Showing posts with label Kupas Tuntas Kesesatan Sufi. Show all posts
Showing posts with label Kupas Tuntas Kesesatan Sufi. Show all posts

6/25/2009

Aku Adalah Allah, Tuhanmu! (pengakuan Jin sufi)

Marak sekali wirid-wirid bid’ah yang tidak ada dalil dari Hadits dan Al Qur’an sekarang beredar. Bahkan perguruan beladiri yang memakai tenaga dalam dengan merapal wirid-wirid tertentu. Kadang berbahasa Arab, bahkan tak pelak kata Allah sering disangkut pautkan kedalam wirid-wirid mereka. Ini sebuah kisah nyata, seorang anak muda yang "katanya" sudah memiliki ilmu paling tinggi dalam Thariqah.

Pada suatu kali datang di ruqyah massal, niatnya sih baik. Yaitu mau ikut membantu para peruqyah untuk menyembuhkan orang-orang yang sedang terganggu oleh para Jin Jahil. Saat sesi taujih (ceramah/nasehat) semuanya duduk diam mendengarkan seorang ustad yang memberikan taujih tentang dunia para jin. Dan tentang orang-orang yang diganggu jin. "Jangan menganggap orang yang tidak shalat saja yang terganggu oleh Jin. Bahkan orang-orang yang biasanya memakai wirid atau dzikir yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah apalagi niatnya juga salah, mereka malah yang lebih mudah diganggu oleh Jin". Tetapi pemuda tersebut kayaknya tidak ingin mendengarkan taujih yang di sampaikan ustad yang sedang mengisi taujih. Saya diajak berbincang-bincang terus oleh pemuda itu. Mulai dari macam-macam thariqah, ilmu laduni, dan banyak hal. Dia menjelaskan layaknya seorang ustad!

Ketika sudah memasuki sesi terapi ruqyah. Suara seorang ustad menggelegar di microphone "HAI KALIAN JIN-JIN JAHIL YANG SEDANG MENGANGGU MANUSIA, DEMI ALLAH. PERGILAH, SEBELUM KAMI BACAKAN AYAT-AYAT ALLAH YANG AKAN MEMBAKAR KALIAN" Beberapa orang langsung sedikit bereaksi. Macam-macam reaksinya, ada yang ngomel-ngomel, ada yang bernyanyi, dan yang paling "menggelikan" si Ustad thariqah disamping saya ini tangannya langsung gemetar, dan matanya melotot tajam kearah peruqyah. Saya yang ada disampingnya sudah merasa kalau pemuda ini sudah mulai bereaksi, tetapi saya diamkan saja. Menunggu sampai ustad yang meruqyah didepan untuk membacakan ayat-ayat Allah.

Tak pelak ketika sudah dibacakan ayat-ayat Allah, pemuda ini langsung berdiri sambil berteriak "SAMPEYAN NANTANG AKU (KAMU MENANTANG SAYA)". Saya sendiri kaget. Tidak seberapa lama, si Pemuda itu berteriak sambil merapal do’a-do’a Arab. Saya nggak tahu itu do’a apa karena belum pernah mendengarnya. Langsung saja saya dekap pemuda itu, beberapa teman-teman peruqyah juga mendekapnya. Setelah kami telentangkan, kami membacakan ayat ayat Allah. Dan dia juga merapalkan wirid-wiridnya. Tapi anehnya, kalau wirid itu benar dari Rasulullah kenapa dia harus merasakan kepanasan saat kami membacakan ayat-ayat Allah. Saya dan beberapa teman-teman peruqyah mengintensifkan kepada si pemuda itu, dan beberapa peruqyah yang lain memfokuskan kepada peserta yang lain.

Setelah jin yang ada ditubuh si pemuda itu tenang, kami menanyakan siapa dia. Apa alasan dia masuk kedalam tubuh si pemuda itu "Aku Allah, aku yang menguasai langit dan bumi. Dan pemuda ini yang aku pilih karena dia terus memanggilku" ucapnya sambil menatap tajam. "Mana mungkin kamu Allah, lah wong dibacakan ayat-ayat Allah saja kamu kepanasan" ucap salah satu peruqyah. "Aku Allah, Tuhanmu" itu yang hanya terucap oleh si Jin. "Yo wes, terserah kamu. Pokoknya sekarang kamu keluar dari tubuh ini" perintah peruqyah. "Gak, aku nggak gelem metu teko awak’e arek iki (Tidak, aku tidak mau keluar dari tubuh anak ini)". "Kalau kamu nggak keluar, tak bacakan lagi ayat-ayat Allah biar tubuhmu kepanasan dan mati!" perintah si peruqyah lagi.

Akhirnya dibacakan lagi ayat-ayat Allah. Dan jin yang berada dipemuda itu terlihat menggelepar-gelepar. Berteriak-teriak tidak karuan, dan akhirnya si pemuda lemas, pingsan. Tidak seberapa lama si pemuda sadar, dan kami-pun bertanya tentang beberapa hal. Pemuda itu menjelaskan hikmah tentang amalan-amalannya, tentang wirid-wiridnya, bahwa itu semua dari kyai thariqahnya. Setelah kami menjelaskan tentang wirid-wirid yang tidak sesuai dengan Rasulullah, si pemuda ini tetap keukeuh kalau wirid-wiridnya itu bagus. Bahkan masih tetap menceramahi kami, tim peruqyah!

Yah manusia memang seperti itu, ketika dijelaskan tentang kesalahannya mereka tidak akan mau menerima kesalahannya. Kecuali orang-orang yang beriman yang selalu memperbaiki dirinya dengan meminta diingatkan atas kesalahan-kesalahannya.

Kita, Mau milih yang mana? Terserah deh mau milih yang mana, pokoknya siap-siap menerima segala apa yang kita pilih sajalah.

dikuti dari sini

4/01/2009

Keluar Dari Thariqot Tijaniyah (2)

Oleh: Syaikh Muhammad Taqyuddin al-Hilali

Dalam edisi sebelumnya pembaca budiman telah membaca bagaimana syaikh Muhammad al-Arabi al-Alawi mematahkan hujjah syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali yang kala itu masih menjadi pengikut thariqat at-Tijaniyyah, hingga menyebabkan syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali keluar dari thariqat ini. Kemudian, supaya pembaca mengetahui apa itu thariqat at-Tijaniyyah, bagaimana ajarannya yang menyimpang dari ajaran Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, insya Allah, dengan meminta pertolongan kepada-Nya, kami akan berusaha melanjutkan kisah ini dengan mengetengahkannya secara bersambung. Inilah kisah lanjutan perjalanan hidup syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali salah seorang ulama yang pernah menjadi dosen di Universitas Islam Madinah, silakan menyimak ! (pent).

Syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali berkata :

Akupun tidak mempunyai jawaban kecuali seperti apa yang telah aku kemukakan, akan tetapi aku belum menerima pendapat Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi. Maka syaikh berkata : Pikirkanlah dalil-dalil ini, kita akan membahas lagi dalam pertemuan yang lain. Berikutnya, terjadi tujuh kali pertemuan yang kami lakukan setelah shalat maghrib hingga menjelang isya. Setelah itu aku yakin bahwa aku berada dalam kesesatan, akan tetapi aku ingin menambah keyakinanku, maka kukatakan pada syaikh : “Siapakah ulama disini (Maroko) yang beraqidah seperti ini, karena suatu masalah baik itu aqidah ataupun furu’ (parsial) wajib kita paparkan sekuat tenaga, (sekalipun) wawasan kita terhadap al-Qur’an dan sunnah tidak banyak.

Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi menjawab : ulama yang beraqidah sepertiku ini adalah ulama yang terkemuka pada thariqat at-Tijaniyyah di seluruh Maroko, yaitu syaikh al-Fatimi asy-Syaradi. Hampir-hampir aku tidak mempercayainya, karena telah mashur di seluruh penjuru Maroko bahwa syaikh al-Fatimi asy-Syaradi termasuk ulama terkemuka, dan salah seorang “Muqaddim” thariqat at-Tijaniyyah (tokoh terkemuka, bukan muqaddam sebagaimana tertulis dalam edisi sebelumnya, pent.), aku tidak mengatakannya sebagai syaikh at-Tijani, karena syaikh at-Tijani melarang seorang menjadi syaikh selainnya, karena julukan syaikh terkadang difahami orang bahwa selain diri syaih at-Tijani diperbolehkan membuat wirid-wirid thariqat beserta keutamaan dan aqidah-aqidahnya, dan hal ini terlarang, karena yang mengajarkan thariqah ini adalah Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dalam keadaan syaikh at-Tijani tidak tidur dan bukan bermimpi sebagaimana penjelasan lalu. Dan orang yang pertama kali diajari Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- adalah syaikh Ahmad at-Tijani, dan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menamainya syaikh thariqat ini. Dan setiap orang penyebar thariqat ini dan pengajar wirid-wiridnya dinamai “Muqaddim”, dan thariqat hanya mempunyai satu sumber dan satu syaikh, dan tidak diperbolehkan bagi thariqat mempunyai lebih dari satu sumber dan lebih dari satu syaikh sebagaimana hal ini tertera dalam kitab-kitab thariqat.

Akupun bersegera pergi menemui asy-Syaikh al-Fatimi –rahimahullah-, saat itu waktu dhuha (pagi), dan syaikh Muhammad bin al-Arabi mewasiatkan kepadaku agar aku tidak bertanya kepada asy-Syaikh al-Fatimi kecuali jika ia sendirian (tidak ditemani seorangpun), setelah sampai aku melihat beliau di kelilingi jama’ah, lalu setelah sebagian dari mereka pulang dan yang lainnya bergantian datang aku tetap berada disitu menunggunya agar aku dapat berbicara sendirian dengan beliau, sampai kami menunaikan shalat dhuhur.

Hingga tibalah saat makan siang aku masih belum mendapat kesempatan bersendirian dengannya, dan masih tersisa tiga orang dalam majelisnya, maka akupun (tidak tahan dan) mengatakan padanya bahwa asy-Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi berkata : Wajib bagi kita memaparkan seluruh permasalahan ushul/dasar dan furu/parsial berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, maka perkara yang mencocoki dalam pandangan kita yang sempit ini hendaknya kita terima dan apa yang menyelisihi hendaknya kita tolak, sekalipun yang mengatakannya adalah Imam Malik atau Syaikh Ahmad at-Tijani.

(Setelah mendengar ucapanku ini) beliau memberi isyarat dengan tangannya agar aku menunda (melanjutkan ucapanku). Akupun menunggu sangat lama, (setelah ia tidak menjawab ucapanku) aku mengundurkan diri pergi dari majelisnya pulang menuju madrasah asy-Syaraatin tempat yang aku singgah sebelum aku bertemu dengan Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi. Namun pada hari itu juga setelah shalat isya penjaga gerbang madrasah menjumpaiku dan berkata bahwa Syaikh al-Fatimi asy-Syaradi mengirim budak dan kendaraannya memintamu agar engkau mengunjunginya. Aku tertegun sesaat, sangat terkejut. (Mengapa?) karena dua hal. Pertama : waktu setelah isya bukan waktu berkunjung, kedua : tidak biasanya seorang pemuka ulama yang berusia lanjut mengirim kendaraan untuk menjemput kecuali menjemput seorang yang seusia dengannya dan semisal dalam ilmu, sedangkan aku adalah seorang pemuda.

Kemudian aku segera naik kendaraan itu yaitu seekor baglah (binatang hasil perkawinan silang antara kuda dan keledai) sedangkan pembantu syaikh berjalan (menuntun) di depan, tatkala tiba di rumah syaikh aku mengucapkan salam padanya dan syaikh al-Fatimi membalas dan menyambut dengan baik. Lalu dia berkata : “Wahai anakku, saya adalah seorang yang telah berusia lanjut, tidak mempunyai kekuatan untuk berperang, adapun syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi masih muda, siap jika berperang, dan engkau bertanya kepadaku di depan banyak orang tentang masalah yang sangat penting yang saya tidak dapat menyembunyikan jawabannya namun saya tidak kuasa berterus terang di depan banyak orang. Ketahuilah, bahwa apa yang dikatakan syaikh Muhammad bin al-Arabi kepadamu adalah kebenaran yang tidak terdapat keraguan padanya, saya pernah mengikuti thariqat al-Qadiriyah beberapa lama, kemudian berpindah ke-thariqat al-Wizaniyah beberapa lama juga, kemudian berpindah ke-thariqat at-Tijaniyyah dan menekuninya hingga menjadi “muqaddim” thariqat at-Tijaniyyah, maka tidak saya dapati pada thariqat-thariqat itu faedah, lalu saya tinggalkan semua thariqat itu dan tidak ada dalam diriku lagi tasawuf kecuali saya mencari guru yang mengajariku al-Qur’an dan sunnah, ilmu dan amal. Kalau saya mendapati guru yang mengajari al-Qur’an dan sunnah tentulah saya akan tekun belajar dan menjadi muridnya, sedangkan engkau ingin berpergian ke daerah timur, jika engkau menjumpai syaikh, guru yang berakhlak sebagaimana al-Qur’an dan sunnah baik secara ilmu dan amal, tulislah surat padaku dan beritahukan padaku hingga saya dapat bepergian menemuinya dan saya bertambah yakin dengan keyakinan yang aku dapatkan dalam dialogku dengan Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi.”

Kalau saja saat itu aku mempunyai ilmu seperti yang kumiliki saat ini, akan kukatakan padanya : sesungguhnya guru yang engkau cari lebih dekat denganmu dari siapa saja, karena syaikh yang kamu cari dan engkau ingin bepergian menemuinya sekalipun jauh adalah dirimu sendiri, dengan syarat engkau mempunyai kemauan yang kuat untuk mengamalkan al-Qur’an dan sunnah dan membuang taklid bagaimanapun keadaannya.

Maka semoga Allah membalas keduanya dengan kebaikan dan meliputi mereka berdua dengan rahmat-Nya.

Sesudah selang 20 tahun, aku bertemu dengan syaikh Abdul Aziz bin Idris salah seorang ulama kota Tatwan beliau salah seorang murid syaikh al-Fatimi, kemudian aku kisahkan hikayat ini, lalu ia berkata :
Aku juga mengalami hal yang serupa ini, setelah aku menamatkan pelajaranku di Universitas al-Qarawiyin, aku pergi menemui syaikh al-Fatimi, karena beliau adalah syaikhku yang paling utama, aku katakan padanya : wahai syaikh, saya akan kembali ke negeriku kota Tatwan , saya berharap engkau membekaliku dengan doa-mu yang baik dan mengajarkan wirid-wirid thariqah at-Tijaniyyah. Maka syaikh al-Fatimi menjawab : Kasihan sekali engkau ini, engkau telah hafal al-Quran, telah belajar ilmu-ilmu agama Allah yang memungkinkan bagimu memahami kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya, tidak cukupkah ini semua ? hingga engkau mencari petunjuk selainnya ? thariqat itu tidak ada apa-apanya, hendaknya engkau mempelajari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah.

