemukan trik-trik kesuksesan kami dan paranormal lain dalam memperdayai para pengikut dan pasiennya:

Sebagai layaknya seorang dukun, romo, paranormal, orang pintar, atau apapun namanya, kami melakukan banyak kebohongan-kebohongan kepada publik supaya mereka tetap memberikan sikap positif terhadap kami bahkan tidak sedikit dari mereka menganggap kami sebagai seorang wali yang keramat.

A. TRIK-TRIK MENDAPATKAN PASIEN

1. Forum Internet.

Kami membuka forum di internet pada awal tahun 1999 sampai awal tahun 2000, dimana pengunjung bebas mengajukan pertanyaan kepada kami seputar topik supranatural. Dalam setengah tahun, kami melayani 20 sampai 35 pengunjung perhari dari sekitar 250 members yang terdaftar dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Brunei, Malaysia, Belanda, Australia dsb. Akhirnya pada awal 2000, kami menutup forum tersebut karena salah satu dari anggota guru yang berkecimpung dibidang komputer atau internet, mendapatkan tugas ke kota Padang untuk membantu salah satu pejabat pemerintah disana dalam masalah supranatural.

2. Pasien Palsu.

Salah satu surat kabar lokal, yang kebetulan wartawannya adalah pasien kami, pernah mewawancara kami. Sebelum kunjungan wawancara tersebut, kami sengaja membuat suatu drama instan dengan kegiatan-kegiatan rihersal dimana salah satu anggota padepokan kami rekayasa untuk menjadi seorang pasien yang bisa kami sembuhkan secara cepat serta menebak-nebak masalah yang sang pasien hadapi.

Drama ini cukup berhasil karena anggota kami yang menyamar menjadi pasien dan berpura-pura kemasukan setan, membuat sang wartawan terkagum-kagum karena kami bisa sembuhkan secara cepat. Setelah seminggu, kami bangga melihat foto adegan tersebut di koran dengan beberapa kolom yang merangkum tentang kehebatan padepokan kami. Kamipun merasa senang karena hal tersebut merupakan fasilitas yang diberikan kepada kami untuk melakukan kampanye pemasaran secara gratis.

3. Pasien Fiktif (Artis, Politisi, Usahawan dll).

Salah satu trik kami dan paranormal lainnya yaitu kami sering mengumbar tentang pasien kami dengan cara mengklaim bahwa beberapa politisi dan artis sebagai pasien tetap kami. Ini penting bagi status dan imej perguruan kami dimata para pasien lain karena imej tersebut terbukti mampu membuat kualitas servis dan produk kami seakan-akan menjadi terangkat dimata para tamu dan pasien.

4. Nasihat Munafik Untuk Menutupi Sifat-Sifat Syirik Dalam Melakukan Praktek-Praktek Perdukunan atau Ilmu Ghaib di Perguruan Kami.

Dalam melakukan kemunafikan, terkadang saya sangat merasa bersalah. Saya menganggap diri saya adalah paling rendah di dunia dalam melakukan kemunafikan saya. Kenapa? Karena terkadang saya harus memberikan nasihat-nasihat kosong tentang bahayanya ilmu hitam dan syirik kepada para pasien/tamu seakan-akan ilmu saya memang benar-benar ilmu yang datang dari Allah dan bisa dipelajari siapa saja. Sedangkan saya sendiri tahu bahwa saya adalah salah satu manusia yang menjalankan praktek-praktek keji tersebut. Terkadang saya sering tidur gelisah dalam kebodohan dan beranggapan bahwa saya adalah binatang yang lebih rendah dari segala mahluk Tuhan karena secara sadar saya tahu bahwa perbuatan syirik adalah paling dibenci Allah, sedangkan saya sendiri melakukan hal itu secara sadar dan sengaja.

Waktu itu hati saya telah mati dan hanya memikirkan kenikmatan dunia padahal saya selalu berusaha sembunyi dalam pengetahuan saya. Saya lupa bahwa hidup didunia hanyalah sekilas dan saya isi hidup saya dengan kedustaan dan kehinaan seperti para dukun dan paranormal lain yang berpura-pura berwibawa didepan publik.

