Showing posts with label Kupas Tuntas Penyakit 'ain. Show all posts
Showing posts with label Kupas Tuntas Penyakit 'ain. Show all posts

3/14/2009

PENGARUH 'AIN (PANDANGAN MATA) YANG MERUSAK DAN MEMBINASAKAN



WAJAH MANUSIA SEPERTI KERA AKIBAT DI SUMPAH ( DI'AIN) AYAH

Disusun Oleh : Perdana Akhmad S.psi

Cuplikan berita TransTV yang telah saudara-saudara saksikan cukup membuat miris. Bagaimana tidak, diceritakan bahwa sang anak memiliki tubuh mirip seperti kera diakibatkan oleh sumpah ayahnya yang mengatakan anak didalam kandungan istrinya seperti monyet karena diakibatkan ngidam istri yang sangat suka makan buah-buahan. Ngidam buah-buahan istrinya yang berlebihan rupanya membuat suami wanita tersebut marah dan mengumpat mengatakan jabang bayi seperti kera karena ibunya ngidam buah-buahan. Benarkah umpatan seorang ayah bisa membuat anaknya berwajah seperti kera ?

Sungguh kasus seorang anak mempunyai tubuh seperti kera yang kita tonton diatas sebagai akibat perkataan ayahnya adalah SANGAT MUNGKIN diakibatkan kerena sang Ayah mempunyai penyakit 'ain (selain faktor genetika dll). Sang ayah dengan kedengkiannya mengucapkan perkataan yang membuat susunan genetika tubuh monyet terstimulir kedalam susunan genetika manusia hingga sang bayi perperawakan seperti monyet.


Sesungguhnya kekuatan ‘ain (mata) adalah benar adanya dan mempunyai pengaruh yang dapat membinasakan. Karena dapat membinasakan dan mencelakakan maka disebut sebagai penyakit ‘ain. Sedangkan orang yang mempunyai kekuatan ‘ain dapat disebut sebagai orang yang bermata tajam.

Di Sumatera Selatan ada legenda si "pahit lidah", dimana si pahit lidah jika mengucapkan perkataan maka akan langsung terjadi, dengan perkataan baik ataupun buruk. Selain itu kita juga sering mendengar fenomena seseorang yang jika menyumpahi orang yang dibencinya maka tidak lama kemudian orang yang disumpahinya akan menjadi celaka. Kita juga terkadang mendengar adanya fenomena orang kafir yang ahli yoga ataupun kalangan sufi sesat ketika ingin mencelakakan seseorang cukup dengan mengarahkan pandangan matanya maka orang yang di incarnya akan binasa.

Penyakit ‘ain ini dapat menimpa siapa saja, tentu kita pernah atau sering mendengar bahkan melihat adanya orang-orang tidak saja dari kalangan umat islam bahkan dari kalangan non muslim dapat melakukan perkara-perkara yang luar biasa seperti membuat orang menjadi lumpuh hanya dengan mengucapkan suatu perkataan saja, dapat menghentikan tanah longsor dengan hanya memandangnya, bahkan dapat membuat seseorang meninggal dengan hanya menyumpahinya saja.

Berikut ini dalil dari Al-Qur’an mengenai perbuatan orang-orang kafir yang hendak mencelakakan Rasulullah dengan kekuatan ‘ain yang mereka miliki.

Al Kalbi berkata : Ada seseorang dari Arab yang berkhalwat (menyepi) dan tidak makan selama dua atau tiga hari.Kemudian dia berdiri disamping kemah, lalu ada unta-unta dan kambing-kambing yang melewatinya.Melihat segerombolan hewan itu orang tersebut berkata: ”Aku tidak pernah melihat unta-unta dan kambing-kambing yang lebih bagus selain yang kulihat pada hari ini.”Belum lagi unta-unta dan kambing-kambing itu berjalan jauh lalu tiba-tiba hewan-hewan itu pun berjatuhan dan mati seketika.

Melihat kejadian itu orang-orang kafir menyuruh orang tersebut supaya mencelakakan Rasullullah dengan ‘ainnya dan ia pun menyetujuinya.Ketika Rasulullah lewat, orang itu ( ia bernama Al Abbas bin Mirdas) mendendangkan syair :”Kaummu telah menganggap kamu sebagai tuan dan aku anugerahi, bahwa kamu adalah tuan yang terkena ‘ain.”

Lalu Allah melindungi Rasulullah dan turunlah ayat:

Allah SWT berfirman:“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir mengelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur’an dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.”(al-Qalam: 51)(Lihat Ruhul Ma’ani,oleh Al Alunsi)

Ibnu Abbas, Mujahid, dan lainnya berkata. “menggelincirkan kamu” yakni mempengaruhi kamu “dengan pandangan mereka” yakni memandang kamu dengan mata-mata mereka yakni mendengki kamu karena kebencian mereka kepada kamu yakni menimpakan ‘ain dengan mata mereka., sekiranya tidak ada perlindungan Allah kepada kamu dari mereka.

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:“Dan Ya’qub berkata: Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan sesuatu hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal dan berserah diri.” Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui,” (Yusuf : 67–68).

Al­-Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan dua ayat ini berkata : Allah berfirman menkhabarkan tentang Ya’qub bahwa dia memerintahkan anak-anaknya ketika mempersiapkan mereka bersama saudara mereka, Benyamin, ke Mesir agar mereka tidak masuk semuanya dari satu pintu tetapi dari beberapa pintu yang berlainan. Sesungguhnya Ya'cub, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad bin Ka’air limbah, Mujahid, adh-Dhahhak, Qatadah, as-Suddi, dan lainnya, mengkhawatirkan mereka dari pengaruh mata, karena anak-anak Ya'cub tersebut ganteng-ganteng dan punya penampilan menawan. Maka Ya'cub mengkhawatirkan mereka akan pengaruh mata, sebab pengaruh mata adalah benar ada bahkan bisa membuat turun orang yang menunggang kuda dari kudanya.

Firman-Nya (mengutip perkataan Ya'cub): “Namun, aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah,” yakni kehati-hatian ini tidak akan dapat menolak takdir Allah dan ketentuan-Nya, karena sesungguhnya Allah apabila telah menghendaki sesuatu maka tidak ada yang dapat menghalangi.

Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya satu keinginan pada diri Ya'cub yang telah ditetapkannya” Mereka berkata: yaitu menghindari terkenanya pengaruh mata terhadap mereka.”(Tafsir Ibnu Katsir (2/485))

Berikut adalah dalil dari hadits Rasulullah mengenai penyakit ‘ain:

  1. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw: “mata adalah benar.” (Diriwayatkan oleh Bukhari (10/203) dan Muslim)

  2. Dari Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda: “memintalah perlindungan kepada Allah dari mata karena mata adalah benar.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (8/350), dan di-shahih-kan oleh al-Albani di dalam shahibul jami’(951))

  3. Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw: “mata adalah benar dan sekiranya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya mata akan mendahuluinya; dan jika kalian diminta mandi makahendaklah kalian mandi.”(Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabus Salam bab ath-Thibbuwar ruqa)

Yakni apabila saudara dari salah seorang di antara kalian diminta mandi untuk saudaranya yang Muslim karena dia terkena pengaruh mata maka hendaklah memenuhi permintaannya dan hendaklah ia mandi untuknya.

  1. Dari Asma’ binti Umais ra, ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Banu Ja’far terkena (pengaruh) mata, apakah boleh saya meruqyah mereka?” Nabi saw bersabda: “Ya, sekiranya ada sesuatu yang mendahului qadha’ (ketentuan Allah) niscaya mata akan mendahuluinya.”(Diriwayatkan oleh Ahmad (6/438), Turmudzi (2059), ia berkata: Hasan shahih, dan di-shahih-kan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (5662))

  2. Dari Abu Dzar ra, ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya mata dapat memperdaya seseorang dengan izin Allah sehingga ia naik ke tempat yang tinggi lalu jatuh darinya”.(Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya'la, dan di-shahih-kan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (167))

Yakni sesungguhnya kekuatan mata dapat menimpa seseorang kemudian mempengaruhinya hingga (sekiranya) orang itu naik ke tempat yang tinggi kemudian jatuh dari atas karena pengaruh mata.

  1. Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Mata adalah benar, dapat membuat orang jatuh dari tempat yang tinggi.”(Diriwayatkan oleh oleh Ahmad, Thabrani, dan al-Hakim, dan di-hasan-kan oleh al-Albani di dalam as-Silsilah Shahihah (1250))

  2. Dari Jabir ra, ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw: “Mata adalah benar, dapat memasukkan sesorang ke dalam kuburan dan dapat memasukkan onta ke dalam kuali.”(Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah dan di-hasan-kan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (4023))

Maksudnya sesungguhnya mata dapat menimpa seseorang hingga membunuhnya lalu mati dan dikuburkan ke dalam kuburan dan bisa menimpa onta hingga nyaris mati lalu disembelih pemilknya kemudian dimasak di kuali.

  1. Dari Jabir ra, ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw: “Kebanyakan orang yang mati dari umatku setelah qadha’ dan qadar Allah adalah karena mata.” (Diriwayatkan oleh Bukhari di dalam at-Tarikh dan di-hasan-kan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (1217))

  2. Dari Aisyah ra, ia berkata:“Rasulullah saw pernah memerintahkan agar saya meruqyah karena mata.”(Diriwayatkan oleh Bukhari (10/170) dan Muslim (2195))

  3. Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: “Rasulullah saw memberikan rukhshah (keringanan) dalam meruqyah karena mata, sengatan binatang berbisa dan luka nanah.”(Diriwayatkan oleh Muslim (2196))

  4. Dari Ummu Salamah ra bahwa Rasulullah saw berkata kepada seseorang anak wanita di rumahnya yang terlihat pada wajahnya ada pengaruh mata: “Ada pengaruh mata padanya, bacakan ruqyah kepadanya.”(Diriwayatkan oleh Bukhari (10/17) dan Muslim (97))

Saf’ah ialah tanda dari syetan. Dikatakan juga bahwa ia adalah satu pukulan darinya.(Lihat an-Nihayah (2/375)):yakni cekungan hitam atau kuning di wajahnya.

  1. Dari Jabir ra, ia berkata: Rasulullah saw memberikan rukhshah (keringanan) kepada keluarga Hazim dalam meruqyah (patukan), ular dan beliau bersabda kepada Asma’binti Umais: “Mengapa saya melihat badan orang-orang anak keturunan saudara saya kurus-kurus, apakah karena kemiskinan?” Tidak, tetapi mata telah cepat menimpa mereka.” Lalu Asma ‘mengemukakan kepadanya, lalu Nabi saw berasabda: “Ruqyahlah mereka.”(Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabus Salam (2198))



Pendapat Ulama Mengenai Pengaruh Mata

1. Al-Hafizh Ibnu Katsir Berkata

Terkena mata dan pengaruhnya adalah benar, dengan izin Allah.(TafsirIbnu Katsir (4/410))

2. Al-Hafizh Ibnu Hajar Berkata

Hakikat mata ialah pandangan yang baik bercampur dengan kedengkian dari seorang yang bertabi’at buruk sehingga terjadilah bahaya pada orang yang dilihat.(Fathul Bari (10/200))

3. Ibnul Atsir Berkata

Dikatakan: Si Fulan terkena mata, yakni apabila musuh atau orang-orang yang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhi hingga menyebabkan dia sakit.(An-Nihayah (3/332))

4. Al-Hafizh Ibnul Qayyim Berkata

"Tidak diragukan lagi bahwa Allah menciptakan beraneka kekuatan dan tabi’at pada jasad dan ruh. Banyak diantaranya yang dijadikan memiliki kekhususan dan seluk beluk pengaruhnya. Bagi orang yang berakal tidak mungkin menolak pengaruh ruh dalam jasad, karena ia merupakan hal yang empirik. Anda melihat bagaimana wajah menjadi merah padam apbila dipandang oleh orang yang sangat disegani, atau menjadi pucat pasi bila dipandang oleh orang yang ditakuti.