Maka Allah menyingkapkan dariku -dengan keutamaan-Nya- kegelapan syirik dan bid’ah, dan Dia membukakan bagiku pintu tauhid dan mengikuti ajaran Rasulullah, alhamdulillah, bagi-Nya-lah pujian dan karunia. Saya mohon kepada Allah agar menguatkan kita dengan ucapan yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan akhirat, sesungguhnya Dialah pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Lalu aku bertanya-tanya, darimanakah syaikh Muhammad al-Arabi al-Alawi –rahimahullah- mendapatkan cara untuk berdialog seperti yang terjadi padaku dengannya?

Dulu aku mengira ia mendapatkannya dari syaikh Syuaib ad-Dukkali seorang yang alim dan seorang dai yang memperbaiki umat, karena syaikh Muhammad al-Arabi al-Alawi pernah berdialog dengannya yang menyebabkan ia keluar dari thariqat at-Tijaniyyah, maka syaikh Muhammad al-Arabi al-Alawi melakukan hal itu juga pada diriku, namun selang beberapa lama aku mendapati cara dialog ini dari kitab “Ghayatul Amani fi ar-Rad ala an-Nabhani” karya seorang alim salaf Muhammad Syukri al-Alusi al-Bhagdadi –rahimahullah-, kitab ini termasuk kitab yang paling bagus dari buku-buku salafiyyah yang mendebat ahli bid’ah dari kalangan pengikut thariqat sufi, yang mencekik leher-leher mereka dengan ungkapan gaya bahasa yang mengena, seolah-olah kitab itu adalah untaian mutiara dalam rangkaian yang indah, sedikit sekali kitab yang semisalnya, sebuah peribahasa inggris ini pantas dikatakan padanya : “Teman itu harus ada sekalipun jumlah buku sedikit, namun mereka adalah orang-orang yang baik.”

Inilah penyebab aku keluar dari thariqat at-Tijaniyyah Yang tidak terlintas sebelumnya dalam benakku sedikitpun, dan ini hasil dari petunjuk yang meyakinkan, yang tidak dapat diragukan lagi bahwasanya ajaran thariqat tijaniyyah sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab mereka dan keyakinan mereka sama sekali tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, dan penjelasannya anda akan dapati pada penjelasan setelah ini. (bersambung, dengan judul “Kitab-kitab Thariqat at-Tijaniyyah”, insya Allah).

Dikutip dari : Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi.19, hal. 18-20





Keluar dari Thoriqot Tijaniyah (1)

Oleh: Syaikh Muhammad Taquddin al-Hilali

Segala puji milik Allah yang mengutus Muhammad –shollallahu alaihi wa sallam- sebagai penutup para nabi dan imam para rasul, sebagai rahmat bagi semesta alam, pemberita kabar gembira, yaitu kemenangan yang nyata bagi mereka yang beriman dan mengikuti petunjuknya, dan juga sebagai pemberi peringatan akan adanya siksa yang menghinakan bagi mereka yang kafir dan menyelisihi sunnahnya, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan atas Muhammad, istri-istri dan keturunan beliau.

Asy-Syaikh Taqiyuddin bin Abdul Qadir al-Husaini al-Hilali berkata :
Aku tinggal di negeri Sajlamaanah, ketika berusia 12 tahun aku telah hafal al-Qur’an, aku lihat penduduk negeriku penganut fanatik berbagai thariqat Sufiyah, hampir-hampir anda tidak menjumpai seorangpun diantara mereka, baik itu seorang yang berilmu maupun orang bodoh melainkan pasti dia pengikut salah satu thariqat Sufiyah, dan mempunyai hubungan sangat erat dengan seorang syaikh seperti jalinan seseorang yang amat sangat mencintai kekasihnya, ia beristighasah pada syaikhnya di saat susah, meminta pertolongan padanya tatkala mendapatkan musibah-musibah, serta senantiasa bersyukur dan memujinya, dan jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kepadanya, jika tertimpa musibah ia menuduh dirinya masih kurang taat dan kurang cinta terhadap syaikhnya serta kurang berpegang teguh pada thariqatnya.

Tidak terlintas dalam benaknya bahwa syaikhnya itu lemah tidak mampu melakukan sesuatu baik itu di langit maupun di bumi, (bahkan ia meyakini) syaikhnya mampu melakukan segala sesuatu. Dan aku mendengar masyarakat berkata : “Barangsiapa tidak mempunyai syaikh maka setan itu adalah syaikhnya.”

Aku melihat ada dua kelompok tasawuf yang tersebar di negeri kami :

Pertama : Kelompok tasawuf yang diikuti oleh para ulama dan para tokoh masyarakat.

Kedua : Kelompok tasawuf yang diikuti masyarakat awam.

Adapun aku lebih condong pada kelompok pertama, dan aku dengar ayahku dimana beliau termasuk ulama di negeri kami sering berujar :
Kalau bukan lantaran thariqat Tijaniyah melarang pengikutnya berziarah kubur ke makam para wali, dan meminta bantuan dan hajat kepada mereka, terkecuali kuburannya Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, dan juga terkecuali kuburan syaikh at-Tijani, dan kuburan orang-orang yang mengikuti thariqatnya dari kalangan para wali, kalau bukan karena hal ini tentu saya akan mengikuti thariqat Tijaniyah, karena saya tidak dapat meninggalkan ziarah kubur kakek kami (yang bukan penganut thariqat at-Tijaniyyah) yang bernama Abdul Qadir bin Hilal, dan kakek kami ini mashur sebagai orang yang baik, dan kuburnya dikunjungi manusia, dan dia dianggap termasuk dari kalangan para wali di daerah timur laut negeri Maroko.

Sekalipun jumlah pengikut thariqat Tijaniyah, thariqat ad-Darqawiyah dan thariqat al-Kataniyah, di negeri kami sedikit, namun thariqat-thariqat itu mempunyai pengikut dari kalangan para ulama dan tokoh masyarakat. Maka hatikupun berkeinginan untuk mengikuti ajaran thariqat at-Tijaniyah, usiaku saat itu hampir mendekati masa baligh, akupun pergi ke salah seorang syaikh dan kukatakan padanya :

Wahai tuanku, saya ingin engkau memberikan wirid-wirid thariqat at-Tijaniyah ! Diapun sangat gembira mendengar ucapanku, dan menyahut : Engkau ingin mendapatkan wirid di saat masih kecil? Ya, jawabku. Ia pun berkomentar : Bagus, bagus engkau akan beruntung, engkau akan beruntung, lalu ia memberikan wirid-wirid yaitu : membaca la ilaha illallah 100 x, demikian juga astagfirullahal adhim alladi la ilaha illa huwa alhayyul qayyum 30 kali, dan shalawat al-Fatih 50 kali, dan la ilaha illallah 100 kali, sedangkan penyempurna dzikirnya adalah : allahumma salli wasallim ala ainur rahmah ar-rabaniyah …. hingga selesai.

Orang yang membaca shalawat ini harus berwudhu, barangsiapa membacanya tidak berwudhu (tayammum) maka harus mengganti dengan membaca shalawat fatih 20 kali. Mengapa orang yang membaca shalawat ini harus berwudhu? Karena Nabi dan para khulafaur rasyidin akan menghadiri majelis orang yang membacanya, dan mereka senantiasa bersamanya selama ia berdzikir dengan wirid itu, ujarnya.

Wirid-wirid itu wajib dibaca sekali di waktu subuh dan sekali di waktu sore dalam keadaan suci dengan berwudhu sebagaimana disyariatkannya berwudhu ketika shalat, dan pelaku dzikir ini lebih afdhal berdzikir sambil duduk seperti duduk ketika bertasyahud (dalam shalat) dengan memejamkan kedua matanya, sambil menghadirkan sosok syaikh Ahmad at-Tijani, yaitu seorang lelaki yang berkulit putih kemerah-merahan dan berjenggot putih, hendaknya ia mengambarkan dalam hatinya bahwa sebuah tiang dari cahaya keluar dari hati syaikh Ahmad Tijani lalu masuk dalam hati pelaku dzikir.

Adapun rutinitas yang harus dilakukan adalah berdzikir berjamaah dengan satu suara jika pengikut thariqat itu mempunyai teman di suatu negeri, jika tidak mempunyai teman pengikut thariqat at-Tijaniyah dinegerinya diperbolehkan baginya untuk melakukan dzikir itu sendirian setiap hari.

Asy-Syaikh Abdul Karim al-Mansuri memberitahukan padaku sebagian keutamaan wirid-wirid itu, dan akupun terus mengamalkan wirid-wirid yang ia ajarkan dengan hati ikhlas sambil menekuni syarat-syaratnya selama sembilan tahun. Dan ada juga dzikir pada hari jumat ketika matahari tenggelam, yaitu : laa ilaha illallah 1000 kali, dst.

Setiap kali tertimpa musibah aku beristhighasah/meminta pertolongan kepada syaikh at-Tijani namun ia tidak pernah menolongku, diantaranya ketika aku di Aljazair bepergian dari suatu daerah ke daerah lain, di saat itu aku bersama seorang teman yang mempunyai unta, lalu temanku itu mengikat untanya (agar tidak lepas) dan ia berwasiat agar aku menjaganya, kemudian ia meninggalkanku dalam sebuah kemah, lalu tali ikatan unta itu lepas, kemudian berjalan di tanah lapang, akupun mengejarnya, (namun) seolah-olah ia mengejekku, yaitu ketika ia berhenti berdiri dan lehernya hampir aku pegang, di saat itu ia lari menjauh kemudian berhenti lagi menungguku, hingga hampir-hampir kendalinya dapat kupegang, ia lari kembali (menjauhiku), yang demikian itu di saat terik matahari yang sangat panas di siang hari, maka aku berkata dalam diriku : ini adalah waktu untuk beristhighasah kepada syaikh at-Tijani, maka akupun berdoa kepadanya dan bersungguh-sungguh dalam beristhighasah agar syaikh memberi kemampuan padaku untuk menangkap dan mendudukkan unta itu, namun syaikh tidak dapat mengabulkan permohonanku. Akupun mencela diriku sendiri dan menganggap diriku tidak ikhlas dan kurang dalam berkhidmat kepada thariqat at-Tijaniyah, dan sama sekali aku tidak menganggap syaikh at-Tijani lemah/tidak mampu memenuhi hajatku.

Sekalipun para syaikh thariqat Tijaniyah menasehati para pengikutnya agar tidak membaca kitab selain kitab thariqat at-Tijaniyyah dalam masalah tasawuf, (aku tidak mengindahkan) ada ditanganku satu jilid kitab “Ihya Ulumuddin” karya Ghazali, akupun membacanya, maka apa yang kubaca berbekas dalam hatiku, lalu akupun bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menekuni shalat malam dalam suasana yang sangat dingin.

Pada suatu malam aku melakukan shalat tahajjud di depan kemahku yang berukuran kecil, jika aku duduk hampir-hampir kepalaku menyentuh atapnya, tiba-tiba aku melihat awan putih menutupi ufuk seperti sebuah gunung yang menjulang tinggi dari bumi ke atas langit, kemudian awan itu mendekati diriku dari arah timur - dan arah timur adalah kiblat bagi seorang yang shalat di Maroko dan Aljazair - hingga awan itu berhenti jauh dariku, lalu keluar darinya sosok manusia melangkah maju hingga dekat denganku, kemudian sosok itu ikut shalat bermakmum padaku, pakaiannya menyerupai pakaian seorang wanita berumur 15 tahun, namun lantaran pekatnya malam aku tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya.

Tatkala sosok itu ikut shalat bersamaku, akupun membaca surat as-Sajadah, namun rasa takut menyelimutiku hingga aku ganti membaca surat lainnya, yaitu surat Saba, namun tetap saja aku juga tidak mampu membaca ayat-ayat al-Qur’an lantaran ketakutan, lalu aku tinggalkan surat-surat yang panjang dan aku ganti membaca surat-surat pendek yang tidak membutuhkan kosentrasi penuh ketika membacanya, maka sosok itupun shalat bersamaku enam raka’at, dan aku tidak ingin berbicara dengannya, karena kitab-kitab thariqat mewasiatkan kepada pengikutnya untuk tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang menghalanginya di saat melakukan amalan ritual hingga ia sampai kepada Allah, dan tersingkap untuknya suatu penutup, hingga ia dapat menyaksikan arsy dan ruang angkasa, dan tidak ada satupun hal yang ghaib yang tersembunyi darinya.

Tatkala suasana keheningan yang menakutkan itu berlangsung lama, akupun berdoa kepada Allah dalam sujud rakaat keenam : “Ya Allah jika ada kebaikan dalam ucapan sosok ini jadikanlah ia bercakap denganku, dan jika tidak ada kebaikan dalam ucapannya maka palingkanlah ia dariku, maka tatkala aku selesai mengucapkan salam sesudah tasyahud pada rakaat keenam, sosok itupun mengikuti, namun tidak kudengar sayup suara salam darinya, hanya saja aku dapat melihatnya ketika ia menoleh kearah kanan ketika salam sebagaimana dilakukan pengikut mazhab Maliki ketika shalat sendirian, mengucapkan salam hanya sekali saja ke-arah kanan, yaitu Assalamualaikum tanpa menambahkan kalimat “warahmatullahi wabarakatuhu”, jika bermakmum kepada salah seorang imam ia harus mengucapkan salam tiga kali jika disebelah kirinya ada makmum lainnya maka salamnya kearah kanan itu salam penutup shalat, (kedua) salam kedepan kearah imam dan (ketiga) salam kekiri, kepada orang yang shalat di sebelah kirinya.

Padahal hal tersebut terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan dishahihkan al-Hafid Ibnu Hajar bahwasanya Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- mengucapkan salam kearah kanan “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu”, dan mengucapkan salam kearah kiri “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu”, inilah yang sepatutnya dilakukan oleh orang yang mengerjakan shalat, baik ia menjadi imam atau makmum atau shalat sendirian.

Sesudah salam, sosok itu pergi perlahan-lahan hingga masuk dalam awan putih yang berhenti menunggunya, sesudah menghilang dibaliknya, maka awan itu mundur kearah timur hingga lepas dari pandanganku.
Pada Qabilah Himyan ada seorang syaikh yang bernama syaikh Sinqithi, seorang yang shalih, aku tidak pernah melihat orang dalam hal zuhud, wara’ dan akhlaq yang mulia sepertinya, aku pergi menemuinya dan kuceritakan padanya kejadian itu, lalu ia berkata : Mungkin itu adalah syaitan, kalau sosok itu malaikat tentu engkau tidak akan tertimpa rasa takut. Akupun menganggap pendapatnya itu benar.