5. Senjata Berupa Ayat-Ayat Dari Al-Qur’an dan Hadist-Hadist Palsu:

Setiap jumat kami mengadakan pengajian di ruangan belakang perguruan kami dan banyak peserta pengajian bertanya sekitar ilmu supranatural. Disini kami sudah menetapkan dua orang guru untuk menghafal beberapa ayat-ayat Quran untuk menepis segala pertanyaan yang bersifat ofensif. Perlu diingat: terkadang kami kewalahan mendapatkan pertanyaan dan kami melontarkan ayat-ayat tersebut untuk membenarkan mempelajari ilmu ghaib walaupun terkadang ayat-ayat yang dilontarkan tidak ada hubungannya dengan topik yang sedang diperdebatkan. Sehingga seakan-akan agama membenarkan praktek-praktek ilmu ghaib. Salah satu dari guru kami juga sudah mempersiapkan hadist-hadits dan tabaruk-tabaruk palsu yang berisi sejarah kenabian yang sudah kami modifikasi sedemikian rupa untuk pembenaran praktek-praktek sirik yang kami lakukan. Hadist-hadist atau tabaruk-tabaruk ini kami bagikan sebelum acara pengajian ataupun dalam acara-acara spritual lainnya.

6. Moto Rahasia Kami Yaitu “Anda Bertanya Maka Kami Harus Membual”:

Itulah sejujurnya misi pernyataan kami dalam menjalankan praktek-praktek sirik kami. Kenapa? Karena sebetulnya kamipun tidak mengetahui seberapa tinggi ilmu kami dan bisa tidaknya diterapkan kepada masalah/problem masing-masing pasien. Kunci kami sebenarnya yaitu hanya berusaha untuk meyakinan sang pasien saja. Karena dengan cara tersebut, mereka akan terus percaya dengan ilmu-ilmu ghaib yang kami berikan. Bahkan secara moral kami merasa diseret untuk menjawab suatu pertanyaan yang kami tidak pernah mempunyai keahlian didalamnya.

7. Puasa Gila dan Ilmu Fiktif:

Saya pernah mendapatkan seorang tamu dari Jakarta yang menginginkan ilmu pedang senja yang kami sebenarnya tidak pernah miliki (karena ilmu pedang senja tersebut hanya karangan salah satu anggota diperguruan kami). Kebetulan tamu tersebut mendapatkan informasi dari bekas anggota kami yang menetap di daerah rawamangun.

Beliau mampu membayar beberapa juta untuk medapatkan ilmu tersebut yang kami klaim mampu meningkatkan wibawa, rejeki, aura, membaca pikiran orang lain, menarik benda-benda di alam ghaib dan juga mampu menciptakan saudara kembar yang bisa berjalan menembus ruang dan waktu. Saya dan para guru yang lain mendiskusikan untuk mencari jalan keluar bagaimana untuk meyakinkan sang tamu. Akhirnya kami sepakat dan mengajukan syarat-syarat gila yang sangat berat kepada tamu tersebut. Persyaratan gilanya yaitu: berpuasa selama 6 hari sambil bersemedi dialam terbuka bersama 10 orang lainnya. Persyaratan tersebut sengaja kami buat agar kami mempunyai banyak alasan untuk menggagalkan usaha tamu tersebut dalam menjalani persyaratan-persyaratannya. Contohnya, diantara 10 orang tersebut, pasti salah satu atau beberapa orang dari mereka tidak akan mampu melakukannya sehingga kami mempunyai alasan untuk menggagalkan usaha-usaha tersebut, lagipula puasa 5 hari dialam terbuka sudah merupakan sesuatu yang sulit dilakukan oleh orang biasa. Andaikata seluruh peserta puasa tersebut berhasil, kami sepakat untuk mencari alasan-alasan lain yang menyatakan bahwa salah satu dari mereka telah gagal dan tidak kusyuk dalam melakukan usaha tersebut.