Orang-orang pun telah menyaksikan adanya orang yang sakit dan lemah kekuatannya disebabkan oleh pandangan mata. Ini semua terjadi dengan perantaraan ruh. Dan, mengingat kaitannya yang sangat erat dengan mata maka orang yang menisbatkan perbuatan tersebut kepadanya (mata) padahal sesungguhnya tidak demikian, tetapi hanyalah merupakan pangaruh ruh. Sedangkan ruh itu sendiri beraneka ragam tabi’at, kekuatan, seluk-beluk dan kekhususan-kekhususannya. Ruh orang yang mendengki akan menyakiti secara jelas orang yang didengki; karena itu Allah memerintahkan Rasul-Nya agar berlindung kepada-Nya dari kejahatannya.

Pengaruh orang yang mendengki dalam menyakiti orang yang didengki merupakan perkara yang tidak dipungkiri kecuali oleh orang gila. Ia (kedengkian) merupakan pangkal terjadinya apa yang disebut dengan “terkena mata”, karena jiwa yang buruk dan mendengki akan menyesuaikan diri dengan cara yang buruk dan melawan orang yang didengki kemudian mempengaruhi dengan kekhususan tersebut. Sesuatu yang paling mirip dengan hal ini ialah ular, karena racun (bisa) tersimpan di dalamnya sangat kuat; apabila ia menghadapi musuhnya maka akan muncul darinya suatu kekuatan amarah dan akan menyesuaikan dengan cara yang buruk dan menyakitkan. Diantaranya ada yang sangat kuat cara penyesuaiannya sehingga berpengaruh bisa menggugurkan janin.Ada juga yang bisa menimbulkan kebutaan, sebagaimana sabda Rasulullah saw tentang ular buntung dan yang punya dua garis putih di punggungnya.

Keduanya bisa menimbulkan kebutaan mata dan menggugurkan kandungan.”( Diriwayatkan oleh Bukhari (6/348) dan Muslim (2233))

Pengaruh itu kadang-kadang terjadi melalui kontak (persentuhan), perlawanan, pandangan, mengerahkan kekuatan ruh kepada orang yang akan dipengaruhi, doa-doa, jampi-jampi, doa-doa permintaan perlindungan atau dengan mengkhayalkan dan membayangkannya. Pengaruh jiwa orang yang bermata kedengkian itu tidak hanya tergantung pada pandangan, bahkan bisa jadi dia buta mata kemudian dijelaskan kepadanya sesuatu lalu jiwanya mempengaruhinya sekalipun tidak melihat. Banyak diantara orang yang “bermata kedengkian” dapat mempengaruhi orang yang didengki hanya dengan melalui penjelasan yang didengar tanpa melihatnya. Ia adalah “anak panah” yang keluar dari jiwa orang yang “bermata kedengkian”, yang kadang-kadang menimpa orang yang didengki tetapi kadang-kadang juga tidak mengenainya.

Jika kebetulan orang yang didengki itu “telanjang” tidak ada “perlindungan” sama sekali maka pasti akan mempengaruhinya. Jika orang yang didengki itu dalam keadaan ‘siap membawa senjata’ (melindungi dirinya dengan ruqyah syar'iyyah) maka tidak akan mampu menembusnya, bahkan mungkin ‘anak panah’ itu akan kembali kepada orang yang meluncurkannya.

Asal terjadinya pengaruh mata ini ialah dari kekaguman/ kebencian orang yang “bermata kedengkian” itu terhadap sesuatu kemudian diikuti oleh penyesuaian jiwanya yang buruk lalu dalam melancarkan racunnya menggunakan pandangan mata kpeda orang yang didengki.

Seseorang bisa “bermata kedengkian” terhadap dirinya dan kadang-kadang pengaruh buruk dari pandangan matanya itu mengenai orang tanpa kehendaknya. " (Zaadul Ma'ad (4/165))

PENGOBATAN MATA KEDENGKIAN

Ada beberapa cara pengobatan mata kedengkian, diantaranya :

Pertama : Memandikan Orang yang Bermata Kedengkian

Jika telah diketahui orang yang bermata kedengkian maka perintahkanlah dia agar mandi kemudian air yang dipakai mandi tersebut diambil dan disiramkan kepada penderita dari arah belakangnya maka dengan izin Allah akan sembuh.

Dari Abu Umamah bin Sahal bin Hunaif, ia berkata : ”Ayahku Sahal bin Hunaif mandi di lembah Kharraz (salah satu lembah di Madinah) kemudian dia melepas jubah yang dipakainya sementara itu Amir bin Rabi’ah memandang kepadanya. Sahal adalah orang yang berkulit sangat putih dan sangat bagus. Kemudian Amir berkata : ”Aku belum pernah melihat seperti sekarang, juga tidak pernah melihat kulit wanita perawan bercadar.” Lalu Sahal merasa sembelit (di perut) dan bertambah keras sembelitnya. Kemudian dikabarkan kepada Rasulullah SAW akan sembelitnya itu lalu dikatakan kepadanya : ”Ia tidak bisa mengangkat kepalanya.” Kemudian Rasulullah bertanya : ”Apakah ada seseorang yang kalian curigai?” Mereka berkata : ” Amir bin Rabi’ah.” Kemudian Rasulullah SAW memanggilnya lalu memarahinya dan bersabda : ”Mengapakah salah satu diantara kalian membunuh saudaranya? Mengapakah tidak kamu berkati, mandilah untuknya.” Kemudian Amir mencuci mukanya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya, jari-jari kedua kakinya dan bagian dalam kainnya di dalam bejana kemudian (air bekas cuci itu) disiramkan kepadanya (Sahal) dari arah belakangnya lalu Sahal kontan sembuh saat itu juga.”(Diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’I, dan Ibnu Majah; di-shahih-kan oleh al Albani di dalam Shahihul Jami’ (3908))


Cara Mandi

Ibnu Shihab az-Zuhri berkata :