Setelah beberapa tahun lamanya, aku belajar ilmu hadits, aku baca dalam kitab “Shahih Bukhari” kejadian yang menimpa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- ketika Jibril mendatanginya di Gua Hira (Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- ketakutan). Akupun menganggap bahwa pendapat syaikh tidak benar, dan permasalahan ini tidak kudapatkan jawabannya, dan pada waktu itu aku masih dalam keadaan musrik (menyekutukan Allah), aku beristhighasah kepada selain Allah, takut kepada selain Allah. Dari sini anda akan mengetahui bahwa munculnya hal-hal yang aneh diluar jangkauan akal dan apa yang terjadi dalam alam ghaib bukan merupakan dalil akan benarnya hal-hal yang aneh yang muncul itu dan bukan merupakan dalil yang menunjukkan bahwa seorang itu wali Allah, karena setiap para pelaku ritual kejiwaan dalam agama apapun akan ditampakkan hal-hal yang aneh diluar jangkauan akal, aku telah mendengar dan membaca bahwa para penyembah patung di India ditampakkan kepada mereka hal-hal yang aneh dan diluar jangkauan akal.

Beberapa hari kemudian aku bermimpi melihat seorang lelaki yang membangunkan dan memberi isyarat kearah ufuk dan berkata padaku : Lihatlah, maka akupun melihat tiga orang lelaki, lalu ia melanjutkan ucapannya : Sesungguhnya lelaki yang berada ditengah mereka itu adalah Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-, maka aku menuju sosok itu, tatkala aku sampai kepadanya, dua orang dari mereka pergi, maka aku pegang tangannya dan kukatakan : Wahai Rasulullah peganglah tanganku dan ajaklah menuju Allah ! Kemudian ia berkata kepadaku : Bacalah ilmu (agama)! Maka akupun berpikir, dan sadar bahwa aku berada di negeri Aljazair dimana orang-orang Perancis menguasainya, dan para ulama dari negeri kami (Maroko) mengkafirkan setiap orang yang bepergian ke Aljazair, jika orang tersebut pulang kembali ke negerinya, para ulama akan menyuruhnya mandi dan memperbaharui ke-Islamannya, dan memperbaharui pernikahannya/mengulangi akad nikah dengan istrinya.
Maka aku katakan dalam diriku : Ini Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- menyuruhku untuk menuntut ilmu, sedangkan aku berada di negeri yang dikuasai orang-orang Nashara, maka aku akan menjadi orang yang bermaksiat atau kafir, lalu bagaimana Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- memperbolehkanku untuk menuntut ilmu di negeri itu.

Ini semua terjadi dalam sekejap, dan aku masih dalam posisi berdiri di depan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-. Lalu aku bertanya : Di negeri kaum muslimin atau di negeri Nashara? Semua negeri itu adalah milik Allah, jawab beliau –shollallahu alaihi wa sallam-. Kusambung pertanyaanku : Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia mematikanku dalam keadaan iman, beliaupun –shollallahu alaihi wa sallam- mengangkat jari telunjuknya kearah langit, dan berkata : “Di sisi Allah”.

Setelah keluar dari thariqat Tijaniyah, lantaran diskusi yang akan aku ceritakan nanti insya Allah, sekali lagi aku bermimpi melihat Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dengan wajah yang berbeda dari yang kulihat dalam mimpi pertama, dalam mimpi yang pertama sosok beliau –shollallahu alaihi wa sallam- adalah seorang yang tinggi putih kurus kemerah-merahan, berjenggot putih, adapun pada mimpi kali ini beliau tidak terlalu tinggi dan tidak kurus, jenggotnya hitam, dan wajah beliau –shollallahu alaihi wa sallam- yang putih kemerah-merahan seperti kulitnya orang Arab, dan aku melihat beliau –shollallahu alaihi wa sallam- di tanah lapang.

Setelah keluar dari thariqat at-Tijaniyah terkadang hatiku tertimpa was-was dengan tulisan yang dinisbatkan kepada syaikh at-Tijani dalam kitab Jawahirul Ma’ani, bahwa syaikh berkata : “Barangsiapa meninggalkan wiridnya dan berganti membaca wirid ajaran kami, serta berpegang pada thariqah kami yaitu thariqah al-Ahmadiyyah al-Muhammadiyyah al-Ibrahimiyyah al-Hanafiyyah at-Tijaniyyah maka tidak akan ada rasa ketakutan pada dirinya dari Allah, tidak pula dari Rasulullah, tidak pula dari syaikhnya siapapun dia dari kalangan orang yang hidup maupun yang telah mati, adapun orang yang mengambil wirid kami lalu meninggalkannya maka bala’ akan menimpanya, dan tidak akan mati melainkan mati dalam keadaan kafir, inilah yang diberitahukan Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- kepadaku dalam keadaan bangun dan bukan dalam keadaan bermimpi”. Dan Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- berkata : Wirid-wiridmu adalah wiridku juga, murid-muridmu adalah murid-muridku dan aku adalah pendidik mereka.

Dalam membantah was-was ini, aku menggunakan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Sunnah, dan aku berlindung kepada Allah dari syaitan hingga ia lari kalah, maka tatkala aku melihat Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dalam mimpi kali ini, terlintas dibenakku hal itu, maka aku berazam untuk memulai berbicara dengan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-, aku meminta kepada beliau –shollallahu alaihi wa sallam- agar berdoa kepada Allah untukku agar mewafatkanku dalam keadaan iman.

Mungkin para pembaca tidak lupa pada mimpiku yang pertama, disaat aku meminta kepada Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-, namun beliau –shollallahu alaihi wa sallam- tidak mendoakanku, hanya saja beliau –shollallahu alaihi wa sallam- mengangkat jari telunjuknya ke-arah langit dan berkata di sisi Allah. Lalu aku berkata : Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar mewafatkanku dalam keadaan beriman. Lalu beliau berkata kepadaku : Hendaknya engkau yang berdoa dan aku akan mengamini doamu, maka aku angkat tanganku dan berdoa : Ya Allah wafatkanlah aku dalam keadaan beriman. Lalu Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- berkata : Amin, dan beliau –shollallahu alaihi wa sallam- mengangkat kedua tangannya.

Maka hilanglah rasa was-was dalam diriku akan tetapi aku tidak merasa aman dari makar Allah, karena tidak ada yang merasa aman dari makar Allah melainkan orang-orang yang merugi, (surat al-a’raf: 99) dan mimpi itu adalah mimpi yang memberi kabar gembira dan bukan mimpi yang menipu, dan antara mimpiku yang pertama yang telah aku ceritakan, dimana beliau –shollallahu alaihi wa sallam- tidak mendoakan dengan mimpi ini dimana Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- mengamini doaku selang 20 tahun, aku mentakwilkan perbedaan pada mimpi yang pertama dimana Nabi tidak mendoakan dan mimpi yang kedua dimana Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- mengamini doaku adalah dahulu aku terjerumus dalam kesyirikan dalam beribadah kepada Allah, sedangkan pada mimpi kedua aku mentauhidkan Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam-, wallahu alam.

Mengapa Aku Keluar Dari Thariqat Tijaniyah

Sungguh, aku dahulu berada dalam kesesatan yang nyata, di saat itu aku berpendapat jika keluar dari thariqat Tijaniyah berarti aku telah keluar dari agama Islam, tidak terlintas dalam benakku untuk keluar sekalipun sejarak sehelai rambut dari thariqat.

Adalah Syaikh Abdulhayyi al-Kattani musuh thariqat at-Tijaniyah, karena dia adalah syaikh resmi thariqat al-Kattaniyah, saya katakan ia adalah syaikh resmi karena penduduk “Sala” yaitu penduduk yang membantu syaikh Muhammad bin Abdul Karim al-Kattani, pencetus thariqat al-Kattaniyah, tidak mengakui syaikh Abdulhayyi (sebagai syaikh thariqat al-Kattaniyyah), mereka berkata : Sesungguhnya penjajah Perancislah yang mengangkatnya sebagai syaikh (thariqat al-Kattaniyyah) bagi penduduk “Sala”.

Yang menceritakan hal ini adalah seorang sastrawan yang alim syaikh Abdullah bin Said as-Salwa, dia adalah penolong Syaikh Muhammad bin Abdul Karim al-Kattani, dan Syaikh Muhammad bin Abdul Karim al-Kattani ini sangat memusuhi saudaranya Syaikh Abdulhayyi al-Kattani dan menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak pantas saya sebutkan di sini.

Pernah suatu ketika Syaikh Abdulhayyi al-Kattani bertemu denganku di sebuah kota, saat itu aku berada di rumah Syaikh Ahmad Sikrij seorang ulama, sastrawan, penyair yang menguasai bermacam-macam ilmu, beliau adalah seorang hakim. Di saat itu aku datang untuk mengajari anaknya, yang bernama as-Sayyid Abdul Karim, ia adalah seorang sastrawan, dan aku juga mengajari anak saudaranya yang bernama as-Sayyid Abdussalam. Aku mengajari keduanya pelajaran sastra Arab karena permintaan Syaikh Ahmad Sikrij.

Di saat itu aku melantunkan syair yang tidak aku ingat lagi bait-baitnya memuji Syaikh Abdulhayyi al-Kattani, dia terkesan dengan syair itu, hingga berkata kepadaku : Berjanjilah, jika engkau datang di kota Fasa engkau harus singgah di rumahku sebagai tamu, maka akupun mengiyakan.

Pada bulan Rabiul Awal tahun 1340 H aku pergi ke kota Fasa dan singgah di rumahnya. Saat itu bertepatan dengan kelahiran anaknya yang bernama Abdul Ahad, akupun menyusun syair mengucapkan selamat atas kelahirannya dan mengutip tanggal kelahirannya, dan aku sudah tidak ingat lagi bait-bait syair itu sedikitpun.

Pada hari ketujuh, ia membikin jamuan yang besar dan mengundang khalayak ramai. Sesudah menyantap hidangan para undangan berdiri sambil berdzikir diiringi tarian-tarian. Mereka mengajakku ikut serta dalam kebatilan mereka, akupun menolaknya, karena diantara syarat pengikut thariqat at-Tijani yang ikhlas adalah tidak berdzikir bersama thariqat lainnya dan tidak menari bersama mereka.

Di dalam kitab “al-Baqhiyyah” karya Syaikh al-Arabi Ibnu as-Sayih, kitab ini adalah syarh/pemaparan kitab “al-Maniyyah” karya at-Tijani Ibnu Baba asy-Syinqithi ada sebuah hikayah tentang acaman yang keras bagi seseorang yang mengikuti dzikir thariqat-thariqat lainnya, ringkasnya ada seorang pengikut thariqat at-Tijani pergi ke perkumpulan thariqat lainnya untuk tujuan duniawi, lalu ia malu berada disitu sendirian sedangkan orang lain berdzikir dengan dzikir thariqat mereka, maka iapun ikut serta berdzikir bersama mereka, di saat ia membuka mulutnya untuk berdzikir bersama mereka, tiba-tiba kelumpuhan menimpa pada tulang rahangnya hingga mulutnya tetap terbuka dan ia tidak mampu menutupnya hingga meninggal dunia.

Akan tetapi para hadirin terus mengajak dan menarikku hingga aku terseret dalam halaqah mereka, aku melihat mulut-mulut mereka menganga (berdzikir), diantara mereka ada yang berjenggot hitam, dan yang lain berjenggot putih. Ada juga yang tidak berjenggot, dan yang tidak berjenggot ini adalah dari kalangan anak-anak yang masih belia yang belum memiliki jenggot, pada zaman itu orang yang mencukur jenggot sedikit sekali di jumpai kecuali para penjajah Perancis dan pengikut mereka yang berjumlah sedikit.

Aku dengar suara-suara yang keluar dari mulut-mulut itu, suara yang tidak dimengerti oleh semua bahasa, sebagian mereka mengucapkan aa aa aa , dan yang lain mengatakan aah aah aah, dan lainnya berkata aq aq, aku mengingkari hal ini, jiwaku berkata sesungguhnya Allah tidak ridha bahwa ini adalah cara beribadah kepada-Nya, karena hal ini adalah hal yang buruk, lalu aku sangat menyesal. Hatiku berbisik mengatakan bagaimana diperbolehkan bagi diriku mengingkari acara dimana seorang wali semisal Sayyid Ahmad at-Tijani hadir, akupun bertaubat dari pikiran yang terlintas dalam jiwaku ini.

Setelah itu datang lagi ujian lainnya, yaitu tatkala Syaikh Abdul Hayyi al-Kattani berkata sambil mengkritik : Sesungguhnya thariqat at-Tijaniyah dibangun ditepi sebuah jurang/kehancuran, dan tidak sepatutnya orang yang berakal mengikuti thariqat itu, lalu aku tanyakan kepadanya : Bagaimana halnya dengan thariqat al-Kattaniyyah dimana anda adalah Syaikhnya? Lalu ia berkata : Semua thariqat itu adalah ajaran yang batil -Thariqat-thariqat yang berkembang di indonesia adalah thariqat Qadiriyah, Syadziliyah, Naqsyabandiyah, Khalwatiyah, Syattariyah, Syammaniyah, Tijaniyah, Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah,(Pent)- sesungguhnya thariqat itu dibuat sebagai tipu daya agar syaikh dapat memakan harta manusia dengan cara yang batil, menguasai dan memperbudak mereka, ia melanjutkan : Saya tidak pernah mendirikan thariqat (al-Kattaniyyah), yang mendirikan thariqat itu adalah orang lain, dan harta yang aku ambil dari mereka ini aku infakkan di jalan kebaikan yang mereka tidak menginfakkan untuknya.

Lalu aku bertanya kepadanya : Apakah yang membuatmu mengkritik thariqat-thariqat, dan apa dalilmu kalau thariqat itu batil? Ia pun menjawab : Pernyataan masing-masing syaikh dari kedua thariqat itu (at-Tijaniyyah dan al-Kattaniyyah) bahwa sosok nabi –shollallahu alaihi wa sallam- hadir tatkala mereka melakukan dzikir-dzikir. Ini merupakan sikap kurang beradab dari keduanya, dan sikap tidak mengagungkan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-, bagaimana bisa kalian membebani Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- untuk keluar dari kuburnya dengan menempuh jarak melalui daratan dan lautan untuk duduk di depan mereka, dan kalian membentangkan kain putih untuknya agar beliau –shollallahu alaihi wa sallam- duduk di atasnya sedangkan para pengikut thariqah kita berdiri dan pergi kearah pintu untuk menyambut beliau –shollallahu alaihi wa sallam-.
Lalu aku bertanya : Kalau begitu engkau tidak meyakini kebenaran ajaran thariqahmu? Ia menjawab : Sama sekali aku tidak menyakininya, dan aku telah memberitahukan kepadamu bahwa thariqat-thariqat itu adalah buatan manusia agar (para syaikhnya) dapat memakan harta manusia dengan batil (membohongi mereka). Dan aku tambahkan keteranganku ini, dalam kitab rujukan thariqah kalian yaitu (Jawahirul Ma’ani) yang kalian menganggap bahwa syaikh kalian Ahmad Tijani telah mendikte Ali Harazim menulisnya, separuhnya adalah saduran, salah satu dari dua jilid itu yaitu jilid pertama saduran karangan Muhammad Abdullah yang dikubur di suatu tempat di kota Fasa. Syaikh Abdul Hayyi al-Kattani menyebutkan nama tempat yang saya tidak ingat lagi. Syaikh melanjutkan lagi : Dan saya telah membandingkan dua kitab itu dari awal hingga akhir, saya dapati jilid pertama dari kitab (Jawahirul Ma’ani) seluruhnya dikutip dari perkataan syaikh Muhammad Abdullah, kemudian saya meninggalkannya.