8. Gelar-Gelar Palsu Untuk Menambah Gengsi Kami:

Salah satu anggota guru kami pernah tinggal di Malaysia selama 2 tahun sebagai tenaga kerja ilegal. Sepulang dari Malaysia, beliau mempunyai sedikit kemampuan berbahasa inggris sehingga seringkali beliau mengaku sebagai sarjana muda dari universitas Al-Azhar, di Mesir. Ide gila ini dia dapatkan dari ketua dewan guru M K di kota Bogor yang bernama L S yang mengaku-ngaku dengan bangga sebagai Kyai, haji, insinyur sekaligus bergelar MBA yang belakangan konon salah satu anggotanya sendiri pernah mengakui bahwa beliau tidak mengerti mengenai analisa keuangan secara fundamental sekalipun ketika seseorang menantang untuk membicarakan masalah keuangan di forum. Beliau juga seorang moderator di forum dengan alamat www.mkalm.com. Mungkin karena telah lama bergelut dibidang perdukunan sehingga intelektualitas dan moral edukatif sang pemegang gelar menjadi hilang tanpa bukti. Seperti halnya praktek perdukunan lainnya yang tidak lepas dari pernyataan misi: “kebodohan anda adalah keuntungan kami”.

Peringatan: Jangan pernah terkagum-kagum dengan seorang paranormal,master ilmu hikmah atau pun dukun yang pandai berdebat atau menguatkan argumennya dengan menggunakan ayat-ayat dari kitab suci. Kalau anda baca secara seksama dan perhatikan potongan-potongan kitab suci tersebut maksudnya dapat berarti luas, dan penempatannya yang salah sebetulnya dapat memporak-porandakan maksud dari ayat-ayat tersebut. Ingatlah Kebodohan anda adalah keuntungan mereka. Dan Al-Quran tidak pernah membenarkan praktek-praktek perdukunan yang berkedok agama.

9. Membuat Kami Dikultuskan:

Kami juga menjual barang-barang padepokan berupa keris, kaos, sabuk, batu cincin, dompet, bahkan foto-foto semua guru yang telah kami "isi". Walaupun penjualan barang-barang tersebut adalah syirik dan paling dilaknat oleh Tuhan, kami pernah melupakan-Nya demi keserakahan kami akan uang dan kehormatan dari para pasien. Pemikiran yang kami yakini dalam hal ini yaitu: Semakin banyak barang-barang yang mereka beli, semakin keramat kami dimata pasien.
Peringatan: Demi materi dan kehormatan, manusia dapat menipu, mempersekutukan tuhan, menganiaya manusia lain melalui pembodohan, pembunuhan dsb karena mereka merasa segala kesalahan dan dosa dapat dinegosiasikan dengan Tuhan.

10. Ramalan:

Dalam hal ramalan, jangan heran kalau kami dan paranormal-paranormal lain meramalkan secara umum (tidak mendetil) karena celah-celah kosong akurasinya bisa kami gunakan sebagai alasan bila ramalan kami meleset. Ini cuma salah satu contoh dari trik-trik murahan yang dilakukan oleh kami dan paranormal lain sejak dahulu. Hal yang kami takuti yaitu bila kami kedatangan tamu untuk meminta nomor judi secara detil. Dan kami membenci pasien atau tamu yang banyak bertanya mengenai ramalan-ramalan secara detil.

Bila anda mendapati orang yang mengaku bisa melihat keadaan masa mendatang (meramal), tertawakanlah, sinislah, bahkan anggaplah sebagai manusia hina. Bahwa seorang dukun akan menjadi kaya raya melalui permainan option dipasar finansial dan tidak akan menyandarkan hidupnya dari sedekah pasien melalui kebohongan-kebohongan yang dia jual.Tinggal memilih anda yang ditertawakan oleh peramal atau anda yang mentertawakan mereka.