Mandi yang kami fahami dari para ulama yang menjelaskannya ialah : Dibawakan bejana berisi air kepada orang yang bermata dengki itu lalu disuruh memasukkan telapak tangannya ke dalamnya lalu berkumur-kumur kemudian mengeluarkannya lagi ke dalam bejana, kemudian mencuci wajahnya di dalam bejana, kemudian memasukkan tangannya yang kiri lalu membasuh telapak kanannya di dalam bejana, kemudian memasukkan tangannya yang kanan lalu membasuh telapak kirinya sekali, kemudian memasukkan tangannya yang kiri lalu membasuh sikunya yang kanan, kemudian memasukkan tangannya yang kanan lalu membasuh sikunya yang kiri, kemudian memasukkan tangannya yang kiri lalu membasuhnya kakinya yang kanan, kemudian memasukkan tangannya yang kanan lalu membasuh kaki kirinya, kemudian memasukkan tangannya yang kiri lalu membasuh lututnya yang kanan, kemudian memasukkan tangannya yang kanan lalu membasuh lututnya bagian kiri. Kesemuanya itu dilakukan di dalam bejana kemudian bagian dalam pakaiannya dimasukkan ke dalam bejana; bejana jangan diletakkan di tanah, lalu airnya disiramkan ke atas kepala orang yang terkena pengaruh mata dari arah belakangnya sekali siram.(Lihat : as-Sunan Baihaqi (9/252))


DALIL DISYARI’ATKANNYA MANDI BAGI ORANG YANG BERMATA DENGKI


  1. Nabi SAW bersabda : ”Mata adalah benar, sekiranya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya mata akan mendahuluinya; dan apabila salah seorang diantara kalian diminta mandi maka hendaklah ia mandi.”(Lihat : as-Sunan Baihaqi (9/252))


  1. “Dari Aisyah ra, ia berkata : ”Orang yang bermata dengki diperintahkan agar berwudhu’ kemudian orang yang terkena pengaruh mata madi dari air (bekas wudhu’nya).”(Diriwayatkan oleh Abu Daud (3880) dengan sanad Shahih)

Dua hadits ini, dan hadits-hadits lainnya, dapat dijadikan landasan bagi disyari’atkannya berwudhu’ atau mandi bagi orang yang terkena pengaruh mata dari air bekas wudhu’ atau mandi orang yang bermata dengki.

Cara Kedua

Letakkan tangan anda di atas kepala penderita dan bacalah :

Dengan nama Allah, saya ruqyah kamu dan Allah yang menyembuhkan kamu dari setiap penyakit yang menyakitimu, dari setiap jiwa atau mata yang dengki; Allah akan menyembuhkanmu, dengan nama Allah saya ruqyah kamu.”(Diriwayatkan oleh Muslim (2186))


Cara Ketiga

Letakkan tangan anda di atas kepala penderita dan bacalah :“Dengan nama Allah yang menyembuhkanmu, dari setiap penyakit yang menyakitimu. Dia yang menyembuhkanmu, dan dari setiap orang yang mendengki apabila mendengki dan dari kejahatan setiap yang mempunyai mata.”.(Diriwayatkan oleh Muslim (2187))

Cara Keempat

Letakkan tangan anda di bagian yang sakit dan bacalah :“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.”(Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab ath-Thibb dan Muslim dalam Kitabus Salam.)


Cara Kelima

Letakkan tangan anda di bagian yang sakit dan ruqyahlah dengan surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan An-Naas.(Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Fadha’il al-Qur’an, bab al-Mu’awwdzat)


Cara Keenam

Ambillah bejana berisi air lalu bacakanlah ke dalamnya mu’awwidzat dan bacakanlah doa berikut, masing-masing tiga kali :”Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.”


Dengan nama Allah, saya me-ruqyah kamu dan Allah yang menyembuhkan kamu dari setiap penyakit yang menyakitimu, dari setiap jiwa dan dari setiap mata yang dengki. Allah akan menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.”


Kemudian siramkan air ke atas kepala penderita sekali, dari arah belakangnya tetapi usahakan air merata ke seluruh jasadnya.

Dengan izin Allah akan sembuh.



KESIMPULAN

  1. Lindungilah buah hati kita dari pengaruh 'ain' orang yang mendengi dengan ber-isti'adzah melalui ayat-ayat ruqyah syar'iyyah agar terhindar dari celaka dan mara bahaya. isti’adzah (permohonan perlindungan) di dalam surat al-Falaq itu ialah dari kedengkian. Jika seorang Muslim memohon perlindungan dari kejahatan orang yang mendengki maka sudah termasuk di dalamnya orang yang bermata kedengkian. Ini termasuk kemu’jizatan dan balaghah al-Qur’an. Lihat Bada’I’ul Fawa’id (2/232) dan Zaadul Ma’ad (4/168).

  2. Penyakit 'ain dapat terjadi pada umat islam, orang kafir atau ahli syirik hingga terkesan mempunyai kehebatan dan keluar biasaan, namun jangan khawatir kita tersakiti jika berhadapan dengan mereka sebab kita punya benteng perlindungan yaitu kita membentengi diri dengan ruqyah Syar'iyyah.

  3. Berhati-hatilah jika kita menyakiti orang lain dan orang tersebut mengutuk kita, selain doa orang yang teraniaya itu dikabulkan Allah, sangat mungkin orang yang kita sakiti akan meng"ain kita hingga kita bisa menjadi celaka. Selalu kita membaca doa-doa perlindungan untuk melindungi diri dari 'ain orang yang dengki.

  4. Berhati-hatilah jika anda dalam keadaan marah, dengki lalu anda mengutuk orang yang tidak anda sukai, sebab bisa jadi anda menderita penyakit 'ain hingga akan menyakiti orang tersebut.

  5. Berhati-hatilah jika anda merasa takjub melihat sesuatu hingga anda mengucapkan perkataan yang bisa mencelakakan diri seseorang. Setiap Muslim yang melihat sesuatu yang menakjubkan dianjurkan agar mendoakan keberkahannya baik sesuatu itu miliknya ataupun milik orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah saw di dalam hadits Sahal bin Hunaif: (“Mengapakah kamu (Amir) tidak memberkatinya”)yakni mendoakan keberkahannya, karena doa ini bisa mencegah pengaruh mata/'ain.

Wallahua'lam






Jin Mempengaruhi dan menyakiti Manusia Dengan ‘ain

Jin Mempengaruhi Manusia Dengan ‘ain

Tidak hanya manusia saja yang dapat menderita penyakit ‘ain, bahkan jin dan syaitan juga dapat mempengaruhi manusia dengan ‘ain yang mereka miliki.

Sebagaimana yang diriwayatkan Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, ia berkata:”Rasulullah saw pernah meruqyah memohon perlindungan dari mata jin kemudian dari mata manusia, kemudian setelah turun surat al-Falaq dan an-Nas, Rasulullah saw mengambil dua surat ini dan meninggalkan selain itu.”(Diriwayatkan oleh Turmudzi (2059).