Selang beberapa hari kemudian aku duduk di majelis Syaikh Umar bin al-Khayyat salah seorang penjual buku-buku dekat kota al-Qairawan, ia bertanya : Apakah engkau pernah berjumpa dengan syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi? belum, jawabku. Orang ini termasuk ulama terkemuka di kota Fasa dan ia mempunyai buku-buku yang tidak ada semisalnya di kota Fasa ini, lanjut Syaikh Umar sambil memuji ilmu dan adabnya. Aku tidak akan duduk dengan orang itu dan aku tidak mau bertemu dengannya karena dia membenci Syaikh Ahmad at-Tijani dan mencela thariqatnya, ujarku.

Penuntut ilmu itu wajib mempunyai wawasan luas dan berakhlaq terhadap semua orang, dengan demikian ilmu dan perangainya akan luas dan baik, dan tidak wajib bagi penuntut ilmu mengikuti semua orang dalam segala apa yang mereka ajak, hendaknya ia mengambil apa yang baik dan meninggalkan yang buruk, sahut Syaikh Umar. Jika engkau tidak bertemu dengan syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi akan terlewatkan darimu ilmu dan adab yang banyak, lanjutnya.

Akupun pergi menemui syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi, ternyata dia adalah seorang hakim di pengadilan kota Fasa, maka kubuatlah empat bait syair yang aku tidak ingat lagi kecuali bait yang terakhir yaitu :

هذا مدى قصدى وما أنا مستجد

“Aku maksudkan bahwa tujuanku bertemu denganmu adalah untuk saling berdiskusi ilmiah dan itulah tujuanku yang sebenarnya.”

(Dalam bahasa Arab) jika huruf ( ما ) dalam bait itu dianggap sebagai “maa maushulah” (maa yang bermakna “yang”) maknanya adalah inilah yang aku minta, namun jika kita menganggap huruf “maa” sebagai “maa nafiyah” (yang bermakna “tidak”) maka artinya adalah aku tidak minta uang.
Tatkala syaikh Muhammad bin al-Arabi keluar dari gedung pengadilan dan hendak menaiki kendaraannya yang berada di depan pintu gedung pengadilan, dan pembantunya memegang tali kekangnya, aku mendatanginya dan kuberikan lembaran bait-bait syair itu, setelah dibaca, iapun menyambutku, dan berkata kepada al-Haj Muhammad bin asy-Syaikh al-Arari teman yang menemaniku, : Kamu tahu rumahku? Ya, jawab temanku itu. Datanglah ke rumahku jam 9 pagi, ujar Syaikh Muhammad bin al-Arabi .

Pada jam 8.30 aku pergi bersama temanku dari tempat tinggalnya di Madrasah asy-Syaratin agar dapat sampai ke rumah syaikh Muhammad bin al-Arabi jam 9 pagi, hari itu adalah hari kedua belas bulan Rabiul Awal, hari itu merupakan hari raya bagi penduduk Maroko dan penduduk negeri-negeri Islam lainnya.

Di Maroko ada kelompok (sesat) yang bernama al-Aisawiyin pengikut Syaikh bin Isa al-Maknasi, mereka itu mempunyai satu musim tiap tahun dimana mereka berkumpul pada hari kedua belas bulan Rabiul Awal dan mereka datang dari segala penjuru. Mereka memukul-mukul kendang dan meniup seruling, bersenandung dengan nasyid-nasyid hingga orang-orang melihat mereka itu seperti orang gila, di saat itulah mereka menerkam kambing-kambing dan ayam-ayam tanpa memasak bahkan langsung memotong dengan kuku-kuku mereka dan memakan daging mentahnya, dan darah mengucur dari binatang-binatang itu, kelompok ini memenuhi kota Fasa pada zaman itu hingga zaman ini. Lantaran penuh sesaknya jalan kami terlambat 2 setengah jam sampai di rumah syaikh Muhammad bin al-Arabi, setelah sampai kami memceritakan kepada penjaga rumah syaikh, lalu ia masuk kedalam kemudian kembali kepada kami dan berkata : Kalian berdua datang tidak tepat waktu, sekarang Syaikh sibuk menerima tamu para penguasa Perancis, kembalilah kesini sesudah ashar.

Maka kamipun pergi, lalu kukatakan pada temanku : Kita tidak usah pergi menemuinya lagi, Allah –azza wa jalla- telah menjaga kita dari kejelekan pertemuan dengannya, karena ia benci kepada Syaikh kami (yaitu Syaikh at-Tijani) dan thariqatnya, dan kebaikan itu adalah pada apa yang Allah pilihkan. Lalu sahabatku menyahut : Syaikh Muhammad bin al-Arabi tidak salah, ia mempunyai alasan tepat, sebaiknya kita kembali lagi untuk menemuinya.

Sesudah Ashar kami pergi menemui Syaikh, beliau seorang yang ramah tamah, memuliakan dan bersikap tawadhu, sikap-sikap yang tidak aku dapati pada diri Syaikh al-Kattani dan tidak juga pada diri ulama-ulama di kota Fasa.

Kamipun terlibat dalam pembicaraan mengenai sastra Arab, disela-sela dialog itu ia mengambil buku dan meletakkannya di depanku. Maka aku dapati sebagaimana apa yang dikatakan Sayyid Umar bin Hayyat. Tatkala senja hampir tiba aku meminta izin untuk pergi, lalu ia berkata padaku : Kemana kamu akan pergi, engkau orang asing di negeri ini, dan rumah ini telah disiapkan untuk menerima tamu, tinggal dan bermalamlah di sini. Akupun menerima tawarannya, setelah kami selesai menunaikan shalat maghrib, teman-teman Syaikh datang, diantaranya Syaikh Abdussalam as-Sharghini, Syaikh al-Muhdi al-Alawi dan beliau ini masih hidup, adapun Syaikh Abdussalam telah meninggal dunia.

Lalu sebagian orang bermain catur, dan Syaikh melihat mereka dan tidak mengingkari, hatikupun berkata : Ini dalil bahwa syaikh termasuk ulama yang tidak mengamalkan ilmu, pantas saja ia mencela para wali Allah dan karamah yang Allah berikan pada mereka, setelah itu mereka berhenti bermain catur dan memulai membicarakan mengkritik thariqat al-Kattaniyyah dan mengejek pengikutnya, masing-masing mereka bercerita.
Kemudian Syaikh berkata : Aku mempunyai kisah yang sangat mengherankan dari kisah-kisah tentang mereka. Datang seorang pemuda, ia adalah seorang pengikut setia thariqat al-Kattaniyyah, ia berkata padaku : Aku ingin bertaubat di tanganmu dari seluruh thariqat, dan engkau mengajarkan kepadaku al-Qur’an dan sunnah, lalu aku katakan padanya : Apa yang mendorongmu keluar dari thariqatmu yang engkau senangi itu? Pemuda ini dahulunya peminum minuman keras, pezina, meninggalkan shalat Ashar, Maghrib, dan Isya. Lalu suatu ketika dia melalui majelis thariqat al-Kattaniyyah dan mendengarkan para pengikut thariqat itu menari, berteriak dengan suara melengking, dan ada seorang yang menyenandungkan syair-syair kepada mereka, dan yang lainnya mabuk, lalu dia ingin ikut menari-nari bersama mereka, akan tetapi ia terhalangi dari hal itu karena junub, dan belum pernah menunaikan shalat hingga siang itu, akan tetapi ketidaksadarannya mengalahkannya, ia masuk, dan didapatinya Syaikh Muhammad bin Abdul Kabir di depan halaqah, sedang para muridnya menari, maka Syaikh Muhammad bin Abdul Kabir larut dalam tarian bersama mereka, dan dia adalah orang yang paling bersemangat dalam menari diantara mereka.

Tatkala mereka selesai menari, Syaikh memanggil pemuda itu dan mencium bibirnya, dan Syaikh itu berkata : Aku melihat Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menciummu, lalu akupun mencontoh Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menciummu! Pemuda itu berkata : Tatkala ia memanggilku, aku merasakan ketakutan luar biasa, aku mengira Syaikh itu akan membuka aibku (sebagai seorang pemuda yang banyak dosanya), dan akan menjelek-jelekkanku atas dosa yang aku lakukan. Tatkala Syaikh mengatakan perkataannya tadi, saya yakin bahwa ia berdusta atas segala pengakuannya dan apa yang ia dakwahkan, kalau tidak berdusta mengapa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- meridhaiku dan mencium bibirku, padahal aku melakukan dosa-dosa besar pada saat itu. Pemuda tadi melanjutkan : Inilah sebab kedatanganku padamu, aku ingin bertaubat kepada Allah dari segala macam thariqat, dan aku akan mengikuti thariqat (jalan) al-Qur’an dan as-Sunnah.

Tatkala aku melihat mereka menjelaskan aib thariqat al-Kattaniyyah serta mengejeknya, rasa takut yang sangat menyelimutiku, aku menyesal telah mengunjungi Syaikh Muhammad bin al-Arabi, hatiku berkata : Inilah yang aku khawatirkan telah terjadi, lalu bagaimana jalan keluarnya?

Aku teringat dengan perkataan at-Tijani bin Baba menjelang kematiannya :

Barangsiapa duduk dengan orang yang membenci Syaikh ia akan cacat mulutnya

Dan akan tersesat dalam masalah yang menakutkan dan membinasakan

Dan Nabi telah mengingatkan hal ini kepada orang-orang yang berakal diantara kita

Maka hendaklah engkau mengamalkan apa yang aku ucapkan

Syaikh berkata, perbuatan itu adalah racun yang berjalan

Akan menuju orang yang melakukannya

Makna syair itu bahwa Syaikh Ahmad at-Tijani berkata : Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- berkata padaku dalam keadaan aku tidak tidur dan hal ini bukan mimpi, katakanlah kepada sahabat-sahabatmu janganlah mereka duduk bersama orang-orang yang membencimu, karena hal ini akan menyakitiku.

Aku berketetapan untuk keluar dari majelis itu. Lalu aku bangun akan pergi, namun Syaikh bertanya : Kemana kau akan pergi? Ke kamar mandi jawabku. Aku membohonginya, tatkala tiba di depan pintu, penjaga melarangku keluar, dan mengatakan : Apakah Syaikh telah mengizinkanmu untuk keluar? Ya, jawabku. Iapun bertanya lagi : Mustahil, karena engkau orang asing, sedangkan peraturan yang dibuat penjajah Perancis menetapkan jam malam, keluar sesudah jam 10 malam akan berbahaya, jika engkau keluar beberapa langkah, engkau akan ditangkap dan dimasukkan penjara hingga esok pagi, setelah itu akan dimintai alasan yang dapat membebaskanmu.

Penjaga itu melanjutkan ucapannya : Aku tidak akan membukakan pintu bagimu kecuali aku dengar izin dari syaikh. Akupun menyahut : Kalau begitu aku kembali.

Maka akupun kembali dan duduk di tempatku semula. Usahaku untuk keluar ini diketahui syaikh, lalu iapun bertanya : Aku mengetahuimu akan keluar dan dilarang penjaga, apakah sebabnya? Aku jawab : Penyebab aku ingin pergi adalah setelah engkau mencela thariqat al-Kattaniyyah, engkau ganti mencela thariqat at-Tijaniyyah, sedangkan aku pengikut thariqat at-Tijaniyyah, tidak diperbolehkan bagiku duduk dalam majelis yang mencela Syaikhku dan thariqatku. Lalu ia menjawab : Tidak mengapa (aku memaklumi). Aku dulu juga pengikut thariqat at-Tijaniyyah lalu aku keluar dari thariqat itu setelah melihat kebatilannya. Maka jika engkau ingin terus berpegang teguh pada thariqat ini dengan kebodohan dan sikap taklid maka setelah ini engkau tidak akan mendengarkan celaan terhadap thariqat ini. Namun jika engkau ingin menempuh jalan ahli ilmu, ayo kita berdiskusi, jika engkau menang dalam diskusi itu aku akan mengikuti thariqat at-Tijaniyyah, jika engkau kalah engkau harus keluar dari thariqat itu sebagaimana aku telah keluar darinya. Maka sikap sombongku dan tidak mau kalah, serta ketidakridhaanku dikatakan mengikuti thariqat at-Tijaniyyah lantaran kebodohan, menghasungku untuk menerima tantangannya. Ya, aku mau berdiskusi pungkasku.

Syaikh memulai pertanyaannya : Saya ingin berdiskusi denganmu dalam satu masalah saja, jika engkau benar maka seluruh thariqat itu benar, jika salah maka segala thariqat yang ada itu batil. Aku menyahut : Masalah apa? Syaikh menjawab : Dakwaan syaikh at-Tijani bahwa ia melihat Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur, lalu Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- mengajarkan thariqat ini disertai keutamaan-keutamaannya, jika memang benar ia melihat Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dalam keadaan tidak tidur, lalu ia menerima thariqat ini, berarti engkau berada dalam kebenaran dan saya dalam kebatilan dan saya akan kembali kepada kebenaran. Jika dakwaan Syaikh at-Tijani itu batil, berarti aku berada dalam kebenaran dan engkau dalam kebatilan, dan wajib bagimu meninggalkan kebatilan itu lalu berpegang pada kebenaran.

Syaikh melanjutkan ucapannya : Engkau yang memulai diskusi ini, atau aku? Engkau saja yang memulai, jawabku. Syaikh memulai : Saya mempunyai dalil-dalil, setiap dalil itu cukup untuk mematahkan pengakuan Syaikh at-Tijani. Akupun menjawab : Sebutkan dalil-dalilmu, aku akan menjawabnya.

Syaikh berkata :

Pertama :

Sesungguhnya perselisihan pertama kali yang terjadi dikalangan sahabat Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- disebabkan masalah khilafah (kekuasaan). Para sahabat Nabi dari kalangan Anshar berkata kepada kaum Muhajirin : Kami mempunyai pemimpin dan engkau mempunyai pemimpin. Maka berkatalah kaum Muhajirin : Sesungguhnya bangsa Arab tidak akan tunduk kecuali kepada seseorang dari Quraisy. Dan terjadilah perdebatan yang seru antara Anshar dan Muhajirin, hingga-hingga mereka lalai menguburkan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-, maka selama tiga hari Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- belum juga dikubur. Maka mengapa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- tidak menampakkan dirinya kepada para sahabatnya dan memutuskan perselisihan diantara mereka dan bersabda : Fulan menjadi khalifah. Maka selesailah perselisihan? Mengapa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- meninggalkan permasalah yang besar ini, seandainya beliau –shollallahu alaihi wa sallam- menampakkan kepada seorang sahabatnya bukan dalam mimpi sesudah beliau –shollallahu alaihi wa sallam- meninggal, tentulah Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- akan berbicara dengan mereka dan mendamaikan perselisihan yang terjadi diantara mereka. Ini adalah lebih penting dari penampakkan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- kepada syaikh at-Tijani 1200 tahun sesudah beliau –shollallahu alaihi wa sallam- wafat, dan mengapa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menampakkan dirinya? Dan mengatakan kepada syaikh at-Tijani : Engkau termasuk orang yang terpercaya, dan siapa yang mencintaimu dia termasuk orang yang terpercaya, siapa yang menggunakan wirid-wirid yang engkau ajarkan ia akan masuk surga tanpa hisab dan azab, beserta kedua orangtua dan istri-istrinya, maka mengapa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- tidak menampakkan dirinya dan berbicara kepada para sahabatnya yang mereka itu adalah manusia yang paling utama sesudah beliau –shollallahu alaihi wa sallam- dalam permasalahan yang paling pelik ? Namun justru beliau –shollallahu alaihi wa sallam- menampakkan dirinya kepada seseorang yang tidak bisa menyamai keutamaan para sahabat Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-, bahkan tidak dapat mendekati keutamaan mereka dalam perkara yang tidak penting?