11. Mendiskreditkan Perguruan Lain:

Selama saya menjadi guru dipadepokan atau selama saya belajar ilmu ghaib, hal-hal yang merupakan keharusan untuk membangkitakan loyalitas para anggota terhadap perguruan kami yaitu dengan cara mendiskreditkan ilmu-ilmu dari perguruan-perguruan lain. hal ini kami lakukan semata-mata karena dunia perdukunan merupakan kompetisi sempurna dimana pasien akan dapat mudah menemukan perguruan atau paranormal lain sehingga hal ini dimaksudkan untuk mencegah arus keluarnya para anggota untuk pindah keperguruan lain.

Jangan heran bila antara perguruan ilmu ghaib selalu saling melecehkan dan mentertawakan satu sama lain karena itu semata-mata disebabkan alasan-alasan: "Kita sama-sama tahu tentang rahasia sesama paranormal”" dan dalam dunia paranormal terdapat etika-etika tertentu untuk menjaga rahasia strategi masing-masing perguruan. Tak jarang juga bahkan diantara paranormal seringkali mengirimkan anak buahnya ke perguruan lain dengan cara menyamar sebagai pasien atau anggota supaya mereka tahu trik-trik baru yang perguruan lain lakukan.

Mendiskreditkan atau saling mencurigai diantara perguruan yang satu dengan yang lain adalah hal yang normal bagi dunia paranormal atau perdukunan. Anda sebagai pasien, mempunyai kontrol penuh untuk melawan atau keluar dari perguruan yang anda rasa telah melakukan hal-hal diluar ajaran-Nya. Ingat: Jangan pernah anda akan dijadikan objek atau korban, merekalah yang menjadi korban alami sebenarnya karena mereka sumber kebodohan.
.
12. Ilmu Karangan Berdasarkan Kreatifitas Imajinasi Kami:

Jangan heran kalau anda pernah mendengar ilmu-ilmu seperti ilmu pedang senja, ilmu hikmatul rohim, ilmu fathyatul sinai, ilmu selereng pisau dan lain-lain. sebetulnya ilmu itu tidak ada sama sekali dan hanya hasil karangan kami untuk menarik para penggemar ilmu untuk ditukarkan dengan mahar berjumlah ratusan ribu bahkan jutaan. Kamipun telah membuat dongeng-dongeng mengenai sejarah ilmu-ilmu palsu tersebut supaya terdengar lebih prestis.

Peringatan: Ilmu kaya itu tidak pernah paranormal miliki dan tolong gunakan logika anda: Darimana datangnya penghasilan seorang dukun atau paranormal yang mengaku memiliki ilmu kaya?....jawabannya yaitu dari anda!, yang menjadi korban penipuan mereka.Bahkan lucunya, beberapa paranormal yang dirinya dan kelurganya gagal dalam hidup dan usaha, seringkali berani menjual ilmu-ilmu kaya kepada publik. Ironis sekali. Pembodohan tersebut merupakan tindakan kriminalitas.

13. Menggunakan Kata Khodam:

Salah satu senjata dari seorang paranormal atau dukun yaitu mereka akan mengajarkan anda untuk meminta sesuatu lewat khodam,makhluk astral,ascended master (makhluk karangan mereka yang konon mereka akui sebagai malaikat tapi keberadaannya tidak ada didalam Al-Quran) Bahkan mereka membenarkan hal tersebut dengan mengatakan: Khodam,makhluk alam astral,acsended master sama seperti dokter, mekanik atau manusia-manusia yang mempunyai profesi lain, sehingga kita dibenarkan untuk berinteraksi kepada khodam,makhluk alam astral,accende master dengan cara wirid, puasa, semedi atau meditasi dan lelaku lainnya.
Salah satu argumen kami dan paranormal lain yaitu: :"BERINTERAKSI KEPADA KHODAM MELALUI PUASA, AMALAN-AMALAN, WIRID ADALAH HAL YANG WAJAR SEPERTI HALNYA MEMINTA BANTUAN KEPADA DOKTER. APAKAH MEMINTA PERTOLONGAN DOKTER ADALAH SYIRIK?" (begitulah argumen yang sangat populer dikalangan kami dan paranormal lain untuk membodohi umat) tidak lupa kami juga seringkali mengatasnamakan Al-Quran dalam melakukan pembodohan-pembodohan yang merugikan untuk menutupi akal para pengikut kami.