Juga diriwayatkan dari Ummu Salamah ra bahwa:”Nabi saw melihat seorang anak wanita di rumahnya (di rumah anak tersebut) di wajahnya ada cekungan hitam lalu Nabi saw bersabda “Bacakanlah ruqyah kepadanya karena pada dirinya ada pandangan.” Diriwayatkan oleh Bukhari (10/171) dan Muslim (2197).

Al-Farra’ berkata: Suf’ah adalah pandangan dari jin.

Dari dua hadits di atas nyata bahwa mata kedengkian juga terjadi dari jin sebagaimana terjadi dari manusia hingga dapat mengakibatkan kita sakit, hingga mendapatkan celaka dan kebinasaan. Oleh sebab itu, setiap Muslim harus meruqyah dirinya dengan menyebut nama Allah ketika melepas pakaiannya atau memandang cermin atau ketika melakukan pekerjaan apa saja untuk menolak gangguan jin terhadap dirinya baik berupa mata kedengkian ataupun lainnya.






Kasus penyakit 'ain dan penyembuhannya

Syaikh Wahid Abdus Salam Bali dalam bukunya “Sihir dan Pengobat

Syaikh Wahid Abdus Salam Bali dalam bukunya “Sihir dan Pengobatannya secara Islami”memberikan contoh pengobatan bagi orang yang terkena pengaruh mata.

Bayi tidak mau menyusu pada ibunya

Ketika sedang berkunjung ke salah seorang kerabat, saya diberitahu bahwa salah seorang bayi mereka belum mau menyusu ibunya sejak beberapa hari padahal sebelumnya biasa menyusu. Lalu saya katakan kepada mereka : Bawalah bayi itu kemari. Kemudian bayi itu saya ruqyah dengan mu’awwidzat dan beberapa doa, lalu saya katakan : ”Bawalah dia kepada ibunya.” Tak lama kemudian mereka kembali seraya mengkhabarkan bahwa bayi tersebut sudah mau menyusu tetek ibunya. Segala karunia hanyalah milik Allah semata, tiada daya dan kekuatan apa pun kecuali dengan pertolongan Allah.


Anak kecil tidak mau berbicara

Ada anak kecil yang fasih berbicara, cerdas, dan menonjol di kalangan teman-temannya di Tsanawiyah. Ia biasa mewakili mereka di berbagai acara, juga terbiasa berpidato di berbagai kesempatan.

Pada suatu hari, salah seorang anak kampung meninggal dunia lalu anak kecil ini pergi bersama kabilahnya untuk melayat. Setelah memuji Allah dan mengagungkan-Nya, ia berpidato menyampaikan nasehat yang baik kepada orang-orang. Pada malam harinya, setelah layatan tersebut, tiba-tiba ia tidak bisa berbicara, sehingga ayahnya resah dan membawanya ke rumah sakit. Para dokter pun melakukan diagnosis dan pemeriksaan, tetapi tanpa hasil apa-apa. Kemudian anak kecil itu dibawa kepada saya. Begitu melihatnya, mata saya hampir meneteskan air mata, lalu saya ruqyah dengan mu’awwidzat kemudian saya bacakan ruqyah mata untuknya di air. Kemudian saya katakan kepada ayahnya agar meminumkannnya dan memakainya untuk mandi selama 7 hari kemudian setelahitu datang lagi kepada saya. Sepekan berikutnya, anak itu datang kepadaku dalam keadan sembuh sehingga dia bisa berbicara sebagaimana semula. Lalu saya ajarkan beberapa pem-bentengan diriyg harus dibacanya setiap pagi dan sore agar terhindar dari pengaruh mata.

Segala puji bagi Allah, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.


Peristiwa Anak

Peristiwa ini terjadi di rumah kami. Ada seorang lelaki dan wanita tua datang kepada saya. Setelah masuk ke dalam majelis, orang ini menceritakan kisah ibunya. Sementara itu, wanita tua tersebut masuk ke dalam bersama istri saya. Kemudian wanita itu saya panggil dan setelah saya ruqyah, mereka pun langsung pergi. Kemudian tiba-tiba saya melihat cacing putih di rumah dalam jumlah yang banyak sekali, sehingga membuat saya terkejut. Kemudian istri saya membersihkannya dengan sapu tetapi tidak lama kemudian muncul lagi cacing-cacing itu di semua kamar, lalu saya katakan kepada istri saya, kemarilah kita pikirkan peristiwa ini. Apa yang dikatakan oleh wanita tua tadi? Istriku menjawab : Dia memandang ke sudut-sudut rumah dan memandang lama sekali tetapi tidak berbicara apa-apa. Lalu saya faham bahwa ini adalah pengaruh mata, sekalipun rumah kami sangat sederhana. Mungkin wanita tersebut hidup di perkampungan badui dan belum pernah melihat kota. Akhirnya saya ambil air lalu saya bacakan ruqyah mata ke dalamnya kemudian saya percikkan ke seluruh penjuru rumah. Tiba-tiba cacing-cacing itu pun hilang dan rumah kembali bersih sebagaimana semula.


KISAH-KISAH TENTANG DAMPAK ‘AIN

Ibrahim bin ‘Abdullah Al Hazami dalam bukunya “Al ‘Ainu Haq Bahaya Mata yang Menghancurkan” memberikan kisah-kisah tentang dampak ‘ain yang dapat mempengaruhi bahkan membahayakan makhluk hidup bahkan alam sekitarnya.


Menimpakan ‘Ainnya hanya dengan Mendengarkan Suara Korban

Al Ashmu’I berkata:”Aku telah melihat seseorang yang bermata tajam mendengarkan suara sapi sedang diperah.Dia terkegum-kagum dengan derasnya pancaran air susu itu.lalu ia bertanya,”Sapi jenis apa ini?Orang-orang menjawab,”Jenis anu”,seraya menyebutkan jenis yang lain dan menyembunyikan jenis Sali sapi itu.namun yang terjadi justru kedua sapi tersebut malah mati,baik yang disebutkan jenisnya maupun yang disamarkan (disembunyikan).”