Akupun menjawab : Sesungguhnya Syaikh at-Tijani semoga Allah meridhainya telah menjawab pertanyaan ini di saat beliau masih hidup, beliau berkata : Sesungguhnya Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menyampaikan sesuatu yang khusus kepada orang yang tertentu, dan menyampaikan masalah umum kepada semuanya di saat beliau –shollallahu alaihi wa sallam- hidup, adapun sesudah beliau –shollallahu alaihi wa sallam- meninggal terputuslah penyampaian hal yang umum untuk orang umum, dan penyampaian hal yang khusus untuk orang tertentu tidak terputus sesudah wafatnya –shollallahu alaihi wa sallam-, dan ajaran inilah yaitu wirid-wirid, amalan-amalan yang utama yang disampaikan kepada syaikh kami, dan ini termasuk penyampaian hal yang khusus kepada orang tertentu.

Syaikh Muhammad bin al-Arabi menjawab : Saya tidak menerima jika dikatakan syariat itu ada yang untuk orang tertentu dan ada yang untuk orang awam, karena hukum-hukum syariat ada lima (wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram). Dan wirid-wirid beserta amalan-amalan yang terdapat pada thariqat at-Tijaniyyah ini jika memang benar ajaran agama Islam, maka harus masuk dalam lima hukum itu, karena merupakan amalan yang Allah berikan pahala bagi pengamalnya, hukumnya kalau tidak wajib atau sunnah. Dan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- meninggal telah menjelaskan semua ajaran untuk umatnya, baik itu yang wajib maupun yang sunnah. Dalam shahih Bukhari dari Ali bin Abi Thalib, ditanyakan kepada Ali bin Abi Thalib :

“Apakah Rasulullah mengajarkan ajaran khusus kepada ahli bait. Ali bin Abi Thalib –radhiallohu anhu- menjawab : Demi Dzat yang menumbuhkan bebijian, dan menciptakan mahluk hidup, Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- tidak pernah mengkhususkan suatu ajaran kepada kami, melainkan pemahaman yang diberikan kepada seseorang tentang al-Qur’an.“

Jika demikian halnya, mengapa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- tidak mengkhususkan suatu ajaran kepada ahli baitnya, dan para khalifahnya ? Namun justru beliau –shollallahu alaihi wa sallam- mengkhususkan suatu ajaran kepada seorang lelaki yang hidup di akhir zaman dengan ajaran yang bertentangan dengan hukum-hukum al-Qur’an dan sunnah. Akupun menjawab : sesungguhnya syaikh at-Tijani alim (sangat mengetahui) al-Qur’an dan sunnah. Dan (sebenarnya) jawaban syaikh Muhammab bin al-Arabi al-Alawi memuaskan, bagi orang yang menginginkan jawaban yang memuaskan. Syaikh Muhammad bin al-Arabi berkata : ingat-ingatlah jawaban ini.

Kedua :

Perselisihan antara Abu Bakar dan fatimah az-Zahra semoga Allah meridhai keduanya dalam masalah warisan. Sebagaimana diketahui Fatimah az-Zahra meminta hak dari warisan ayahnya (Nabi shollallahu alaihi wa sallam) kepada Abu Bakar ash-Shidiq dengan hujjah bahwasanya jika Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- meninggal maka anak-anaknya mewarisi hartanya, maka mengapa Abu Bakar menghalanginya untuk mendapatkan warisan ayahnya. Abu Bakar ash-Shidiq –radhiallohu anhu- menjawab : bahwasanya Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

“Kami para Nabi tidak mewarisi, dan apa-apa yang kami tinggalkan adalah sedekah” (HR. Bukhari)

Dan sejumlah sahabat Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- hadir tatkala Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menyampaikan ini, maka Fatimah az-Zahra marah kepada Abu Bakar ash-Shiddiq hingga ia meninggal dunia enam bulan setelah meniggalnya Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-.

Inilah dua orang yang dicintai Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-, dimana beliau –shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

“Fatimah az-Zahra bagian keluargaku, orang yang menyakitinya berarti menyakiti diriku” (HR. Muslim)

Dan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq orang yang paling ia cintai, beliau –shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

“Tidak ada seorangpun yang paling amanat padaku dalam masalah jiwa maupun masalah harta daripada Abu Bakar ash-Shiddiq” (HR. Bukhari)

Perselisihan yang menimbulkan rasa marah antara Abu Bakar dan Fatimah mengganggu Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-, kalaulah Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menampakkan dirinya kepada salah seorang sesudah wafat untuk suatu permasalahan tentu Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- akan menampakkan dirinya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallohu anhu- dan berkata kepadanya : Aku tarik ucapanku tatkala aku masih hidup, lalu berikanlah Fatimah az-Zahra hak warisan, atau beliau –shollallahu alaihi wa sallam- menampakkan kepada Fatimah dan berkata kepadanya : Wahai anakku, janganlah engkau marah pada Abu Bakar ash-Shiddiq karena ia tidak berbuat melainkan karena melaksanakan perintahku.

Maka akupun menjawab : aku tidak dapat menjawab kecuali apa yang telah aku dengar (darimu). Syaikh berkata : ingatlah ini.

Ketiga :

Perselisihan yang terjadi antara Thalhah, Zubair dan Aisyah dengan Ali bin Thalib, perselisihan diantara dua kelompok ini sangat sengit hingga terjadi perang al-Jamal di kota Bashrah, dimana dalam peperangan ini banyak sahabat Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dan Tabi’in terbunuh, unta Aisyah disembelih, Mengapa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- membiarkan terjadinya pertumpahan darah dan keburukan menimpa kaum muslimin, bahkan menimpa para sahabat dan keluarganya? Padahal Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- mampu menghentikan pertumpahan darah ini hanya dengan satu kalimat, Allah –azza wa jalla- berfirman di akhir surat at-Taubah bahwasanya beliau –shollallahu alaihi wa sallam- amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang beriman, apa yang menimpa mereka dirasakan sebagai penderitaan yang berat oleh beliau –shollallahu alaihi wa sallam-, yaitu Firman-Nya :

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.” at-Taubah : 128

Lalu kukatakan kepada syaikh : aku tidak dapat menjawab kecuali apa yang saya telah dengar bahwa penampakkan dan perkataan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- kepada syaikh at-Tijani adalah karunia dari Allah –azza wa jalla-, dan Allah –azza wa jalla- memberikan karunia kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Syaikh berkata : perhatikan hal ini dan renungkanlah.

Keempat :

Perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dengan khawarij, dalam peristiwa ini banyak sekali darah ditumpahkan, kalaulah Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menampakkan dirinya kepada pemimpin kelompok khawarij, dan memerintahkan kepadanya untuk taat kepada khalifahnya tentulah darah tidak akan tertumpahkan? Akupun menjawab : jawabannya adalah apa yang saya dengar, lalu syaikh berkata : perhatikan dan renungkanlah hal ini. Aku mengharapkan sesudah ini engkau berpikir dan kembali kepada kebenaran, tutur syaikh.

Kelima :

Pertikaian yang terjadi antara Muawiyah dan Ali, kaum muslimin banyak terbunuh dalam pertempuran antara keduanya, diantaranya Ammar bin Yasir, mengapa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- tidak menampakkan dirinya kepada para sahabat manusia yang paling utama sesudah beliau –shollallahu alaihi wa sallam-, padahal terdapat maslahah yang amat penting yaitu menyatukan kaum muslimin dan mendamaikan mereka serta mencegah terjadinya pertumpahan darah? Sedangkan beliau –shollallahu alaihi wa sallam- adalah pendamai yang paling baik? Sebgaimana firman Allah –azza wa jalla- :

“Dan damaikanlah antara sesamamu” (QS. Al-Anfal : 1)

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapatkan rahmat” (QS. Al-Hujurat : 10)

Namun justru beliau –shollallahu alaihi wa sallam- menampakkan dirinya kepada syaikh at-Tijani di akhir zaman untuk tujuan yang tidak penting, dan hal ini tidak masuk akal terjadi pada beliau –shollallahu alaihi wa sallam- karena menyelisihi al-Qur’an dan sunnah.

Akupun tidak mempunyai jawaban kecuali seperti apa yang telah aku kemukakan, akan tetapi aku belum menerima pendapat syaikh. Maka syaikh berkata : pikirkanlah dalil-dalil ini, kita akan membahas lagi dalam pertemuan yang lain. Berikutnya, terjadi tujuh kali pertemuan yang kami lakukan setelah shalat maghrib hingga menjelang isya. Setelah itu aku yakin bahwa aku berada dalam kesesatan, akan tetapi aku ingin menambah keyakinanku, maka kukatakan pada syaikh : “Siapakah ulama disini (Maroko) yang beraqidah seperti ini, karena suatu masalah baik itu aqidah ataupun furu’ (parsial) wajib kita paparkan sekuat tenaga, (sekalipun) wawasan kita terhadap al-Qur’an dan sunnah tidak banyak.

Syaikh menjawab : ulama yang beraqidah sepertiku ini adalah ulama yang terkemuka pada thariqat at-Tijaniyyah di seluruh Maroko, yaitu syaikh al-Fatimi asy-Syaradi. Hampir-hampir aku tidak mempercayainya, karena telah mashur di seluruh penjuru Maroko bahwa syaikh al-Fatimi asy-Syaradi termasuk ulama terkemuka, dan salah seorang “Muqaddam” (tokoh terkemuka) thariqat at-Tijaniyyah, aku tidak mengatakannya sebagai syaikh at-Tijani, karena syaikh at-Tijani melarang seorang menjadi syaikh selainnya, karena julukan syaikh terkadang difahami orang bahwa selain diri syaih at-Tijani diperbolehkan membuat wirid-wirid thariqat beserta keutamaan dan aqidah-aqidahnya, dan hal ini terlarang, karena yang mengajarkan thariqah ini adalah Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dalam keadaan syaikh at-Tijani tidak tidur dan bukan bermimpi sebagaimana penjelasan lalu. Dan orang yang pertama kali diajari Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- adalah syaikh Ahmad at-Tijani, dan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menamainya syaikh thariqat ini. Dan setiap orang penyebar thariqat ini dan pengajar wirid-wiridnya dinamai “Muqaddam”, dan thariqat hanya mempunyai satu sumber dan satu syaikh, dan tidak diperbolehkan bagi thariqat mempunyai lebih dari satu sumber dan lebih dari satu syaikh sebagaimana hal ini tertera dalam kitab-kitab thariqat.

Dikutip dari : Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi.18, hal.2-14





3/24/2009

Taliban Kembali Menyerang Tempat Keramat di Afghanistan


KHOST (Arrahmah.com) - Sedikitnya lima orang tewas dan lima lainnya luka-luka dalam serangan bom tepi jalan dekat salah satu tempat yang dikeramatkan di provinsi Khost timur Afganistan, kata pejabat polisi.

Ledakan terjadi di Nangarhar, di pinggiran kota Khost, pada Sabtu (21/3) bersamaan dengan perayaan tahun baru Persia oleh warga Nowruz, kata Wazir Pacha, juru bicara polisi wilayah setempa.

Sebelumnya, pada Jumat (20/3), empat orang tentara Kanada yang merupakan personil Angkatan Perang Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) terbunuh dalam dua ledakan terpisah di Afganistan selatan.

Ribuan tentara Amerika Serikat akan segera bergabung dengan angkatan perang Inggris, Kanada dan Belanda sebagai usaha untuk membalas perlakuan Taliban dan menjaga keamanan di Afghanistan.

Sembilan orang polisi Afghan juga dibunuh serta seorang kepala polisi dalam peristiwa serupa dalam waktu yang hampir bersamaan akibat serangan Taliban di provinsi utara Jawzjan. (Althaf/arrahmah/alj)

Mujahidin Membom Kuburan Sufi Yang Dikeramatkan Warga


PESHAWAR (Arrahmah.com) - Sebuah bom meledak Kamis (5/3) di makam penyair Sufi abad ke-17 di barat laut Pakistan, semakin menegaskan garis pemisah antara Muslim 'garis keras' dan penduduk daerah itu yang memeluk Islam secara tradisional dan mistis.

Sebuah surat diantarkan tiga sebelum serangan pada pemelihara makam penyair Sufi Rehman Baba di pinggiran Peshawar yang isinya mengperingatkan agar tidak melanggengkan budaya keramat, ujar Sahibzada Mohammad Anees, seorang pejabat pemerintah kota tersebut.

Ledakan tersebut merusak salah satu sudut tempat keramat, tetapi tak seorang pun tercedera.

Banyak orang Pakistan yang bersembahyang di kuburan laki-laki yang dianggap mistis dan suci itu. Tentu saja praktek tersebut mengundang protes dari Mujahidin yang selalu berusaha menjaga kesucian Islam.

"Usaha untuk menghancurkan kuburannya (Rehman Baba) adalah perbuatan yang sangat keji," kata Shah Hussein, seorang pengunjung ke tempat keramat itu.

Puisi Baba dihiasi dengan ilmu tasawuf Islam atau Sufisme dan tetap populer di antara orang Pashtun barat laut Pakistan dan Afganistan. Seorang profesor di Universitas Peshawar mengatakan bahwa di rumah orang-orang Pashtun, puisi Baba disandingkan di samping kitab suci al-Quran.

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandinga-tandingan selain Allah; mereka sangat mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang menyembah kepada selain Allah itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." [QS al-Baqarah,2: 165]

7/15/2008

KESESATAN MENYEMBAH KUBUR KAUM SUFI




INILAH SALAH SATU BENTUK KESYIRIKAN TERBESAR KAUM SUFI, YAITU BERDOA PADA ORANG YANG SUDAH MATI UNTUK DISAMPAIKAN HAJADNYA DENGAN CARA SYIRIK LAGI BID'AH.




Sufiyyah berdo’a kepada selain Allah yaitu kepada Nabi, para Wali yang hidup dan yang telah mati.


Mereka mengucapkan : “Yaa Jailani!, Yaa Rifa’i!, dan Yaa Rasulullah!”, sebagai tujuan istighatsah dan memohon pertolongan atau dengan ucapan, “Yaa Rasulullah! Engkaulah tempat bersandar.”

Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika engkau berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zhalim(musyrik).”(Yunus :106)

Rasulullah SAW telah bersabda :
“Doa itu adalah ibadah.” (HR Tirmidzi dengan sanad hasan shahih)
Maka do’a itu adalah ibadah seperti halnya shalat yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, sekalipun kepada Rasul dan para Nabi. Karena hal itu termasuk perbuatan syirik besar yang dapat menghapus amal baiknya di dunia dan menjadikan pelakunya kekal dineraka (kafir).

Demikian pula yang kita lihat dikitab-kitab rujukan mereka yang mereka memuji para syaikh mereka pada tingkat pujian yang sampai kepada perbuatan syirik. Namun sayangnya syair-syair dalam bahasa arab yang biasa mereka bacakan dari kitab-kitab tersebut tidak dipahami oleh kaum muslimin pada umumnya karena keterbatasan mereka untuk memahami bahasa arab dan jauhnya mereka dari ulama ahlus sunnah, sehingga merekapun tertipu olehnya.



HUKUM MENZIARAHI KUBURAN GURU TAREKAT SUFI DAN MEMPERSEMBAHKAN KURBAN


Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Di Sudan, ada seorang guru yang banyak pengikutnya, para pengikutnya itu melakukan berbagai cara untuk mengabdi kepadanya, menaatinya dan mengunjunginya dengan berbekal keyakinan bahwa sang guru itu termasuk wali-wali Allah. Mereka mempelajari Tarekat Sufi Samaniyah darinya. Di sana terdapat kubah besar milik orang tua sang guru, dengan kubah itu para pengikutnya memohon berkah, mempersembahkan apa-apa yang dianggap berharga oleh mereka sebagai nadzar. Itu mereka lakukan sambil berdzikir disertai dengan menabuh piring dan genderang. Pada tahun ini, guru mereka memerintahkan untuk menziarahi kuburan guru lainnya, lalu para pengikutnya itu pun berangkat, laki-laki maupun perempuan dengan menggunakan ratusan mobil. Apa arahan Syaikh untuk mereka?

Jawaban
Ini kemungkaran dan kejahatan besar, karena pergi untuk menziarahi kuburan adalah suatu kemungkaran, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

"Artinya : Janganlah kalian mengusahakan perjalanan berat kecuali kepada tiga masjid; Masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha."[1]

Lagi pula, mendekatkan diri kepada para penghuni kuburan dengan nadzar, sembelihan, shalawat, do'a dan memohon pertolongan kepada mereka, semua ini merupakan perbuatan syirik, mempersekutukan Allah. Seorang muslim tidak boleh berdoa kepada penghuni kuburan, walaupun penghuni kuburan itu seorang yang mulia seperti para rasul tidak boleh meminta pertolongan kepada mereka, seperti halnya tidak boleh meminta pertolongan kepada berhala, pepohonan dan bintang-bintang. Adapun permainan piring dan genderang yang mereka maksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , ini merupakan bid'ah yang mungkar. Banyak golongan sufi yang beribadah dengan cara demikian, semua ini mungkar dan bid'ah, tidak termasuk yang disyari'atkan Allah, sebab menabuh piring yang disyari'atkan hanya dikhususkan bagi wanita dalam acara perayaan pernikahan untuk mengumumkan pernikahan agar diketahui masyarakat bahwa itu adalah pernikahan, bukan perzinahan.

Selain itu, yang termasuk bid'ah dan sarana-sarana kesyirikan adalah membuat bangunan dan mendirikan masjid di atas kuburan, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang memagari kuburan, membuat bangunan di atasnya dan duduk-duduk di atasnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya, dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memagari kuburan, duduk-duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya."[2] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Artinya : Allah melaknat kaum Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai masjid-masjid."[3]

Maka seharusnya kuburan itu tidak ada bangunannya (tidak ditembok), dan tidak boleh meminta berkah pada kuburan atau mengusap-usapnya, serta tidak boleh berdoa dan meminta pertolongan kepada penghuninya, tidak boleh juga mempersembahkan nadzar atau sembelihan untuk mereka. Semua ini termasuk perbuatan jahiliyah.

Kaum muslimin hendaknya mewaspadai ini, dan para ahli ilmu hendaknya menasehati sang guru tersebut, memberitahunya bahwa perbuatan ini batil dan mungkar, dan bahwa menganjurkan manusia untuk memohon pertolongan kepada orang-orang yang sudah mati dan berdoa kepada mereka di samping Allah adalah merupakan perbuatan syirik akbar. Na 'udzu billah. Hendaknya kaum muslimin tidak mengikutinya dan tidak terpedaya olehnya, karena ibadah itu hak Allah semata, hanya Allah yang pantas diseru dan diharap. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

"Artinya : Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." [Al-Jin :18]

Dalam ayat lainnya disebutkan,

"Artinya : Dan barangsiapa menyembah ilah yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. " [Al-Mukminun : 117]

Allah menyebut mereka kafir karena mereka menyeru selain Allah, yaitu karena mereka menyeru jin, malaikat, para penghuni kuburan (orang-orang yang telah mati), bintang-bintang dan berhala-berhala. Jika menyeru itu di samping Allah, berarti syirik akbar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

"Artinya : Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." [Yunus : 106]

Yakni orang-orang musyrik (yang mempersekutukan Allah (berbuat syirik). Kepada siapa saja yang mampu mengingkari kemungkaran ini hendaknya turut serta mengingkarinya, kemudian kepada pemerintahnya, jika itu pemerintah Islam, hendaknya melarang hal ini dan mengajarkan kepada masyarakatnya apa-apa yang telah disyari'atkan dan diwajibkan Allah atas mereka dalam urusan agama sehingga kesyirikan ini bisa dihilangkan.

[Majalah Al-Buhuts, edisi 39, hal. 143-145, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syariyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. HR. Al-Bukhari dalam Fadlush-Shalah (1197). Muslim dalam Al-Hajj (1397).
[2]. HR. Muslim dalam Al-Jana’iz (970).
[3]. HR. Al-Bukhari dalam Al-Jana’iz (1330). Muslim dalam Al-Masajid (529).



7/08/2008

KESESATAN SUFI DALAM BERDZIKIR



APAKAH PANTAS BERZIKIR KEPADA ALLAH SEPERTI ORANG GILA
ATAU KERASUKAN SETAN ?

APAKAH DIAJARKAN DZIKIR MODEL SUFI SEPERTI DIATAS ?
1. Aliran Sufi suka bermain musik yang mereka namakan dengan gambus
dalam dzikir


Ini sesungguhnya adalah seruling-seruling syaithan. Sungguh Abu Bakar
Ash-Shidiq ra. pernah masuk dirumah Aisyah ra. dan disana ada dua anak
perempuan kecil yang sedang bermain rebana, maka berkata Abu Bakar ra.
: Ini adalah seruling-seruling syaithan, ini adalah seruling syaithan.
Maka Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar ra. : Biarkan mereka
wahai Abu Bakar! Karena keduanya sedang merayakan hari raya. (HR.
Bukhari
dengan lafadz yang berbeda)

Darti hadits diatas Rasulullah SAW mengakui perkataan Abu Bakar ra.
tanpa membantahnya (menyebut seruling syaithan) tetapi hanya karena
pada saat itu sedang hari raya dan pelakunya adalah anak perempuan
kecil maka dibolehkan.

Dan tidak ada dalil bahwa para sahabat dan tabiin, mereka itu bermain
rebana (gambus) dalam berdzikir. Bahkan ini adaah perbuatan bidah yang
dibuat oleh orang-orang sufi yang semua ini telah diperingatkan oleh
Rasulullah SAW dengan sabdanya:
Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas perintah
kami, maka tertolak. (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Aliran Sufi membolehkan menari, bermain musik dan mengeraskan suara
ketika berzikir

Kita dapat menyaksikan pengikut aliran sufi itu berdzikir dengan
lafadz Allah saja dan pada akhirnya berdzikir dengan lafadz Hu (Dia)
saja.
Padahal Rasulullah SAW bersabda :
"Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah (HR. Tirmidzi
dengan sanad hasan shahih). Jadi, tidak dengan Allah dan Hu saja.

Di dalam berdzikir mereka mengangkat suaranya dengan keras dan
bersamaan (koor/berjama'ah),
Padahal berdo'a seperti itu terlarang berdasarkan firman Allah SWT :
"Berdo'alah kepada Tuhan-mu dengan merendahkan diri dan suara yang
lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas." (Al-A'raaf : 55)
Maksudnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan dalam berdo'a
dengan terlalu cepat dan dengan suara yang keras. (lihat tafsir
Jalalain Imam Suyuthi).

Rasulullah SAW pernah mendengar para shahabat meninggikan suaranya
dalam berdzikir, maka Beliau SAW bersabda kepada mereka :
"Wahai manusia ! rendahkanlah suaramu, sesungguhnya kalian tidak
menyeru kepada Dzat yang tuli dan tidak ada, tetapi kalian berdo'a
kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat dan Allah senantiasa
bersamamu." (HR. Muslim)
Allah bersamamu dengan Pendengaran dan Ilmu-Nya dan Allah Maha
Mendengar dan Maha Melihat.

3. Menggerak-gerakkan Tubuh ketika Dzikir
Ini termasuk menyerupai orang Yahudi ketika mereka membaca kitab mereka.
Berkata Ar-Ra’i Al-Andalusi rahimahullah: "Demikian pula penduduk Mesir
telah menyerupai Yahudi dalam bergerak-gerak di saat belajar dan sibuk.
Dan ini termasuk perbuatan orang Yahudi.”
Berkata Bakr Abu Zaid: "Wajib atas orang-orang yang berdzikir kepada
Allah, yang bertawajjuh dengan doa kepada Allah, para penghafal kitab
Allah, yang membuat madrasah-madrasah dan halaqah tahfidz Al Qur’an
agar meninggalkan bid’ah bergerak-gerak ketika membaca. Dan hendaklah
mendidik anak-anak kaum muslimin di atas sunnah dan menjauhi bid’ah."
(Tash-hih Ad-Du’a, hal. 80-81)
Demikianlah yang kita lihat dijaman kita ini, dimana orang berdzikir
dengan cara koor (bersama-sama) dan mengeraskan suaranya, bahkan
menggunakan pengeras suara dicorong-corong speaker masjid.

4. Mereka suka menyertai ibadah mereka dengan Siulan dan Tepuk Tangan

Padahal siulan dan bertepuk tangan itu merupakan adat bagi kaum
musyrikin dan ibadahnya mereka. Allah SWT berfirman :
Maka shalat mereka (kaum musyrikin) disekitar Baitullah itu tidak lain
hanyalah siulan dan tepuk tangan. (Al-Anfaal : 35)
Al-Mukaa pada ayat ini adalah siulan dan At-Tashdiyah adalah tepuk
tangan.

1/31/2008

Kesesatan Tasawuf Sufi

Hakekat Tasawuf

Aliran Tasawwuf / Sufi begitu suburnya tumbuh di Indonesia belakangan ini. Banyak orang yang tidak mengenal aliran ini dari sumbernya menjadikannya obat penawar didalam menghadapi permasalahan hidup yang ada. Alhamdulillah, para ulama kita telah menjelaskan kepada kita tentang siapa aliran Tasawwuf / sufi ini, tentunya didalam timbangan Al-Quran dan As-Sunnah.
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

1. Landasan Menilai benar tidaknya tasawuf

Kita wajib kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih untuk dapat mengetahui hakikat tasawwuf ini, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika engkau benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama bagi kamu dan lebih baik akibatnya.”(An-Nisaa’ :59)

Jadi, segala penyimpangan yang akan kita bicarakan tentang tasawwuf ini berdasarkan pertimbangan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW dengan pemahaman salafus shalih.

Rasulullah SAW bersabda :
Aku tinggalkan kepada kalian suatu perkara yang bila kalian berpegang teguh dengannya maka tidak akan menyesatkan kalian selamanya, (yaitu) Kitabulah dan Sunnahku.
(Hadits Shahih riwayat Imam Malik dalam Al-Muwatha (II/1899) dan Imam Hakim dalam Mustadrak I/93) secara bersambung dari Abu Hurairah r.a.)

Pada saya ada dua buku yang mengupas tentang sufi, yang ditulis oleh ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah untuk menerangi aliran ini agar kita kaum muslimin mengetahui siapa sebenarnya sufi/tasawuf itu, sesuaikah dia dengan tuntunan yang AL-Quran dan As-Sunnah ? simaklah ringkasan dari buku :
a. Aliran Sufi dengan timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Sufiyah fi Mizanil Kitab wa Sunnah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)
b. Menguak Dunia Tasawuf Tarekat Naqsyabandiyyah (An-Naqsyabandiyyah Ardhu wa Tahlilun, karya Syaikh Abdurrahman Dimasyqiyah)
Disini saya ringkaskan perkara-perkara yang saya anggap penting diketahui dan mudah dikenali dengan kondisi aliran sufi yang ada di Indonesia ini. Namun kesesatan aliran ini sesungguhnya melebihi dari apa yang saya sampaikan. Untuk lebih lengkapnya silahkan merujuk kepada dua kitab diatas atau kitab lainnya yang ditulis para ulama yang mumpuni dibidang ilmu.

2. Awal munculnya tasawuf / sufi

Pada jaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Islam tidak mengenal aliran tasawwuf, juga pada masa shahabat dan tabi’in (yaitu generasi setelah shahabat yang mereka itu menuntut ilmu dari para shahabat). Kemudian datang setelah masa tabi’in suatu kaum yang mengaku zuhud yang berpakaian shuf (pakaian dari bulu domba), maka karena pakaian inilah mereka mendapat julukan sebagai nama bagi mereka yaitu Sufi dengan nama tarekatnya Tasawwuf. (Dari kitab Sufiyyah fi mizanil kitab wa sunnah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).

Adapun hanya sekedar pengakuan tanpa adanya dalil yang menerangkan ataupun dari berita-berita dusta yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya ra. adalah juga golongan tasawwuf maka cara berhujjah seperti ini tidaklah dapat diterima oleh orang yang berakal.

3. Aliran Sufiyyah mempunyai banyak tarekat (jalan)

Antara lain : Tijaniyyah, Qadariyyah, Naqsyabandiyyah, Syadzaliyyah, Rifa’iyyah dan lainnya yang semuanya mengaku diatas jalan yang benar dan menganggap jalan yang lain adalah batil/salah.
Padahal Islam telah melarang adanya perpecahan (membuat jalan baru), seperti firman Allah :
“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum :31-32)

4. Aliran sufi memeliki sifat fanatisme terhadap syaikh-syaikh mereka

Sekalipun mereka menyelisihi Allah dan Rasul-Nya. Padahal Allah SWT berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (Al-Hujurat : 1)

Dan rasulullah SAW bersabda :
Tidak ada ketaatan bagi seseorang dalam berbuat maksiat kepada Allah, ketaatan itu hanya dalam berbuat baik. (HR. Bukhari & Muslim)

Namun kebanyakan manusia sekarang ini mengambil apa saja yang dikatakan oleh gurunya tanpa mau memeriksa apakah perkataan gurunya itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau tidak. Dia menelan apa saja yang dikatakan oleh gurunya yang disangkanya gurunya bebas dari kesalahan, maka jika gurunya sesat maka sesat pulalah dia, padahal dia bertanggung jawab terhadap setiap amalan dirinya kelak di hadapan Allah SWT.