14. Menumbuhkan Sugesti Para Pengikut atau Pasien Kami:

Ini adalah trik kami yang sangat penting untuk menumbuhkan kepercayaan pasien kepada kami. Misalnya dalam melakukan tipu daya kepada para pasien atau pengikut, sering kami mengajarkan mereka untuk konsentrasi dalam merasakan getaran-getaran goib pada dirinya yang sebenarnya tidak ada. Itu hanya sugesti dan perasaan mereka saja. Anehnya, terkadang mereka "mencari muka" kepada kami sehingga mereka menggerak-gerakan badannya dengan sangat intens bahkan kelihatan seperti orang kesurupan. Semakin memberontak mereka, semakin percaya diri kami dibuatnya karena tipu daya kami ternyata dapat membangkitkan sugesti mereka seakan-akan ada kekuatan lain didalam diri mereka. Sudah ribuan orang kami perdayai termasuk puluhan orang dari kalangan intelektual dan berpendidikan.

Oleh karena itu kami diperguruan terkadang tertawa geli menyaksikan pertunjukan tersebut yang diakibatkan oleh terlalu percayanya mereka terhadap kami.Contoh aktualnya: Seorang satpam, sebut saja bernama A, pernah datang kepada kami karena masalah pekerjaan. Ternyata si A ingin mendapatkan posisi yang bagus ditempat kerjanya yaitu sebagai ketua pengamanan seluruh pabrik. Karena kami tidak mempunyai ilmu yang bisa menaikkan pangkat seseorang, lalu kami berkilah dengan cara menawarkan amalan untuk membangkitkan Wibawa. Kami beralasan dengan cara membangkitkan wibawa, si A akan mendapatkan perhatian dari atasannya sehingga kesempatan untuk naik pangkat menjadi besar (Sebenarnya kamipun tidak mengetahui kekuatan amalan tersebut karena kami mendapatkannya dari beli diperguruan lain).

Setelah 2 minggu mengamalkan amalan yang kami berikan, si A datang lagi kepada kami dan dia mengatakan bahwa atasannya selalu memberi dia perhatian dan tanggung jawab yang lebih tapi sang atasan belum menaikkan jabatan si A sebagai ketua atau kepala pengamanan pabrik. Nah dari sini kami telah membangkitkan sugesti si A bahwa dia telah kelihatan lebih berwibawa sehingga tingkah lakunya berubah seakan-akan si A memiliki kekuatan yang membuat dirinya kelihatan berwibawa. Kamipun mentertawakan si A karena perubahan sifat dan penampilan itu cuma imajinasi atau hayalan si A karena terlalu percaya kepada kami.

Setelah sebulan, si A datang lagi kepada kami tapi belum juga mendapatkan jabatan yang dia inginkan serta mengungkapkan bahwa dia baru saja ditegur oleh atasannya karena terlambat datang ke tempat kerja dan takut kalau atasannya tidak simpatik lagi kepadanya. Untuk mengalihkan kesan negatif atau rasa curiga si A terhadap kami, kamipun menyuruhnya sembahyang dan berdoa kepada Allah dan memberikan puluhan nasihat-nasihat seperti: "Allah tidak mengijinkan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut dan sebagainya"

Setelah pertemuan ketiga tersebut, si A tidak pernah lagi datang kepada kami. (Nah begitulah trik-trik dan kemunafikan kami dan para tukang sihir kepada para pasien dan pengikutnya, silahkan buktikan!)

Peringatan: paranormal,dukun,romo,ahli imu hikmah akan menyisipkan ajaran-ajaran ilmu sihir (meramal, menyembuhkan kesurupan, dongeng-dongeng kesaktian dll) kepada pengikutnya dalam mempelajari Al-Quran, karena mereka beranggapan bahwa mempelajari Al-Quran tidaklah laku dikalangan orang-orang frustasi tanpa ajaran-ajaran ilmu sihir tersebut. Oleh karena itu Janganlah heran kalau para tukang sihir selalu mencampur adukan ajaran Agama dengan ajaran sihir untuk maksud-maksud keduniaan (komersial: uang dan kehormatan), bahkan dengan segala cara mereka berusaha menempatkan dirinya sebagai wali Allah untuk maksud-maksud pengkultusan.