Al Ashmu’I berkata:”Aku mendengar ia berkata:Jika aku melihat sesuatau yang mengagumkanku,maka aku merasakan panas keluar dari mataku.”(lihat Al Jami’li Ahkami Qur’an,oleh Al Qurthubi 9/227)


Memecah Batu dengan ‘Ain

Abu Said bin ‘Abdul malik bin Qarib berkata:”Dahulu,di daerah kami ada dua orang laki-laki yang menimpakan ‘ain kepada orang-orang.Salah satu dari kedua orang itu melewati lempengan batu seraya berkata:”Demi Allah,aku tidak pernah melihat yang seperti ini.”Maka terbelahlah batu itu menjadi dua,lali keluarganya mengambil batu tersebut dan mengecornya dengan besi.Dia melewatinya lagi untuk kedua kali lalu dia berkata dengan menyumpahi batu tersebut maka pecahlah batu itu menjadi empat bagian.


Menghilangkan Pengaruh Pandangan Mata yang Menyebabkan Unta terjatuh dengan Kekuatan Ruqyah

Ibnul Qayyim menuturkan kisah aneh tentang berbaliknya pengaruh ‘ain kepada pelakunya.beliau berkata:”(cerita ini) dari Abu ‘Abdullah As Saji, bahwa dia sedang dalam perjalanan haji atau perang. Saat itu dia mengendarai seekor unta yang besar. Diantara rombongan mereka ada orang yang bermata tajam. Setiap kali orang itu memandang saesuatu,yang dipandang pasti binasa. Hal tersebut dikabarkan kepada Abu ‘Abdullah supaya Abu ‘Abdullah berhati-hati. Mereka mengatakan,”Lindungilah unta anda dari seorang yang bermata tajam.”lalu Abu ‘Abdullah menjawab:”Dia tidak bisa mencederai ontaku.”Ketika perkataan Abu ‘Abdullah disampaikan kepada orang bermata tajam tadi, maka orang tersebut mencari kesempatan pada saat Abu ‘Abdullah tertidur. Diam-diam orang itu mendatangi unta Abiu ‘Abdullah dan memandangnya, maka gemetarlah unta itu dan terjatuh. Abu ‘Abdullah datang ketempat itu setelah dikhabari bahwa ontanya telah disatroni orang yang bermata tajam seperti yang terlihat. Lalu Abu ‘Abdullah berkata:”Tunjukkan kepadaku orang itu!”Ketika orang bermata tajam tersebut diperlihatkan kepada Abu “Abdullah.Maka Abu ‘Abdullah pun berdiri di depannya seraya membaca doa ruqyah:

Dengan menyebut nama Allah, ada seseorang yang telah menahan,ada batu yang amat keras,dan ada api terlempar membara.Aku kembalikan ‘ain itu kepada pemiliknya dan kepada orang yang paling dia cintai (Maka lihatlah berulang-ulang,adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat,dan penglihatanmu itupun keadaan payah).(Al Mulk:3-4)

Maka keluarlah biji mata laki-laki tersebut dan hilanglah pengaruh ‘ain orang yang bermata tajam itu,dan unta kembali berdiri dan sehat sedia kala.(lihat Zaadul Ma’ad 4/174)


Sembuh Karena Orang yang Menimpakan ‘Ain Mati.

Aku (Ibrahim bin ‘Abdullah Al Hazami) mendengar almarhum ayahku bercerita ahwa ada seseorang di Balidah,hidup dalam keadaan buta selama lima belas tahun.Anak perempuannya selalu mengantarkannya kedalam masjid khususnya pada malam hari.Pada suatu malam prang tersebut bangun untuk melakukan shalat subuh,tiba-tiba dia bisa melihat bintang,dinding dan tempat air yang biasa dia gunakan untuk berwuduk.Ketika dia masuk ke dalam masjid,dia dapati orang-orang mengumumkan shalat jenazah untuk fulan,dan ternyata orang yang meninggal itu semoga Allah meridoinya adalah orang yang berpenyakit ‘ain.


Anak Berhanti berbicara

Ustadz Wahid Baaliy berkata:dahulu ada seorang anak yang fasih, ucapannya menyentuh,pandai dan terpandang di antara kawan-kawannya.Anak itu masih sekolah dijenjang SLTP.Dia sering diperbincangkan dalam berbagai acara dan resepsi.Pada suatu hari ada salah seorang anak desa ada yang meninggal,lalu anak ini pergi untuk berta’ziyah bersama keluarganya.Dia memuji Allah dan menyanjung-Nya,kemudian menyampaikan nasehat kepada orang-orang.Pada sore harinya ternyata anak ini menjadi bisu.Ayahnya sangat terkejut,lalu membawanya kedokter.Para dokter mulai mengobatinya dan melakukan apa saja yang dapat menolongnya akan tetapi tidak ada hasil.Lalu ayah itu dating kepada saya.Ketika aku melihat anak itu,aku hampir menangis karena aku tahu persis aktifitas keislaman anak ini untung aku dapat menahan diri,lalu aku bertanya pada anak itu tentang apa yang terjadi.Anak itu diam saja,lalu ayahnya menceritakan kisahnya padaku.dari cerita itu aku mengetahui bahwa anak tersebut terkena ‘ain,lalu aku meruqyahnya dengan membacakan Surat An-Naas dan Al Falaq.Kemudian aku memberikan air yang sudah aku ruqyah dan berpesan kepada Ayahnya supaya anak ini minum dan mandi dengan air tersebut selama tujuh hari dan setelah itu supaya dating lagi padaku.Tujuh hari kemudian anak itu datang lagi kepadaku.Dia sudah ceria dan fasih kembali seperti semula,lalu aku mengajarkan kepadanya doa perisai untuk dibaca pada waktu pagi dan sore supaya dia terlindunbgi dari ‘ain.(Dituturkan oleh Wahid Baaliy dalam kitabnya:Ash-Sharimul Battar fit Tashaddi lis-sihiril Asyrar,halaman:251)


Memecahkan Piring dengan ‘Ain

Al Ahmari,seorang siawa SMU,sehari-harinya ia menyaksikan sekelompok kawan-kawannya yang sedang berkumpul sambil tertawa-tawa.Kemudian dia bergabung dengan mereka untuk mengamati,apakah ada salah seorang dari kawannya yang menghasud dengan ‘ainnya.Dia (Al Ahmari) melihat ada seorang anak kecil penghasud sedang melakukan hal yang sangat remeh,tetapi hampir tidak dapat dipercaya,yaitu jika dia melihat mangkuk makanan di tangan seseorang,maka mangkuk itu langsung jatuh dan pecah.Anak kecil tersebut pernah mengakui perbuatannya itu,dia berkata,”Aku akan melakukan ini.”dan ternyata dia memang melakukannya (menjahili orang lain dengan ‘ainnya).Sejak itu kawan-kawannya tertawa-tawa melihat perbuatannya dan bermain dengan barang-barang milik orang.Padahal seorang muslim seharusnya tidak seperti itu,akan tetapi setiap melihat hal-hal yang membuaqt perasaan tertarik harusnya berkata:MaasyaAllah


Menghentikan Kereta.