Demikianlah yang menimpa ummat-ummat terdahulu, mereka mengikuti saja apa yang dikatakan oleh para guru-guru mereka, tanpa menyesuaikannya dengan Kitab yang telah diturunkan kepada mereka.
Allah berfirman :
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa. Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At-Taubah : 31)

Saat Rasulullah SAW membaca ayat ini didepan para Shahabatnya, maka berkata seorang Shahabat yang bernama ‘Adiy bin Hatim ; “Sungguh kami tidak menyembah mereka.” Beliau SAW bertanya ;”Tidakkah mereka itu mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kamupun mengharamkannya ? dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah, lalu kamupun menghalalkannya ?”
Aku (‘Adiy)menjawab, “Ya”. Maka beliau bersabda;”Itulah bentuk penyembahan kepada mereka.”
(Hadits Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dengan sanad Hasan)

Jadi, orang-orang terdahulu tersesat karena mereka mengikuti secara membabi buta guru-guru mereka tanpa menghiraukan apakah yang diserukan oleh guru mereka itu sesuai dengan Kitabullah ataukah tidak, demikian pengalaman ‘Adiy bin Hatim saat belum memeluk Islam.

Persis seperti apa yang dialami oleh sufi tarekat naqsyabandiyyah :
Ia (Syaikh Naqsyaband) pernah diundang oleh sebagian sahabatnya di Bukhara. Ketika hendak menuju Maroko, ia berkata kepada Maula Najmuddin Dadark,
Apakah engkau akan melaksanakan semua yang aku perintahkan kepadamu ?
Ia menjawab : Ya.
Ia berkata :Jika aku memerintahkanmu untuk mencuri, apakah engkau akan melakukannya ?
Ia berkata :Tidak.
Ia berkata :Mengapa ?.
Ia menjawab :Karena hak-hak Allah itu bisa dihapus dengan taubat, sedangkan ini termasuk hak-hak hamba.
Ia berkata :Jika engkau tidak mau melaksanakan perintah kami maka jangan bersahabt dengan kami.
Maula Najmuddin sangat terkejut mendengar hal itu dan bumi yang luas telah terasa sempit olehnya. Dan ia kemudian menampakkan taubat dan penyesalannya serta berketetapan hati untuk tida melanggar perintahnya. Para hadirinpun menaruh rasa kasihan kepadanya dan mereka meminta syafaat dan maaf kepada Syaikh Naqsyaband untuknya. Ia pun memaafkannya. (AL-Mawahibus Sarmadiyyah, 138, Al-Anwarul Qudsiyyah, 140 dan Jamiu Karamatil Auliya, 1/ 150)

Tanggapan :
Ini adalah kebiasaan syaikh-syaikh tasawuf. Mereka biasa melatih murid-muridnya untuk taat buta sekalipun didalamnya terdapat perihal meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan memperingatkan mereka bila bersikap ingkar dan menyanggah. Mereka memiliki jargon yang terkenal : Jangan menyanggah, niscaya engkau akan tersisih.

Padahal Rasulullah SAW telah bersabda :
Tidak ada ketaatan dalam berbuat maksiat, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perbuatan maruf (baik). (HR. Muslim (1840), dan Bukhari 8/106 Kitabul Ahkam dan 8/135 bab Ijazati Khabaril Wahid)

Rasulullah SAW juga bersabda :
Wajib atas seorang muslim untuk patuh dan taat dalam hal-hal yang ia sukai dan hal-hal yang ia benci kecuali jika ia disuruh untuk melakukan maksiat, maka tidak ada kepatuhan dan ketaatan dalam hal itu. (HR. Muslim (1839) dan Al-Bukhari 8/106 Kitabul Ahkam)

5. Manaqib dan Keramat-keramat tokoh-tokoh sufi

Pengarang kitab Al-Mawahibus Sarmadiyyah Fi Manaqibis Sadatin Naqsyabandiyyah, Syaikh mereka Muhammad Amin Al-Kurdi meriwayatkan dari Syaikh Naqsyabandiyyah bahwasanya ia berkata : Aku bersahabat dengan Ad-Darwisy Khalil. Kemudian ia memerintahkanku untuk mengabdi kepada hewan-hewan. Hingga ketika dijalan aku bertemu dengan seekor anjing, lalu aku berhenti sampai anjing tersebutberlalu terlebih dahulu supaya aku tidak mendahuluinya. Aku terus melakukan hal yang demikian selama tujuh tahun. Kemudian setelah itu ia menyuruh aku untuk mengabdi kepada anjing-anjing milik paduka yang mulia ini dengan sikap jujur dan tunduk dan au meminta pertolongan dari mereka. Syaikhnya berkata : Sesungguhnya engkau akan sampai kepada seekor anjing diantara mereka (anjing-anjing itu) yang dengan mengabdi kepadanya engkau akan memperoleh kebahagiaan yang besar. Aku lalu memanfaatkan nikmat untuk mengabdi ini dan aku tida memperdulikan upaya yang keluar dengan melaksanakannya berdasarkan petunjuknya dan dalam rangka ingin mendapatkan kabar gembira yang dituturkannya. Hingga pada suatu saat aku bertemu dengan seekor anjing. Lalu dengan pertemuan tersebut terjadilah pada diriku suatu keadaan yang luar biasa. Akupun berhenti dihadapnnya dan aku menangis sejadi-jadinya. Pada saat itulah aku merebahkan diri diatas punggungnya dan iapun mengangkat kakinya yang empat kearah langit. Kemudian aku mendengar darinya suara sedih, keluhan dan rintihan. Lalu aku mengangkat kedua tanganku sebagai sikap tawadhu dan aku berkata : Amin hingga ia (anjing itu) diam dan kembali seperti semula.
Kemudian setelah itu ia menyebutkan bahwa ia juga pernah menemukan seekor bunglon. Lalu terbesit dihatinya untuk meminta syafaat darinya. Ia pun segera mengangkat kedua tangannya, lalu ia menjatuhkan dirinya diatas punggungnya dan menghadap kelangit seraya mengucapkan Amin.

Jawaban :
Subhanallah! Apakah pintu-pintu untuk memperoleh syafaat dan pertolongan telah tertutup dari dirinya hingga ia tidak mendapatkan keduanya kecuali dari diri seekor anjing dan bunglon ? Dan siapakah yang mengatakan bahwa anjing itu mengangkat keempat kakinya apabila hendak berdoa ? Jikalau ia meminta pertolongan dan syafaat dari seorang manusia niscaya hal itu tidak boleh, lalu bagaimana pula jika ia meminta keduanya kepada seekor anjing dan bunglon ?

6. Sekelumit Mengenai Keramat-keramat dan Perkataan-perkataan Para Syaikh Tarekat Sufi

Syaikh Muhammad Al-Mashum berkata :Aku melihat kabah yang dimuliakan merangkul dan menciumku dengan kerinduan yang mendalam. Tatkala aku selesai melaksanakan thawaf ziarah, datanglah kepadaku seorang malaikat membawa sebuah kitab tentang diterimanya haji yang au laksanakandari Rabb semesta alam. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 213, Jamiu Karamatil Auliya 1/204 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 196, semuanya kitab-kitab referensi tasawuf aliran Naqsyabandiyyah)

Dinukil darinya bahwa dia telah mampu mengucapkan tauhid, padahal ia beru berumur tiga tahun sehingga ia mengatakan :Akulah bumi, akulah langit. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 202 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 192)

Syaikh Ahmad Al-Furuqi berkata : Diperlihatkan kepadaku Kabah yang disucikan sedang melakukan thawaf diseputar diriku sebagai pemuliaan dan penghormatan dari Allah untuk diriku. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 184 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 182)

Ini adalah sekelumit tentang perkataan-perkataan para Syaikh tarekat sufi, dan masih begitu banyak hal yang senada seperti diatas dari ucapan-ucapan mereka yang didalamnya terdapat penyimpangan-penyimpangan terhadap syariat yang tidak tersembunyi atas seorang pembaca yang bersikap adil dan memiliki akal sehat.

Bahkan saya katakan bahwa hal ini pun telah terjadi dikantor kita, dimana beberapa orang pegawai pernah menceritakan kepada saya tentang perkataan seorang pegawai yang sangat menggeluti pemahaman sufi ini.
Disuatu waktu ia berkata bahwa, dikala ia sedang melaksanakan ibadah haji dan dia berdoa dihadapan kabah, maka dia melihat begitu banyak wanita-wanita yang cantik jelita sedang mengitarinya. Ia berkata bahwa mereka adalah para bidadari yang menampakkan diri pada dirinya.
Dalam kesempatan lain dia pernah berkata bahwadia pernah pergi ke langit ketujuh. Dan dia berkata kepada seorang pegawai kita bahwa apabila ingin melihat padang masyhar maka lakukanlah ini dan itu (ia menyebutkan beberapa amalan yang tidak ada diperintahkan didalam agama ini sebagai syarat untuk mencapai keinginan tersebut). Banyak lagi perkataan-perkataannya yang tidak sepantasnya diucapkan oleh orang yang berakal.

7. Memohon Pertolongan / Istighasah Kepada Para Syaikh Mereka

Diriwayatkan bahwa salah seorang murid Syaikh Muhammad Al-Mashum sedang mengendarai seekor kuda, laul kuda tersebut membuang kotorannya sehingga membuat sang murid terjatuh ke tanah dan kakinya tergantung di tempat pelana kuda. Kemudian kuda tersebut membawanya lari hingga ia berkeyakinan akan binasa. Lau ia meminta pertolongan kepada yang mulia al-qayyum (yaitu Syaikh Muhammad Al-Mashum-disifati dengan sifat yang hanya dimiliki Allah SWT). Sang murid berkata : Lalu aku melihat sang Syaikh datang sambil memberhentikan kuda tersebut serta menaikkanku keatasnya. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 210-213, Jamiu Karamatil Auliya 1/199-200 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 195-196)

Pada suatu hari datang banjir besar melanda desa Maulana Arif, lalu penduduknya takut tenggelam/hanyut. Mereka pun segera meminta pertolongan kepada Syaikh Muhammad Al-Mashum). Maka ia keluar dan duduk ditempat air bah, dan ia berkata kepada air itu :Sesungguhnya jika engkau memiliki kekuatan, maka bawalah aku. Kemudian banjir tersebut berhenti. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 107, Jamiu dan Al-Anwarul Qudsiyyah 125)

Padaha Alah berfirman :
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Alah ada tuhan (yang lain) ? (Al-Anam : 62)

8. Pengkultusan Kuburan Para Syaikh Mereka

Syaikh mereka AL-Kurdi di dalam kitab Tanwirul Qulub berkata : Sebagian Syaikh mengatakan bahwa Allah mewakilkan dalam kuburan wali seorang malaikat yang memenuhi hajat-hajat dan kadang-kadang wali tersebut keluar dari kuburnya dan ia sendiri yang memenuhi hajatnya. (Tanwirul Qulub 534)

Rasulullah SAW mengetahui bahaya tipu daya ini, lalu beliau memberitahukannya serta memperingatkan darinya sebelum menghadap Allah Yang Maha Tinggi (menjelang wafatnya beliau SAW). Adalah beliau setiap kali sadar dari sakaratul maut bersabda : Semoga Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani yang telah menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid . Aisyah ra. berkata :Jikalau tidak karena hal itu niscaya aku akan menampakkan kuburan beliau, tetapi aku takut bahwa ia akan dijadikan masjid. (HR. Bukhari 2/90 Kitabul Janaiz, Muslim (530), Amad 6/146, dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 1/415)

Masjid adalah tempat ibadahnya kaum muslimin, yang disana kita menegakkan shalat, berdoa kepada Allah dan melakukan ibadah-ibadah lainnya. Namun para pengikut sufi melakukan amalan-amalan yang layaknya dilakukan di masjid, mereka lakukan di kuburan-kuburan para syaikh mereka.

Dan dari Jundub bin Abdullah Al-Bajali ra. bahwasanya ia mendengar Nabi SAW bersabda sebelum wafatnya : Ingatlah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi dan orang-orang shaleh mereka sebagai masjid. Ingatlah! Maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid-masjid, karena sesungguhnya aku melarang kelian dari hal itu. (HR. Muslim (532) dalam Kitabul Masajid)

Demikian juga beliau SAW melarang mengapur/mengecat kuburan atau mendirikan bangunan atau duduk diatasnya. (HR. Muslim (970), At-Tirmidzi 2/155 dan ia menshahihkannya, Ahmad dalam Al-Musnad 3/339 dan AL-Baihaqi dalam AL-Musnad 142)

Syaikh mereka AL-Kurdi berkata : Ketika Syaikh Naqsyaband meningga dunia, para pengikutnya membangun suatu kubah yang besar diatas kuburannya dan mereka menjadikannya sebagai masjid yang luas. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 142)

Pengarang kitab Al-Anwirul Qudsiyyah menambahkan terhadap perihal kuburan itu hal berikut ini : Ia masih tetap seperti itu hingga zaman kita ini; Dirinya dimintai pertolongan, debu tanahnya dijadikan celak dan pintu-pintunya dijadikan tempat berlindung. (Al-Anwirul Qudsiyyah 142)

Bantahan :
Berkata Syaikh Abdurrahman Dimasyqiyyah : Demi Allah, tunjukkan kepadaku, manakah perihal mengikuti syariat, mencocoki As-Sunnah dan jalan para sahabat yang mulia seperti yang mereka akui ? Adakah jalan mereka itu mencium kuburan, berguling-guling diatasnya dan meminta pertolongan kepadanya, ataukah bau pemujaan berhala telah berhembus dan bertiup anginnya di kelompok yang para pengakutnya mengaku sangat antusias untuk mengambil ibadah-ibadah mereka dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulul-Nya ?

Begitu pula pegawai dikantor kita yang kita maksud sebelumnya. Disaat dia mengetahui saya adalah orang Aceh dan berdomisili di banda Aceh, yang dia tanyakan terlebih dahulu adalah pernahkah saya pergi ke kuburan Syah Kuala ? Dan ternyata Beliau sudah beberapa kali pergi kesana, entah apa yang dia lakukan.
Sungguh saya pernah melihat kuburan tersebut dan mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Kuburan tersebut berukuran cukup besar dengan diberi batu di kaki dan kepalanya dengan batu yang besar dan tinggi serta dibatu tersebut dibentangkan kain putih diatasnya. Dan dikuburan tersebut dididrikan bangunan sehingga terlindung dari terik panas matahari dan basahan hujan. Inilah ciri-ciri kuburan yang diagungkan yang telah dilarang oleh Rasulullah SAW.