Sebenarnya mereka (paranormal) telah menutup mata umat untuk mengetahui ayat-ayat dibawah ini:"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya." (An-Nisa': 48)

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar : 65)

"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am : 88).

Peringatan: Dewasa ini banyak pengajian-pengajian atau kegiatan-kegiatan agama dimana ketua organisasi tersebut menyisipkan ajaran-ajaran sihir dengan cara memberi janji-janji palsu untuk mendapatkan ilmu ghaib kepada para pengikutnya. Mereka mentargetkan orang-orang yang lemah iman dan frustasi untuk dijadikan pengikut mereka. Ironisnya, mereka membohongi para pengikut mereka dengan alasan bahwa ilmu mereka berasal dari Allah dan bisa dimiliki atau dipelajari oleh siapa saja. Hal ini dimaksudkan sebagai usaha-usaha komersial atau kampanye perguruan mereka dalam mendapatkan pengikut sebanyak mungkin yang otomatis akan tersalurnya nafsu kerakusan-kerakusan akan finansial dan duniawi mereka.
Dapat anda buktikan dengan kegiatan-kegiatan mereka seperti:

a. Pengajian dan ceramah keagamaan yang diikuti dengan penjualan benda-benda bertuah (jimat).

b. Pengajian atau ceramah keagamaan yang diselingi dengan aksi-aksi kesurupan (membuat salah satu pengikut menjadi kesurupan serta penyembuhan), penyembuhan-penyembuhan ghaib, ramalan-ramalan, demonstrasi kekebalan dan lain-lain.

c. Pengajian atau ceramah keagamaan yang diselingi oleh pesan-pesan khusus untuk mengkultuskan guru mereka (memberi barang pribadi guru tersebut, mencantumkan nama guru mereka untuk dishalawatkan, memberikan suatu pemikiran syirik yaitu seakan-akan para pengikutnya akan ditolong oleh guru mereka dimanapun mereka berada seakan-akan guru mereka bukan manusia biasa)

d. Pengajian atau ceramah keagamaan yang diselingi dengan cerita-cerita tentang kesaktian seseorang, tentang ilmu-ilmu ghaib yang bisa dipelajari yang dimaksudkan untuk memberikan pandangan bahwa mereka seakan-akan mengenal dunia ghaib.

Mereka akan menutup mata anda dengan ayat dibawah ini:
“Allah Maha mengetahui yang ghaib. Ia tidak akan memberitahukan rahasia keghaiban-Nya kepada siapa pun kecuali kepada Rasul yang dipilihnya.” (Q. S. al-Jin: 26-27)
Karena mereka (paranormal,dukun,ahli sihir) adalah bukan wali dan mendapatkan ilmu sihir tersebut melalui bantuan jin, maka anda dilarang untuk mempercayainya karena mereka hanya menyamar sebagai wali. Adapun kata-kata kunci mereka untuk menyembunyikan aktivitas-aktivitas sihir tersebut yaitu dengan cara mengatakan: "ilmu yang mereka ajarkan datangnya dari Allah"

B. SIFAT PASIEN YANG MUDAH TERTIPU:

1. Pemalas dan Cepat Frustasi:

Banyak dari pasien kami adalah orang-orang berpendidikan tapi mempunyai mental pemalas yang mengandalkan harapan kerja minimal tapi mengharapkan hasil yang maksimal. Mereka pada umumnya meminta barang bertuah kepada kami agar selalu berhasil dalam segalam masalah karir dan usaha, padahal kalau kami dan paranormal lain benar-benar mempunyai ilmu atau kesaktian, kami tidak akan menjalani praktek-praktek sihir tersebut.

2. Bodoh:

Walaupun mereka terlihat rapih dan intelektual, tapi saya berani mengatakan bahwa mereka adalah bodoh dan kurang kuat ajaran Agamanya. Kenapa? Saya dan teman-teman saya bekas guru-guru dipadepokan sebenarnya tidak yakin dengan keampuhan ilmu yang kami miliki.Para pasien terutama lulusan sarjana dapat begitu saja percaya dengan cerita-cerita kami dan tak jarang kamipun mentertawakan mereka.