Dikisahkan bahwa pada zaman penjajahan inggris ada seorang kakek yang berpenyakit ‘ain ikut serta dalam rombongan saudagar untuk memberli onta dan sapi dari negeri-negeri tetangganya.Ketika mereka melewati negeri mesir,mereka membawa banyak onta.Jumlah unta itu sangat banyak hingga memenuhi gunung yang dilintasi kereta.pemilik unta itu kesulitan menjauhkan unta dari rek kereta karena kereta bisa lewat kapan saja.Yang paling rawan adalah kalau sampai unta itu tertabrak kereta, maka inggris akan merampas unta dan memberi denda yang berlipat ganda.Orang tua itu merasa tenang ketika kereta tak kunjung dating,dan apabila dating juga dia akan melakukan sesuatu yang dapat menghentikannya.Seketika itu datanglah kereta dari kejauhan dengan suara klakson yang keras.ketika kereta semakin dekat,orang tua ini mengarahkan pandangannya yang tajam kearah kereta>seketika itu juga kereta semakin melemah dan suaranya juga semakin kecil dan akhirnya berhenti.Kereta itu baru bergerak lagi setelah unta-unta itu menyeberang rel semuanya.Ketikapemilik unta itu sudah merasa tenang orang tua ini mengarahkan pandangannya kea rah kereta dan meniup keudara,fuh-fuh lalu kereta jalan kembali.(Al Masaiyah,oleh Ali-Majid)


Kisah-kisah ‘Ain dari Barat

Dikisahkan oleh pemuka-pemuka gereja di Italia bahwa Paulus Pie IX bunuh diri disebabkan ia memiliki keyakinan bahwa dirinya bermata tajam,dan bahwa dia menjadi penyebab matinya ratusan orang,yakni karena pandangan yang lama pada mereka.

Begitu pula dikisahkan bahwa raja Spanyol Alphonse XIII adalah pemilik mata tajam yang jahat.Pada tahun 1923M dia mengadakan kunjungan resmi ke Italia.Pihak Istana Italia mengadakan penyambutan secara resmi.Akan tetapi sambutan ini memakan banyak korban dari pasukan angkatan laut Italia,yakni terjadinya ledakan besar di salah satu kapal selam yang dilibatkan dalam penyambutan resmi ini.juga meledaknya bom yang digunakan untuk menyambut kedatangan raja Spanyol ini sehingga membunuh orang-orang yang ada disekitarnya.kemudian salah seorang dari pasukan laut yang disalami raja kemudian jatuh sakit setelah salaman ini,dan tidak lama kemudian dia pun mati.Juga dikisahkan bahwa ketika raja yang ganas ini menuju laut Gleno,tiba-tiba bendungan yang ada di sana runtuh yang mengakibatkan matinya lima puluh orang karena tenggelam dan lima ratus orang kehilangan tempat tinggal.

Menurut sebuah berita bahwa dictator Italia Mussolini sangat takut kepada ‘ain sehingga dia menolak bertemu dengan raja Spanyol Alphonse XIII tersebut.Jalinan politik kedua Negara dilakukan melalui utusan (duta) yang tidak lazim dilakukan.Semua itu untuk menghindari pertemuan dengannya.






1/31/2008

Menjaga Anak dari Penyakit 'ain

Penulis: Ummu Hafidz
Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.

Kenikmatan adalah hal yang didambakan setiap orang. Dan setiap kenikmatan juga dapat sekaligus menjadi ujian bagi seseorang. Salah satu kenikmatan yang dikaruniakan oleh Allah bagi sepasang insan adalah hadirnya sang buah hati dalam kehidupan. Ketika telah lahir, maka fisiknya yang lucu mengundang orang untuk memandang, memanjakan, menyentuhnya. Dan ketika tumbuh beranjak menjadi sosok kanak-kanak, tetap tingkah lakunya banyak mengundang perhatian orang.

Dengan sebab ini, maka perlulah kita ketahui sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap yang memiliki kenikmatan pasti ada yang iri (dengki).” (Shahihul Jami’ 223. Lihat majalah Al Furqon). Perlu menjadi perhatian bagi orang tua bahwa dalam syari’at Islam telah dijelaskan adanya bahaya ‘ain (pandangan mata) terutama bagi anak-anak. Pandangan mata yang berbahaya ini dapat muncul dengan sebab kedengkian orang yang memandang atau karena kekaguman.

Bahaya ‘Ain

Ibnu Qoyyim rohimahullah dalam kitab Tafsir Surat Muawwadzatain berkata, “Bahaya dari pandangan mata dapat terjadi ketika seseorang yang berhadapan langsung dengan sasarannya. Sasaran tukang pandang terkadang bisa mengenai sesuatu yang tidak patut didengki, seperti benda, hewan, tanaman, dan harta. Dan terkadang pandangan matanya dapat mengenai sasaran hanya dengan pandangan yang tajam dan pandangan kekaguman.” Pengaruh dari bahaya pandangan mata pun hampir mengenai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman-Nya,

وَإِن يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al Qur’an dan mereka mengatakan ‘Sesungguhnya dia (Muhammad) benar-benar gila.” (Al Qalam [68]: 51)

Terdapat pula hadits dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العين حقُُّ ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين

“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)

Subhanallah, lihatlah bagaimana bahaya ’ain telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah. Dan terdapat pula contoh-contoh pengaruh buruk ’ain yang terjadi pada masa sahabat. Salah satunya adalah yang terjadi ada Sahl bin Hunaif yang terkena ’ain bukan karena rasa dengki namun karena rasa takjub. Sebagaimana dalam hadits,