9. Sikap berlebih-lebihan dalam memuji para syaikh tarekat sufi

Yasin As-Sanhuti didaam kitabnya Al-Anwar bercerita tentang Ubaidullah Ahrar : Adapun perihal penyingkapannya terhadap perkara-perkara yang ghaib dan pemberitahuannya tentang hal-hal yang tersembunyi. Maka hal itu tidak terbatas atau terhitung. Demikian juga ia mensifati Yaqub Al-Jarkhi bahwa ia merupakan Pewaris Ilmu Ghaib.

Petakanlah dengan kondisi di Indonesia dari beberapa point diatas, disaat sekarang banyak orang yang memuji, menyanjung dan bahkan siap mati untuk seseorang yang orang tersebut sangat dimuliakan tanpa mempertimbangkannya dengan ilmu syariat yang shahih. Dan lihat pula di negeri kita ini ada tokoh yang dianggap dapat mengetahui suatu perkara yang akan terjadi, dan mudah mengetahui siapa pelaku dari suatu peristiwa, tidak lain hal ini adalah seperti orang yang mengetahui hal-hal yang ghaib. Ambillah pelajaran ini agar kita tida terjebak dalam kesesatan.

10. Membenci Ilmu dan Malas Menuntut Ilmu

Abu Yazid Al-Busthomi berkata seraya mengajak bicara Ahlul Hadits : Kalian telah mengambil ilmu kalian dari orang mati melalui orang mati, sedangkan kami mengambil ilmu kami dari Dzat Yang Maha Hidup Yang tidak akan mati. (Thabaqatusy Syarani 1/5, Al-Futuhatul Makkiyyah 1/365, Talbisu Iblis 344, 322, A-Mawahibus Sarmadiyyah 49 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 99)

Al-Qusyairi telah meriwayatkan perkataan Abu Bakar Al-Warraq : Penyakit yang bisa merusak seorang murid ada tiga : menikah, mencatat/menulis hadits dan kitab-kitab. (Ar-Risalatul Qusyairiyyah 92)

Sulaiman Ad-Daroni (ia adalah seorang tokoh besar kaum sufi) berkata : Apabila seseorang mencari/mempelajari hadits atau bepergian untuk mencari rezeki dan menikah, maka berarti ia telah cenderung kepada dunia. (Al-Futuhatul Makkiyyah 1/37)

Mereka tidak butuh lagi dengan As-Sunnah, padahal Allah SWT berfirman :Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Lalu bagaimana bisa mentaati Allah dan rasul-Nya jika ia tidak mengetahui perintah-perintah dan larangan-larangan yang tersebut dalam As-Sunnah, apalagi yang tersebut dalam Al-Quran , sebab didalam As-Sunnah terdapat hal-hal yang tidak terdapat dalam Al-Quran.

11. Aliran sufi menyeru untuk zuhud kepada dunia dan meninggalkan sebab-sebab (kerja) serta meninggalkan jihad

Padahal Allah SWT berfirman :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kenikmatan) di negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu (dari kenikmatan ) di dunia.” (Al-Qashash : 72)
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu miliki.” (Al-Anfal : 59)

Hal seperti ini telah dialami oleh Ustadz Abdurrahman Mubarak ketika ikut bergabung dengan mujahidin di Maluku. Disana para mujahidin biasa melakukan ribath, yakni berjaga-jaga di daerah perbatasan untuk mengantisipasi sedini mungkin bila terjadi penyerangan dari pihak Nasrani. Akan tetapi ada sekelompok orang dari kalangan Firqah Tabligh (yang mereka itu adalah kelompok yang berpemahaman sufi) berkata kepada orang-orang yang mengamalkan suatu amalan yang sangat agung seperti yang diberitakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits yang shahih (yakni ribath) dengan perkataan :Wahai fulan kemarilah bergabung bersama kami di masjid Allah untuk dzikrullah, bertawakkal-lah kepada Alah dari serangan mereka. Perkataan mereka ini tidak lain karena kebodohan mereka terhadap agama ini. Sesungguhnya Allah menyuruh kita untuk ikhtiar (berusaha) kemudian barulah bertawakkal kepada Allah seperti apa yang difirmankan oleh Allah SWT diatas, tidak seperti mereka kalangan firqah tabligh.

12. Sebagian aliran Sufi meyakini adanya wihdatul wujud (menyatunya hamba kepada Allah)

Sehingga tidak berbeda antara pencipta dan makhluk dan semua makhluk bisa menjadi sesembahan. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Arabi (tokoh sufi) yang dikubur di Damsyiq, dia mengatakan :
Hamba ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Wahai siapa yang dibebani (ibadah) ?
Jika saya katakan saya adalah hamba itu betul.
Dan jika saya katakan saya adalah Tuhan, maka bagaimana akan dibebani ?
(Al-Futtuhat al Makiyyah, Ibnu Arabi)

Ini adalah kesyirikan yang Akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Bagaimana seorang manusia mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, yang berikutnya ia mengatakan bahwa ia terbebas dari kewajiban ibadah (karena ia sudah berkedudukan sebagai Tuhan ) ?

13. Sufiyyah berdo’a kepada selain Allah yaitu kepada Nabi, para Wali yang hidup dan yang telah mati.

Mereka mengucapkan : “Yaa Jailani!, Yaa Rifa’i!, dan Yaa Rasulullah!”, sebagai tujuan istighatsah dan memohon pertolongan atau dengan ucapan, “Yaa Rasulullah! Engkaulah tempat bersandar.”

Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika engkau berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zhalim(musyrik).”(Yunus :106)

Rasulullah SAW telah bersabda :
“Doa itu adalah ibadah.” (HR Tirmidzi dengan sanad hasan shahih)
Maka do’a itu adalah ibadah seperti halnya shalat yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, sekalipun kepada Rasul dan para Nabi. Karena hal itu termasuk perbuatan syirik besar yang dapat menghapus amal baiknya di dunia dan menjadikan pelakunya kekal dineraka (kafir).

Demikian pula yang kita lihat dikitab-kitab rujukan mereka yang mereka memuji para syaikh mereka pada tingkat pujian yang sampai kepada perbuatan syirik. Namun sayangnya syair-syair dalam bahasa arab yang biasa mereka bacakan dari kitab-kitab tersebut tidak dipahami oleh kaum muslimin pada umumnya karena keterbatasan mereka untuk memahami bahasa arab dan jauhnya mereka dari ulama ahlus sunnah, sehingga merekapun tertipu olehnya.

14. Aliran Sufi memberikan kedudukan ihsan kepada Syaikh-Syaikh mereka

Dan meminta kepada pengikut-pengikutnya untuk menggambarkan (membayangkan) syaikh-syaikh mereka itu ketika berdzikir kepada Allah, bahkan dalam shalat mereka sekalipun. Aku (Syaikh Jamil Zainu) pernah melihat seorang dari mereka meletakkan gambar syaikhnya dihadapannya ketika shalat.

Sedangkan Rasulullah SAW bersabda :
“Al-Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihat-Mu.” (HR. Muslim)

15. Aliran Sufi mengatakan bahwa beribadah kepada Allah itu jangan takut neraka-Nya atau mengharap surga-Nya

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Rabi’ah al-‘Adawiyyah (salah seorang tokoh sufi wanita, yang pekerjaannya adalah sebagai biduwanita):
“Ya Allah ! Jika aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka-Mu maka tenggelamkanlah aku didalamnya,
Dan jika aku beribadah kepada-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku darinya.”
(Dan perkataan ini pernah diucapkan oleh presenter pada saat kita melakukan Team Building di Cibubur)

Dan saya juga pernah mendengar pengikut aliran sufi menyanyikan perkataan Abdul Ghani an-Nabilisy :
“Barangsiapa beribadah karena takut neraka Allah, berarti dia penyembah api.
Dan barangsiapa yang beribadah karena menginginkan surga berarti dia penyembah berhala.”

Sementara Allah SWT memuji para Nabi yang mereka itu berdo’a untuk mendapatkan surga Allah dan takut dengan neraka-Nya. Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya mereka adalah orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas.” (Al-Ambiyaa’:90)
Maksudnya, mereka sangat berharap dengan surga Allah dan takut pada siksa (neraka) Allah. Allah menerangkan kepada Rasul-Nya :
“Katakanlah : Sesungguhnya aku takut akan azab yang besar (hari kiamat) jika kamu mendurhakai Tuhan-ku.” (Al-An’am : 15)

Rasulullah SAW saja, yang orang paling bertaqwa dibawah kolong langit ini pun dalam keadaan takut akan adzab Allah. Begitupula Beliau SAW sering berdoa diakhir shalatnya : Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari siksa kubur, dan dari siksa jahannam…. (HR. Bukhari & Muslim)

16. Aliran Sufi suka bermain musik yang mereka namakan dengan gambus dalam dzikir

Ini sesungguhnya adalah seruling-seruling syaithan. Sungguh Abu Bakar Ash-Shidiq ra. pernah masuk dirumah Aisyah ra. dan disana ada dua anak perempuan kecil yang sedang bermain rebana, maka berkata Abu Bakar ra. : Ini adalah seruling-seruling syaithan, ini adalah seruling syaithan. Maka Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar ra. : Biarkan mereka wahai Abu Bakar! Karena keduanya sedang merayakan hari raya. (HR. Bukhari dengan lafadz yang berbeda)

Darti hadits diatas Rasulullah SAW mengakui perkataan Abu Bakar ra. tanpa membantahnya (menyebut seruling syaithan) tetapi hanya karena pada saat itu sedang hari raya dan pelakunya adalah anak perempuan kecil maka dibolehkan.

Dan tidak ada dalil bahwa para sahabat dan tabiin, mereka itu bermain rebana (gambus) dalam berdzikir. Bahkan ini adaah perbuatan bidah yang dibuat oleh orang-orang sufi yang semua ini telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya:
Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas perintah kami, maka tertolak. (HR. Bukhari dan Muslim).

17. Aliran Sufi membolehkan menari, bermain musik dan mengeraskan suara ketika berzikir

Kita dapat menyaksikan pengikut aliran sufi itu berdzikir dengan lafadz Allah saja dan pada akhirnya berdzikir dengan lafadz Hu (Dia) saja.
Padahal Rasulullah SAW bersabda :
“Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan shahih). Jadi, tidak dengan Allah dan Hu saja.

Di dalam berdzikir mereka mengangkat suaranya dengan keras dan bersamaan (koor/berjama’ah),
Padahal berdo’a seperti itu terlarang berdasarkan firman Allah SWT :
“Berdo’alah kepada Tuhan-mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf : 55)
Maksudnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan dalam berdo’a dengan terlalu cepat dan dengan suara yang keras. (lihat tafsir Jalalain Imam Suyuthi).

Rasulullah SAW pernah mendengar para shahabat meninggikan suaranya dalam berdzikir, maka Beliau SAW bersabda kepada mereka :
“Wahai manusia ! rendahkanlah suaramu, sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan tidak ada, tetapi kalian berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat dan Allah senantiasa bersamamu.” (HR. Muslim)
Allah bersamamu dengan Pendengaran dan Ilmu-Nya dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Demikianlah yang kita lihat dijaman kita ini, dimana orang berdzikir dengan cara koor (bersama-sama) dan mengeraskan suaranya, bahkan menggunakan pengeras suara dicorong-corong speaker masjid.

18. Aliran Sufi mengaku mempunyai ilmu kasyaf (tersingkapnya segala rahasia-pent.) dan mengetahui yang ghaib

Ini adalah kedustaan yang telah dibantah oleh Allah SWT dengan firman-Nya :
Katakanlah : tidak ada seorangpun dilangit dan dibumi yang mengatahui perkara yang ghaib kecuali Allah. (An-Naml : 65)

Rasulullah SAW bersabda :
Tidak ada yang mengetahui perkara yang ghaib selain Allah. (HR. Thabrani dengan sanad Hasan)

19. Mereka suka menyertai ibadah mereka dengan Siulan dan Tepuk Tangan

Padahal siulan dan bertepuk tangan itu merupakan adat bagi kaum musyrikin dan ibadahnya mereka. Allah SWT berfirman :
Maka shalat mereka (kaum musyrikin) disekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. (Al-Anfaal : 35)
Al-Mukaa pada ayat ini adalah siulan dan At-Tashdiyah adalah tepuk tangan.

20. Aliran sufi beranggapan bahwa manusia bisa melihat Allah di dunia

Namun Al-Quran mendustakannya lewat lisan Nabi Musa as.:
…Berkata Musa : Ya Tuhanku ! Tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar dapat melihat kepada-Mu. Dia berkat : Engkau tidak akan dapat melihat-Ku (didunia). (Al-Araaf : 143)
Al-Ghazali (seorang tokoh sufi) telah menyebutkan daam kitabnya Ihya Ulumuddin (kitab terkenalnya) dalam bab Hikayatul Muhibbin wa Mukasyafatuhum,Pada suatu hari berkata Abu Turab :Coba sekiranya engkau melihat Abu Yazid, maka berkatalah temannya :Sesungguhnya aku tida butuh itu, sungguh au telah melihat Allah Taala sehingga mencukupi bagiku daripada melihat Abu Yazid. Berkata Abu Turab :Celakalah kamu ! Kamu telah tertipu dengan melihat Allah ! Sekiranya kamu melihat Abu Yazid (Al-Busthomi, tokoh sufi-pent.) sekali saja, itu lebih bermanfaat bagi kamu daripada melihat Allah 70 kali.
Kemudian berkata Al-Ghazali :Maka hendaknya orang mukmin tida mengingkari mukasyafah seoperti ini.
Saya (Syaikh Jamil Zainu) berkata :Bahkan wajib atas kaum mukminin untuk mengingkarinya karena ini adalah kedustaan dan kekufuran, menyelisihi Al-Quran, Hadits dan akal.

21. Aliran Sufi meyakini bahwa mereka itu mengambil ilmu dari Allah SWT secara langsung tanpa perantara Rasulullah SAW

Seperti apa yang dikatakan Ibnu Arabi (seorang tokoh besar sufi yang dikubur di Damaskus) dalam kitabnya Al-Fushush :Maa diantara kita ada khalifah dari Rasulullah yang mengambil hukum dari beliau SAW atau dari ijtihad yangtelah dikatakan oleh beliau SAW, dan diantara kami ada orang yang mengambil hukum langsung dari Allah maka ia adalah khalifah Allah !

Saya (Syaikh Jamil Zainu) katakan :Ini adalah ucapan yang batil, menyelisihi Al-Quran yang mengandung dalil bahwa Allah SWT mengutus Nabi SAW untuk menyampaikan Islam / Risalah kepada ummat manusia. Allah SWT berfirman :
Hai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Allah kepadamu dari Tuhanmu. (Al-Maidah : 67)

Tidak mungkin seseorang mengambil ilmu langsung dari Allah SWT, itu kedustaan yang dibuat-buat.

22. Aliran sufi sering bepergian / ziarah ke kuburan-kuburan untuk memohon berkah dari penghuninya, thawaf atau berkurban kepadanya.

Kontributor: Abu Abdirrahman Uli
dikutip dari: www.perpustakaan-islam.com