3. Tidak Percaya Diri:

Kebanyakan kawula muda yang mengunjungi kami mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin dilihat berwibawa di masyarakat. Padahal dulu kami sendiri tidak mempunyai percaya diri karena hati kecil kami ingin berontak terhadap kegiatan-kegiatan di bidang supranatural yang penuh tipu-daya kepada publik. Kami sebenarnya merasa kecil dan hina dimuka para tamu dan pasien kami karena kegiatan yang kami lakukan sebenarnya tidak akan bermanfaat sama sekali untuk generasi muda dan umat beragama serta bertentangan dengan ajaran agama.

Setelah kami mendapat pekerjaan yang mapan, rasa percaya diri tersebut tumbuh dengan sendirinya dan kami merasa dihormati oleh masyarakat karena kerja keras kami dan bukan karena mereka menganggap kami orang sakti.Pengalaman saya: Untuk membangkitkan percaya diri dan wibawa didalam masyarakat, dibutuhkan kerja keras, belajar untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak mungkin serta berdoa dan menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Darisitu anda akan mendapatkan kesabaran dan ketabahan hati sehingga anda menjadi percaya diri dalam kehidupan anda di masyarakat.

4. Rajin Shalat Demi Ilmu:

Rasa dosa saya untuk menipu para pasien masih terasa sampai hari ini. Sudah ribuan pasien saya suruh sholat dengan alasan hanya untuk mendapatkan ilmu-ilmu.

5. Orang Terkenal (Artis, Olah Ragawan, Pejabat atau Politisi)

Orang-orang terkenal yang tidak perlu saya sebutkan disini adalah sama seperti orang biasa lainnya. Mereka pada umumnya datang pada kami karena diajak oleh relasi mereka. Jadi jangan heran bila ada pejabat yang membungkukkan badan kepada kami padahal kami sebenarnya mentertawakan mereka karena kebodohan mereka sendiri. Hal ini disebabkan oleh tipisnya iman mereka sehingga menggantungkan diri terhadap kami.Ingat: "kebodohan anda keuntungan buat mereka"

C. ALASAN MENINGGALKAN PERGURUAN

Perasaan dosa yang kami perbuat (menipu, berbuat sirik, sikap sok tahu, dan serakah) selalui menghantui hidup kami selama kami menjadi guru. Sikap ini pertama-tama dikemukakan oleh salah satu anggota guru kami yang merasa tersiksa dalam melakukan dosa besar tersebut. Dosa yang paling dominan menurut teman saya pada waktu itu yaitu mengajarkan orang-orang untuk menyekutukan Tuhan. Lagipula keluarga teman saya tersebut tidak meridoi kegiatan-kegiatan tersebut. Sukurlah setelah padepokan kami ditutup, dengan uang yang kami kumpulkan selama 7 tahun, kami bisa membuka bisnis baru yang lebih bermanfaat untuk kami dan orang lain. Bisnis yang kami jalankan hingga hari ini yaitu warnet, sebagai importer,supplier,distributor sepatu buatan china untuk toko-toko ritel di kota Bandung, jakarta, Surabaya dan Medan), dan juga sebagai supplier pakaian batik untuk dipasarkan keluar negeri.
Wallahualam.

Dari pengakuan mantan paranormal diatas masihkah kita begitu getolnya mencari ilmu kesaktian,masihkah kita begitu mengkultuskan para guru kita mengangapnya paling sakti,masihkah kita berbuat syirik pada Allah SWT?

Marilah kita bersihkan akidah kita dari segala hal-hal yang dapat merusak keimanan kita dan janganlah kita dibodohi oleh mereka yang mengaku mempunyai ilmu ghoib dengan ada atau tidaknya ilmu sihir (hanya trik belaka) yang mereka miliki sebab mereka adalah para pembohong besar yang dilaknat Allah SWT.