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif menyebutkan bahwa Amir bin Rabi’ah pernah melihat Sahl bin Hunaif mandi lalu berkatalah Amir, “Demi Allah, Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini.” Berkata Abu Umamamh, ”Maka terpelantinglah Sahl.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata, ”Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!” Maksudnya Nabi menyuruh Amir berwudhu kemudian diambil bekas air wudhunya untuk disiramkan kepada Sahl dan ini adalah salah satu cara pengobatan orang yang tertimpa ’ain bila diketahui pelaku ’ain tersebut (*). Maka Amir mandi dengan menggunakan satu wadah air. Dia mencuci wajah, kedua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung-ujung kakinya dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia.” (HR. Malik dalam al Muwaththa 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. sanadnya shahih, para perawinya terpercaya, lihat Zaadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al Arnauth dan Abdul Qadir al Arnauth 4/150 cet tahun 1424 H. Lihat majalah Al Furqon).

(*) Kata mandi yang ada di sini maksudnya adalah berwudhu sebagaimana disebutkan Imam Malik dalam kitab Al Muwattho. Wallahu a’lam.

Tanda-Tanda Terkena ’Ain

Tanda-tanda anak yang terkena ’ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab, atau kondisi tubuh sang anak kurus kering dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.

Sebagaimana dalam hadits dari Amrah dari ’Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, ”Pada suatu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Beliau berkata,

ما لِصبيِّكم هذا يبكي قهلاََ استرقيتم له من العين

“Kenapa anak kecilmu ini menangis? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati dia dari penyakit ’ain?” (HR. Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304).

Begitu pula hadits Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ binti Umais, “Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma menjawab, ”Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ’ain”. Beliau berkata, ”Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!” (HR. Muslim, Ahmad dan Baihaqi)

Berlindung dari Bahaya ’Ain

Sesungguhnya syari’at Islam adalah sempurna. Setiap hal yang mendatangkan bahaya bagi umatnya, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentu telah menjelaskan tentang perkara tersebut dan cara-cara mengantisipasinya. Begitu pula dengan bahaya ‘ain ini.

1. Bagi Seseorang Yang Memungkinkan Memberi Pengaruh ‘Ain

Berdasarkan hadits Abu Umamah di atas maka hendaknya seseorang yang mengagumi sesuatu dari saudaranya maka yang baik adalah mendoakan keberkahan baginya. Dan berdasarkan surat Al Kahfi ayat 39, maka ketika takjub akan sesuatu kita juga dapat mengucapkan doa:

مَا شَآءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بِا للهِ

Artinya:
”Sungguh atas kehendak Allah-lah semua ini terwujud.”

2. Bagi Yang Memungkinkan Terkena ‘Ain

Sesungguhnya ’ain terjadi karena ada pandangan. Maka hendaknya orang tua tidak berlebihan dalam membanggakan anaknya karena dapat menimbulkan dengki ataupun kekaguman pada yang mendengar dan kemudian memandang sang anak. Adapun jika memang kenikmatan itu adalah sesuatu yang memang telah nampak baik dari kepintaran sang anak, fisiknya yang masya Allah, maka hendaknya orang tua mendoakan dengan doa-doa, dzikir dan ta’awudz yang telah diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah surat muawadzatain (surat Annas dan al-Falaq). Ada pula do’a yang biasa diucapkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِِ وَ هَامَّةِِ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنِِ لامَّةِِ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ’ain yang buruk.” (HR. Bukhari dalam kitab Ahaditsul Anbiya’: 3120)

Atau dengan doa,

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَِ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.” (HR. Muslim 6818).

Kemudian, terdapat pula do’a yang dibacakan oleh malaikat Jibril alaihissalam ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendapat gangguan setan, yaitu:

بِسْمِ اللهِ أرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءِِ يُؤْذِيْكََ مِن شَرِّ كُلِّ نَفْسِِ وَ عَيْنِ حَاسِدِِ اللهُ يَشْفِيكَ

“Dengan menyebut nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu dari segala sesuatu yang menganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pengaruh ’ain. Semoga Allah menyembuhkanmu.”

Dan terdapat do’a-do’a lain yang dapat dibacakan kepada sang anak untuk menjaganya dari bahaya ’ain ataupun menyembuhkannya ketika telah terkena ’ain. (lihat Hisnul Muslim oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani atau Ad Du’a min Al Kitab wa As Sunnah yang telah diterjemahkan dengan judul Doa-doa Dan Ruqyah dari Al-Qur’an dan Sunnah oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani)

Kesalahan-Kesalahan Dalam Penjagaan Dari Bahaya ’Ain atau Sejenisnya

Memang bayi sangat rentan baik dari bahaya ’ain ataupun gangguan setan lainnya. Terdapat beberapa kesalahan yang biasa terjadi dalam menjaga anak dari gangguan tersebut karena tidak berdasarkan pada nash syari’at. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah:

1. Menaruh gunting di bawah bantal sang bayi dengan keyakinan itu akan menjaganya. Sungguh ini termasuk kesyirikan karena menggantungkan sesuatu pada yang tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya.
2. Mengalungkan anak dengan ajimat, mantra dan sebagainya. Ini juga termasuk perbuatan syirik dan hanya akan melemahkan sang anak dan orang tua karena berlindung pada sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perlulah kita selalu mengingat, bahwa sekalipun kita mengetahui bahaya ’ain memiliki pengaruh sangat besar dan berbahaya, namun tidaklah semua dapat terjadi kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita sebagai orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu. Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan dengan menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak boleh seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya pengaruh ‘ain sama sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal. Ini termasuk pengingkaran terhadap hadits-hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sikap yang terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu mempercayai pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan apa yang dikhabarkan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam

Maraji’:

1. Majalah Al Furqon edisi 4 Tahun V/Dzulqo’dah 1426.
2. Doa-Doa dan Ruqyah dari Al Qur’an dan Sunnah. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani. Media Hidayah. 2004.
3. Tafsir Surah Muawwadzatain. Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. Akbar. 2002.
4. Tumbuh di Bawah Naungan Ilahi. Syaikh Jamal Abdul Rahman. Media Hidayah. 2002.